- Menkeu Purbaya menilai proyeksi Moody's tidak sejalan dengan data ekonomi Indonesia terbaru mengenai pertumbuhan dan stabilitas.
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia Q4 2025 mencapai 5,39 persen, tertinggi pasca pandemi, dan pemerintah targetkan mendekati enam persen.
- Moody's mempertahankan peringkat Baa2 namun mengubah outlook menjadi negatif, menekankan pentingnya prediktabilitas kebijakan pemerintah.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali mengomentari proyeksi ekonomi Indonesia yang dikeluarkan lembaga pemeringkat Moody's Investors Service beberapa waktu lalu.
Menkeu Purbaya menilai kalau rating Moody's terhadap Indonesia tidak sejalan dengan data perekonomian terbaru.
"Ada yang offside kelihatannya," kata Purbaya, dikutip dari Antara, Jumat (13/2/2026).
Bendahara Negara mengungkapkan kalau sejumlah indikator perekonomian justru menunjukkan penguatan, mulai dari sisi pertumbuhan maupun stabilitas sosial dan politik.
Di segi pertumbuhan misalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,39 persen di triwulan keempat (Q4) 2025. Ini dianggapnya paling tinggi dalam lima tahun terakhir usai pandemi Covid-19.
Sedangkan untuk tahunan, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 5,11 persen. Purbaya menganggap kalau itu juga termasuk tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara G20.
Purbaya melanjutkan, Pemerintah bakal mengakselerasi stimulus ekonomi pada triwulan pertama (Q1) 2026 dengan belanja dan perbaikan iklim investasi demi mendorong dunia usaha.
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pertumbuhan ekonomi tahun ini ditargetkan 5,4 persen, namun pemerintah berupaya mendorong realisasi mendekati 6 persen.
“Jadi, ekspansi ekonomi akan berlangsung terus sampai nanti 2030-2031. Anda enggak usah takut. Kalau investor di pasar modal atau dunia bisnis, cepat-cepat jalankan rencana investasi Anda,” jelasnya.
Baca Juga: Optimalisasi Struktur Keuangan, Bank Mandiri Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Pemerintah
Sekadar informasi, Moody’s mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade, dengan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif.
Dalam laporannya, Moody’s menyampaikan pentingnya menjaga prediktabilitas pengambilan kebijakan, komunikasi publik, dan kualitas koordinasi antar kementerian/lembaga di tengah perubahan kebijakan dan tata kelola pengelolaan perekonomian yang sedang berjalan.
Moody's juga menyoroti pentingnya memperkuat basis penerimaan negara untuk mendukung belanja-belanja prioritas dan menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Berita Terkait
-
Optimalisasi Struktur Keuangan, Bank Mandiri Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Pemerintah
-
Temui MSCI 2 Jam, Luhut Paparkan Strategi Benahi Pasar Saham dan Sistem AI BEI
-
Luhut Ikut Buka Suara soal Tambang Emas Martabe: Tak Ada Tekanan dari Luar!
-
Purbaya Minta Publik Tak Banyak Protes MBG, Klaim Dibutuhkan Masyarakat
-
Anak Buah Menkeu Purbaya Hijrah ke Danantara
Terpopuler
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
- 3 Sepatu Lari Skechers Terbaik untuk Pemula dan Pelari Harian
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Serbu Promo Superindo Weekend, Ada Beli 1 Gratis 1 Minyak Goreng sampai Produk Bayi
-
Harga Minyak Terus Naik, DEN: Pembatasan BBM Akan Berdasarkan CC dan Jenis Kendaraan
-
Pasar Properti Ditopang Rumah Kecil dan Menengah
-
Dari Piutang hingga Tata Kelola, Ini PR Besar Perusahaan Sebelum IPO
-
Tarif Listrik Tak Naik sejak 2022, Kok Tagihan Bisa Membengkak?
-
QRIS Masuk Sektor Logistik, UMKM Agen Paket Ikut Kecipratan Manfaat
-
India Akhirnya Naikkan Harga BBM Setelah 4 Tahun Bertahan
-
Begini Ramalan Nilai Tukar Rupiah dalam Waktu Dekat, Bisa Tembus Rp 20.000?
-
Pemerintah Klaim Potensi Resesi RI Lebih Rendah dari AS, Jepang, dan Kanada
-
Bukan Belanja Pemerintah, Purbaya Klaim Konsumsi Rumah Tangga Dorong Ekonomi Tumbuh 5,61%