Suara.com - Target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100GW yang dicanangkan Presiden Prabowo kini mulai digarap. Melalui laporan bertajuk "Solar Archipelago: Delivering 100 GW Solar PV Program in Indonesia" pada Senin, (23/02/26), IESR menyodorkan kerangka kerja operasional yang komprehensif agar visi ini menjadi rencana yang terukur dan dapat dijalankan.
Kepala Analis Sistem Ketenagalistrikan Institute for Essential Services Reform (IESR), Alvin Putra Sisdwinugraha menegaskan bahwa target ini adalah pintu gerbang menuju tranformasi ekonomi baru.
“100 GW ini bukan hanya sekadar soal target kapasitas ataupun proyek. Namun, kami di IESR melihat bahwa 100 GW adalah indikator kualitatif di mana Indonesia mampu mencapai solar based economy atau ekonomi berbasis energi surya,” paparnya.
Ia mencontohkan bahwa India dan China membutuhkan waktu perencanaan belasan tahun untuk membangun ekosistem serupa. Oleh karena itu, Indonesia juga perlu bergerak cepat dengan mempertimbangkan langkah yang sistematis.
Enam Prinsip dan Dua Program Utama
Untuk mencapai kondisi ekonomi berbasis surya tersebut, kajian ini mengusulkan enam prinsip utama:
- Mendahulukan akses listrik di desa (powering every village)
- Sinergi agar program tidak tumpang tindih
- Akuntabilitas melalui monitoring yang transparan transparan untuk mencegah adanya penyelewengan dan korupsi
- Community led growth, di mana peran komunitas dan desa adalah hal yang utama untuk dapat meningkatkan kegiatan ekonomi mereka berbasis energi surya
- Economic acceleration atau akselerasi ekonomi produktif, di mana pengguna energi surya diharapkan dapat menyokong kegiatan-kegiatan produktif di desa
- Workforce transformation, yakni melakukan transformasi tenaga kerja untuk menyediakan new green jobs di Indonesia
Prinsip-prinsip tersebut kemudian diturunkan menjadi dua program implementasi prioritas. Pertama, program penggantian pembangkit diesel (diesel replacement), Kedua, program elektrifikasi dan penggunaan produktif (electrification and producrive use) yang bertujuan agar kehadiran listrik di desa mampu memicu keuntungan ekonomi nyata bagi masyarakat.
Alvin mejelaskan bahwa langkah awal ini akan memberikan dampak signifikan yang instan bagi negara.
“Dampak ekonomi jangka pendeknya kita bisa lihat bahwa ada penghematan konsumsi diesel sebesar 21 triliun rupiah. Lalu penurunan emisi sebesar 24 juta ton CO2, pembentukan lapangan kerja hijau baru sebesar 118 ribu, serta kontribusi PDRB diperkirakan sekitar 112 triliun rupiah.”
Baca Juga: Energi Terbarukan Mulai Masuk Sektor Tambang dan Perkebunan
Tahapan Implementasi Menuju 2030
Untuk mencapai target secara berkelanjutan, pembangunan dipecah ke dalam lima tahap strategis:
- 2026 Foundations and Integration Phase: fokus pada penetapan kerangka regulasi yang sesuai untuk mengeksekusi rencana besar ini.
- 2027 Scale-up Phase: melakukan validasi model teknis, finansial, dan pengiriman (delivery model) dalam implementasi program.
- 2028 Acceleration Phase: memobilisasi investasi dan rantai pasok (supply chain) dalam skala besar.
- 2029 Consolidation Phase: melakukan asesmen pengoperasian dan pemeliharaan sistem yang sudah terpasang agar berjalan berkelanjutan.
- 2030 Completion & Transition Phase: bertransisi menuju pasar energi surya yang mandiri (self-sustaining solar market).
Mematahkan Hambatan Regulasi
Meskipun program ini memiliki potensi yang besar, tantangan regulasi masih juga membayangi. Oleh karena itu, diperlukan langkah berani untuk mensubstitusi pembangkit fosil secara lebih agresif seperti unit PLTU dan PLT Gas yang ada dalam RUPTL.
“Sebagai contoh, kita punya 5 GW PLTU dan 10 GW PLT Gas, baik PLTGU, PLTG, PLTMG di dalam perencanaan RUPTL sampai tahun 2030. Kurang lebih untuk menggantikan seluruh PLTU dan PLTGas dalam perencanaan itu membutuhkan kurang lebih 43 GW PLTS,” ujar Alvin.
Total pendanaan yang dibutuhkan pun mencapai angka yang signifikan, yakni sekitar 78 miliar USD untuk program prioritas yang dapat dioptimalkan melalui pendanaan internasional berbasis iklim serta partisipasi swasta.
Berita Terkait
-
PLTS 100 GW Diproyeksikan Serap 1,4 Juta Green Jobs, Energi Surya Jadi Mesin Ekonomi Baru
-
Pabrik Alas Kaki di Jombang Pakai PLTS, Kapasitas Tembus 3,7 MWp
-
Suara.com dan PLN Kupas Tuntas Kendaraan Listrik di Jabar, Ini Fakta Terbarunya
-
Antisipasi Force Majeure, Askrindo Siapkan Strategi Keberlanjutan Bisnis
-
Menanam Mangrove, Menjaga Pesisir: Aksi Nyata Keberlanjutan di Tengah Ancaman Iklim
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- HP Xiaomi yang Bagus Tipe Apa? Ini 7 Rekomendasinya di 2026
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Meski IHSG Kinclong, Dana Asing Masih Kabur Rp 193,87 M Sepekan Ini
-
Menaker: PKB Harus Dikawal Ketat, Tantangan Utama di Tahap Implementasi
-
Perundingan AS-Iran Kacau, Trump Malah Nonton UFC Ketimbang Negosiasi Selat Hormuz
-
Pemerintah Klaim Daya Beli Masyarakat Masih Kuat, Begini Datanya
-
BI Sebut Kepercayaan Masyarakat Terhadap Ekonomi RI Tinggi
-
Iran Tetapkan Tarif Selat Hormuz, Harga Bitcoin Malah Anjlok Parah
-
Danantara Rebut Pengelolaan Sekuritas Himbara, Mau Bentuk Holding Baru
-
Pertamina Wisuda 168 Binaan Usaha Ultra Mikro, Total Cuan hingga Rp2,7 Miliar
-
Purbaya Targetkan Legalisasi Rokok Ilegal Berlaku Mei 2026 demi Tambah Pendapatan Negara
-
Purbaya Siapkan Insentif Motor Listrik, Bagaimana Nasib Mobil Listrik?