- PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) berpeluang masuk indeks MSCI Small Cap pada Februari 2026 karena likuiditas dan kapitalisasi pasar terpenuhi.
- Kenaikan harga saham BUVA 176% sejak November dipicu aksi *rights issue* dan pengembangan lahan properti di Bali serta Labuan Bajo.
- MSCI mengumumkan hasil peninjauan indeks pada 10 Februari 2026, dengan risiko investasi terkait pariwisata dan penyelesaian proyek.
Suara.com - Emiten properti dan perhotelan mewah milik pengusaha Happy Hapsoro, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), tengah menjadi sorotan tajam para pelaku pasar.
Emiten ini dinilai memiliki peluang emas untuk masuk dalam jajaran indeks bergengsi, MSCI Small Cap, pada periode tinjauan Februari 2026.
Seiring dengan kabar positif tersebut, harga saham BUVA diproyeksikan masih memiliki ruang penguatan hingga 76% dari posisi saat ini.
Pada pembukaan pasar Sesi 2 IHSG hari ini, BUVA berada di Rp1.635, menguat 2,5% jika dibandingkan pembukaan pasar pada sesi awal.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Ahnaf Yassar, mengungkapkan bahwa momentum kenaikan harga saham BUVA yang mencapai 176% sejak November lalu menjadi fondasi kuat bagi inklusi indeks global tersebut.
Akselerasi harga ini salah satunya dipicu oleh aksi korporasi strategis berupa penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue).
Rights Issue Masif dan Kriteria MSCI
BUVA berencana kembali melakukan rights issue dengan menerbitkan hingga 50 miliar saham baru. Langkah ini diprediksi akan semakin memperbesar bobot perusahaan di mata investor internasional.
Berdasarkan riset yang dirilis pada Selasa (27/1/2026), berikut adalah beberapa poin teknis yang mendukung BUVA masuk ke indeks MSCI Small Cap:
Baca Juga: Daftar Saham Potensi Indeks MSCI Februari 2026, Ada BUMI Sampai BUVA
- Kapitalisasi Pasar: Pasca rights issue sebelumnya, kapitalisasi pasar free float yang disesuaikan mencapai US$ 543 juta, jauh melampaui batas minimum MSCI sebesar US$ 330 juta.
- Likuiditas Tinggi: Rata-rata transaksi harian BUVA selama setahun terakhir melonjak hingga US$ 6,1 juta, melampaui syarat minimum yang hanya US$ 1 juta per hari.
- Visibilitas Global: Masuknya BUVA ke indeks MSCI diperkirakan akan memicu aliran dana pasif (passive inflow) dari berbagai reksa dana indeks global, meningkatkan prestise perusahaan di pasar modal dunia.
Sebagai catatan, MSCI akan mengumumkan hasil peninjauannya pada 10 Februari 2026, dan perubahan komposisi indeks tersebut akan mulai efektif pada 2 Maret 2026.
Saat ini, BUVA terus memperkuat fundamental bisnis melalui pengembangan pendapatan berulang (recurring income). Fokus utama perusahaan adalah memaksimalkan potensi wisata di Bali dan Nusa Tenggara Timur:
- BUVA mengakuisisi 99,99% saham PT Bukit Permai Properti (BPP) senilai Rp416 miliar. BPP memiliki cadangan lahan (landbank) seluas 19,3 hektare di Uluwatu yang lokasinya berdekatan dengan hotel andalan mereka, Alila Villas Uluwatu.
- Melalui anak usahanya, BUVA telah membeli lahan seluas 2,7 hektare di Labuan Bajo. Di lokasi ini, perusahaan akan membangun hotel berkapasitas 126 kamar yang diprediksi akan mendongkrak laba sebelum pajak sebesar 16,8% pada tahun 2026.
Analisis dan Risiko Investasi
Melihat prospek cerah tersebut, Samuel Sekuritas menyematkan rekomendasi Speculative Buy untuk saham BUVA dengan target harga yang ambisius di level Rp3.000. Target ini mencerminkan valuasi Price to Book (P/B) sebesar 33,7 kali.
Meski demikian, investor tetap harus mewaspadai beberapa risiko utama, antara lain:
Potensi pelemahan daya beli masyarakat yang dapat mengganggu sektor pariwisata.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- 4 Pilihan HP OPPO 5G Terbaik 2026 dengan RAM Besar dan Kamera Berkualitas
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- Bojan Hodak Beberkan Posisi Pemain Baru Persib Bandung
Pilihan
-
Danantara Mau Caplok Tambang Emas Martabe Milik Astra?
-
H-135 Kick Off Piala Dunia 2026, Dua Negara Ini Harus Tempuh Perjalanan 15.000 KM
-
5 Rekomendasi HP RAM 12 GB Paling Murah, Cocok buat Gaming dan Multitasking
-
Kenaikan Harga Emas yang Bikin Cemas
-
Sah! Komisi XI DPR Pilih Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Resmi Jadi Deputi Gubernur BI, Thomas Djiwandono: Terima Kasih DPR
-
Harga Emas Hampir Rp3 Juta/Gram, Mendagri: Jadi Biang Kerok Inflasi Nasional
-
Tiga Jet Rafale Tiba di Indonesia, Nilainya Lebih dari Rp 5 Triliun
-
Bitcoin Sulit Tembus Level USD 90.000, Proyeksi Analis di Tengah Penguatan Emas
-
ANTM Meroket 241 Persen dalam Setahun, Rekor Harga Emas dan Nikel Jadi Motor Utama
-
Serapan KIPK 2025 Jeblok, Menperin Janji Bereskan Kendala Biar Padat Karya Jalan di 2026
-
Kementerian PU Mulai Tambal Lubang Jalan Nasional di Aceh Tamiang Pascabencana
-
Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta, Pelindo dan Kemenhub Kembangkan Kawasan Pesisir serta Pelabuhan Laut
-
Danantara Mau Caplok Tambang Emas Martabe Milik Astra?
-
Distribusi Pulih, Harga Pangan di Wilayah Bencana Aceh-Sumut-Sumbar Mulai Melandai