- Pemenang LWC 2025 sukses turun berat badan 18-23%, tingkatkan produktivitas kerja.
- Edukasi medis ubah pola konsumsi impulsif menjadi belanja berkualitas.
- LIGHThouse perkuat ekosistem kesehatan di kota besar demi tekan biaya medis.
Suara.com - Industri wellness dan pengelolaan berat badan di Indonesia terus menunjukkan taringnya sebagai motor penggerak ekonomi kesehatan. Hal ini tercermin dari suksesnya gelaran LIGHTweight Challenge (LWC) 2025 yang diinisiasi oleh LIGHThouse Clinic. Bukan sekadar kompetisi estetika, ajang ini membuktikan bahwa penurunan berat badan yang terukur merupakan investasi jangka panjang bagi produktivitas sumber daya manusia (SDM).
Perjalanan 22 peserta LWC 2025 yang dimulai sejak Oktober lalu kini mencapai puncaknya. Tiga pemenang utama berhasil mencatatkan penurunan berat badan fantastis, berkisar antara 18% hingga 23% hanya dalam waktu 12 minggu. Di balik angka tersebut, terdapat pergeseran perilaku konsumsi dan peningkatan literasi nutrisi yang krusial bagi ekonomi keluarga.
Salah satu pemenang, Feybe Arsella Manoppo (32), seorang pegawai sekaligus ibu rumah tangga, berhasil menyusutkan bobotnya hingga 14 kg (23% dari berat awal). Dari kacamata ekonomi, keberhasilan Feybe bukan hanya soal ukuran pakaian, melainkan kembalinya kepercayaan diri dan stamina yang berkorelasi langsung pada produktivitas kerja.
"Setelah berat badan naik drastis pasca melahirkan, saya merasa insecure. Olahraga mandiri tanpa panduan seringkali gagal," ujar Feybe. Melalui bimbingan medis di LIGHThouse, ia kini memiliki bekal pengetahuan nutrisi untuk memutus rantai pengeluaran tidak efisien akibat pola makan yang salah.
Momentum berakhirnya LWC 2025 yang berdekatan dengan bulan Ramadan menjadi poin strategis. Herfiena Oshita (37), peserta lain yang turun 19 kg, mengakui bahwa edukasi dari ahli gizi membantunya mengontrol "belanja impulsif" makanan saat berbuka.
"Dulu saat Ramadan saya bisa kalap. Sekarang saya paham mana makanan yang bernilai gizi tinggi," katanya. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi klinis mampu mengubah pola konsumsi masyarakat menjadi lebih berkualitas (quality spending), bukan sekadar kuantitas.
Chief Marketing Officer LIGHT Group, Anna Yesito Wibowo, menekankan bahwa tantangan diet saat ini kian kompleks akibat pengaruh eksternal dan media sosial. LIGHThouse, yang telah beroperasi selama 22 tahun sebagai pioneer weight control centre, hadir untuk menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan komprehensif yang melibatkan dokter, ahli gizi, dan psikolog.
Program LW12 (LIGHTweight 12 Minggu) yang diterapkan bukan sekadar diet instan, melainkan pembentukan kebiasaan baru. Nutrition Program Manager LIGHThouse Clinic, Veronica, menegaskan bahwa kunci keberhasilan adalah defisit kalori yang konsisten.
Bagi dunia usaha, model bisnis yang ditawarkan LIGHThouse di Jabodetabek, Surabaya, Medan, dan Makassar ini memperkuat ekosistem ekonomi kesehatan. Dengan menekan angka obesitas, beban biaya kesehatan jangka panjang akibat penyakit degeneratif dapat dikurangi, yang pada akhirnya memperkuat daya beli masyarakat di sektor lainnya.
Baca Juga: Ramadan Gen Z di Era Medsos: Antara Ibadah dan Pencitraan
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Hanya di Jateng, DIY Berlakukan Pajak Opsen 66 Persen, Pajak Kendaraan Tak Naik
- 5 Sepatu Tanpa Tali 'Kembaran' Skechers Versi Murah, Praktis dan Empuk
- Jalan Lingkar Sumbing Wonosobo Resmi Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Tani dan Wisata Pegunungan
- 5 Rekomendasi HP Layar Besar untuk Orang Tua Mulai Rp1 Jutaan
- 10 Rekomendasi Cream Memutihkan Wajah dalam 7 Hari BPOM
Pilihan
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
-
Impor Mobil India Rp 24 Triliun Berpotensi Lumpuhkan Manufaktur Nasional
-
Jadwal Imsak Jakarta Hari Ini 20 Februari 2026, Lengkap Waktu Subuh dan Magrib
-
Tok! Eks Kapolres Bima AKBP Didik Resmi Dipecat Buntut Kasus Narkoba
-
Bisnis Dihimpit Opsen, Pengusaha Rental Mobil Tuntut Transparansi Pajak
Terkini
-
Mahkamah Agung AS Putuskan Tarif Trump Ilegal, Bagaimana Nasib Perjanjian Prabowo - Trump?
-
Deal Perjanjian Dagang RIAS Tak Mutlak, Bisa Berubah Jika Ada Perjanjian Baru
-
Trump Tetapkan Tarif Baru 10 Persen Usai Kesepakatan RI-AS, Indonesia Rugi?
-
9 Tips Mengatur THR agar Tidak Cepat Habis untuk Persiapan Lebaran
-
Impor Energi dari AS, CORE: Ini Bertentangan dengan Kemandirian Energi
-
Setelah Kesepakatan Dagang, Produk AS Bakal Banjiri Pasar RI
-
Bukan Sekadar Ekspor-Impor, ART Ikat RIAS dalam Koordinasi Kebijakan Global
-
Perjanjian Tarif Resiprokal, Produk Impor dari AS Tak Perlu Sertifikasi Halal? Ini Faktanya
-
Pedagang Pasar Bilang Harga MinyaKita Tak Pernah Rp 15.700/Liter
-
Pedagang Pasar: Harga Pangan Semuanya Naik, Cabai Rawit Tembus Rp 100 Ribu/Kg