- Fitch tahan rating RI di BBB, namun ubah outlook jadi negatif karena ketidakpastian kebijakan.
- Gubernur BI Perry Warjiyo tegaskan fundamental ekonomi tetap kokoh dan cadangan devisa kuat.
- Ekonomi RI 2026 diprediksi tumbuh hingga 5,7% dengan inflasi yang tetap terjaga stabil.
Suara.com - Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, resmi mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level BBB per 4 Maret 2026. Namun, kabar kurang sedap menyertai keputusan tersebut: Fitch merevisi outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Dalam laporan terbarunya, Fitch mengakui bahwa Indonesia memiliki rekam jejak yang kuat dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan rasio utang terhadap PDB yang relatif rendah. Namun, lembaga tersebut memberikan catatan kritis terkait meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi di tanah air.
Fitch menyebut keputusan mengubah prospek menjadi negatif didorong oleh kekhawatiran pasar global terhadap konsistensi dan kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia ke depan. Ketidakpastian ini dinilai bisa menjadi kerikil bagi iklim investasi jika tidak segera dimitigasi.
Menanggapi "sentilan" Fitch, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo pasang badan, dirinya menegaskan bahwa peringkat BBB adalah bukti dunia masih percaya pada kekuatan ekonomi Indonesia. Ia meyakini perubahan outlook tersebut tidak mencerminkan kondisi riil fundamental ekonomi nasional.
"Afirmasi rating Indonesia pada BBB merefleksikan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat. Penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian," tegas Perry dalam keterangannya, Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan, kekuatan ekonomi Indonesia tercermin dari pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap solid di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Selain itu, inflasi tetap terkendali termasuk inflasi inti yang rendah, serta stabilitas nilai tukar rupiah yang dijaga melalui kebijakan stabilisasi di pasar NDF luar negeri maupun transaksi spot dan DNDF di pasar domestik.
Stabilitas sistem keuangan juga dinilai tetap terjaga. Hal ini didukung oleh likuiditas yang memadai, permodalan perbankan pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah. Di sisi lain, perluasan digitalisasi sistem pembayaran yang ditopang infrastruktur stabil dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Ke depan, BI memprakirakan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah tetap solid dengan tren meningkat. Pada 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 4,9–5,7 persen dan meningkat pada 2027, dengan inflasi yang tetap terjaga sesuai sasaran.
Ketahanan eksternal perekonomian juga dinilai kuat di tengah gejolak global. Hal ini tercermin dari kondisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang tetap sehat dan ditopang oleh kinerja neraca perdagangan yang solid.
Baca Juga: 10 Biang Kerok Fitch Pangkas Outlook Utang RI Jadi Negatif
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tercatat sebesar 154,6 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
BI juga memperkirakan NPI pada 2026 tetap terjaga baik dengan defisit transaksi berjalan yang rendah pada kisaran 0,9 hingga 0,1 persen terhadap PDB.
"Ke depan, Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- Bedak Sekaligus Foundation Namanya Apa? Ini 4 Rekomendasi yang Ringan di Wajah
- Sudah 4 Bulan Ditahan, Bupati Pati Sudewo Sampaikan Pesan Rindu dari Rutan KPK
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Target Tembus Rp563 Miliar, CBDK Optimis Properti PIK 2 Makin Dilirik Investor
-
Awas, Risiko Kebocoran Solar Subsidi Imbas Harga BBM Nonsubsidi Naik Gila-gilaan
-
BBRI atau BMRI? Pakar Senior Ini Ungkap Saham Pilihannya untuk Jangka Panjang
-
Cara Andi Hakim Tilap Dana Nasabah Rp28 Miliar, Modus 'BNI Deposito Investment'
-
Viral Gerakan Tutup Rekening, BNI Janji Kembalikan Dana Gereja di Aek Nabara
-
Skandal Dana Umat di Aek Nabara, BNI Janji Dana Gereja Dikembalikan Sepenuhnya
-
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Sampai Waktu yang Tak Ditentukan, Gegara Ulah Trump
-
Pemerintah Segera Tutup Praktik Open Dumping di Seluruh TPA
-
Pemerintah Mulai Kaji Kereta Papua, Rute Sentani-Kota Jayapura Jadi Proyek Awal
-
Harga BBM Naik, Ini Warga RI yang 'Halal' Beli Bensin Subsidi