Bisnis / Makro
Sabtu, 21 Februari 2026 | 06:30 WIB
Ilustrasi. Industri wellness dan pengelolaan berat badan di Indonesia terus menunjukkan taringnya sebagai motor penggerak ekonomi kesehatan. (20/10/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Pemenang LWC 2025 sukses turun berat badan 18-23%, tingkatkan produktivitas kerja.
  • Edukasi medis ubah pola konsumsi impulsif menjadi belanja berkualitas.
  • LIGHThouse perkuat ekosistem kesehatan di kota besar demi tekan biaya medis.

Suara.com - Industri wellness dan pengelolaan berat badan di Indonesia terus menunjukkan taringnya sebagai motor penggerak ekonomi kesehatan. Hal ini tercermin dari suksesnya gelaran LIGHTweight Challenge (LWC) 2025 yang diinisiasi oleh LIGHThouse Clinic. Bukan sekadar kompetisi estetika, ajang ini membuktikan bahwa penurunan berat badan yang terukur merupakan investasi jangka panjang bagi produktivitas sumber daya manusia (SDM).

Perjalanan 22 peserta LWC 2025 yang dimulai sejak Oktober lalu kini mencapai puncaknya. Tiga pemenang utama berhasil mencatatkan penurunan berat badan fantastis, berkisar antara 18% hingga 23% hanya dalam waktu 12 minggu. Di balik angka tersebut, terdapat pergeseran perilaku konsumsi dan peningkatan literasi nutrisi yang krusial bagi ekonomi keluarga.

Salah satu pemenang, Feybe Arsella Manoppo (32), seorang pegawai sekaligus ibu rumah tangga, berhasil menyusutkan bobotnya hingga 14 kg (23% dari berat awal). Dari kacamata ekonomi, keberhasilan Feybe bukan hanya soal ukuran pakaian, melainkan kembalinya kepercayaan diri dan stamina yang berkorelasi langsung pada produktivitas kerja.

"Setelah berat badan naik drastis pasca melahirkan, saya merasa insecure. Olahraga mandiri tanpa panduan seringkali gagal," ujar Feybe. Melalui bimbingan medis di LIGHThouse, ia kini memiliki bekal pengetahuan nutrisi untuk memutus rantai pengeluaran tidak efisien akibat pola makan yang salah.

Momentum berakhirnya LWC 2025 yang berdekatan dengan bulan Ramadan menjadi poin strategis. Herfiena Oshita (37), peserta lain yang turun 19 kg, mengakui bahwa edukasi dari ahli gizi membantunya mengontrol "belanja impulsif" makanan saat berbuka.

"Dulu saat Ramadan saya bisa kalap. Sekarang saya paham mana makanan yang bernilai gizi tinggi," katanya. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi klinis mampu mengubah pola konsumsi masyarakat menjadi lebih berkualitas (quality spending), bukan sekadar kuantitas.

Chief Marketing Officer LIGHT Group, Anna Yesito Wibowo, menekankan bahwa tantangan diet saat ini kian kompleks akibat pengaruh eksternal dan media sosial. LIGHThouse, yang telah beroperasi selama 22 tahun sebagai pioneer weight control centre, hadir untuk menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan komprehensif yang melibatkan dokter, ahli gizi, dan psikolog.

Program LW12 (LIGHTweight 12 Minggu) yang diterapkan bukan sekadar diet instan, melainkan pembentukan kebiasaan baru. Nutrition Program Manager LIGHThouse Clinic, Veronica, menegaskan bahwa kunci keberhasilan adalah defisit kalori yang konsisten.

Bagi dunia usaha, model bisnis yang ditawarkan LIGHThouse di Jabodetabek, Surabaya, Medan, dan Makassar ini memperkuat ekosistem ekonomi kesehatan. Dengan menekan angka obesitas, beban biaya kesehatan jangka panjang akibat penyakit degeneratif dapat dikurangi, yang pada akhirnya memperkuat daya beli masyarakat di sektor lainnya.

Baca Juga: Ramadan Gen Z di Era Medsos: Antara Ibadah dan Pencitraan

Load More