Bisnis / Keuangan
Rabu, 03 Juni 2026 | 16:33 WIB
BPI Danantara menunjuk lima bank global untuk menjajaki penjualan surat utang senilai 5 miliar dolar AS. [Antara]
Baca 10 detik
  • BPI Danantara menunjuk lima bank global untuk menjajaki penjualan surat utang senilai 5 miliar dolar AS.
  • Langkah penggalangan dana dilakukan saat nilai tukar rupiah melemah akibat keraguan investor terhadap kebijakan ekonomi pemerintah Indonesia.
  • Moody's memberikan peringkat Baa2 dengan outlook negatif bagi PT Danantara Investment Management karena keterkaitan erat dengan pemerintah Indonesia.

Suara.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah menunjuk beberapa bank untuk menjajaki penjualan surat utang dalam mata uang dolar Amerika Serikat. Danantara disebut menargetkan bisa meraup dana segar 5 milar dolar AS atau sekitar Rp89,5 triliun.

Rencana Danantara itu, seperti diwartakan Reuters dan Bloomberg, terungkap saat nilai tukar rupiah terus melemah hingga menembus Rp17.900 per dolar AS akibat semakin ragunya investor terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo Subianto dan tekanan dari konflik di Timur Tengah.

Di saat yang sama, pada Rabu (3/6/2026), lembaga pemeringkat global Moody's Ratings (Moody's) memberikan peringkat Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM), namun menetapkan outlook negatif sesuai dengan peringkat utang pemerintah Indonesia.

Danantara, dilansir dari Bloomberg, telah menunjuk Citigroup, DBS, HSBC, Mandiri Sekuritas dan Standard Chartered untuk bersama-sama bertindak sebagai manajer utama dan penjamin emisi. Pertemuan dengan jajaran investor obligasi di Asia, Eropa, dan AS digelar sejak Rabu.

Sementara menurut Reuters, Danantara menargetkan bisa meraup dana hingga Rp89,5 triliun dari penerbitan surat utang dalam dolar tersebut.

Outlook negatif Moody's

Sebelumnya Moody's memberikan peringkat Baa2 dan menetapkan outlook negatif untuk pertama kalinya kepada PT DIM.

Moodys menetapkan peringkat sementara Baa2 untuk program surat utang jangka menengah (MTN) global senior tanpa jaminan yang diterbitkan oleh DIM dan memberikan peringkat Baa2 untuk rencana penerbitan surat utang senior tanpa jaminan oleh DIM, yang semua prospek peringkat tersebut ditetapkan negatif.

Moody’s menyatakan peringkat emiten Baa2 DIM diselaraskan dengan peringkat pemerintah Indonesia, karena menilai adanya hubungan yang erat - termasuk struktur kepemilikan - antara pemerintah dengan DIM.

Baca Juga: Perusahaan Rokok Sampoerna Beli Patriot Bond Rp 500 Miliar, Ini Tujuannya

Moody’s juga mengklasifikasikan DIM sebagai emiten terkait pemerintah atau Government Related Issuer (GRI), dan menerapkan pendekatan top-down.

Selain itu, tidak ada Penilaian Kredit Dasar atau Baseline Credit Assessment (BCA) yang diberikan, mencerminkan tahap perkembangan DIM yang baru lahir, rekam jejak yang terbatas, dan tidak adanya operasi mandiri yang signifikan.

Sebelum ini, Danantara juga sudah mengumpulkan sekitar Rp50 triliun lewat penerbitan Patriot Bond yang diserap oleh para kongloemerat Indonesia. Sementara pada Maret lalu, Danantara juga menerbitkan surat utang jangka pendek senilai Rp7 triliun.

Load More