Bisnis / Makro
Kamis, 05 Maret 2026 | 09:50 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo. [Antara]
Baca 10 detik
  • Fitch tahan rating RI di BBB, namun ubah outlook jadi negatif karena ketidakpastian kebijakan.
  • Gubernur BI Perry Warjiyo tegaskan fundamental ekonomi tetap kokoh dan cadangan devisa kuat.
  • Ekonomi RI 2026 diprediksi tumbuh hingga 5,7% dengan inflasi yang tetap terjaga stabil.

Suara.com - Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, resmi mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level BBB per 4 Maret 2026. Namun, kabar kurang sedap menyertai keputusan tersebut: Fitch merevisi outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Dalam laporan terbarunya, Fitch mengakui bahwa Indonesia memiliki rekam jejak yang kuat dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan rasio utang terhadap PDB yang relatif rendah. Namun, lembaga tersebut memberikan catatan kritis terkait meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi di tanah air.

Fitch menyebut keputusan mengubah prospek menjadi negatif didorong oleh kekhawatiran pasar global terhadap konsistensi dan kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia ke depan. Ketidakpastian ini dinilai bisa menjadi kerikil bagi iklim investasi jika tidak segera dimitigasi.

Menanggapi "sentilan" Fitch, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo pasang badan, dirinya menegaskan bahwa peringkat BBB adalah bukti dunia masih percaya pada kekuatan ekonomi Indonesia. Ia meyakini perubahan outlook tersebut tidak mencerminkan kondisi riil fundamental ekonomi nasional.

"Afirmasi rating Indonesia pada BBB merefleksikan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat. Penyesuaian outlook diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian," tegas Perry dalam keterangannya, Kamis (5/3/2026).

Ia menjelaskan, kekuatan ekonomi Indonesia tercermin dari pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap solid di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Selain itu, inflasi tetap terkendali termasuk inflasi inti yang rendah, serta stabilitas nilai tukar rupiah yang dijaga melalui kebijakan stabilisasi di pasar NDF luar negeri maupun transaksi spot dan DNDF di pasar domestik.

Stabilitas sistem keuangan juga dinilai tetap terjaga. Hal ini didukung oleh likuiditas yang memadai, permodalan perbankan pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah. Di sisi lain, perluasan digitalisasi sistem pembayaran yang ditopang infrastruktur stabil dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Ke depan, BI memprakirakan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah tetap solid dengan tren meningkat. Pada 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 4,9–5,7 persen dan meningkat pada 2027, dengan inflasi yang tetap terjaga sesuai sasaran.

Ketahanan eksternal perekonomian juga dinilai kuat di tengah gejolak global. Hal ini tercermin dari kondisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang tetap sehat dan ditopang oleh kinerja neraca perdagangan yang solid.

Baca Juga: 10 Biang Kerok Fitch Pangkas Outlook Utang RI Jadi Negatif

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tercatat sebesar 154,6 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

BI juga memperkirakan NPI pada 2026 tetap terjaga baik dengan defisit transaksi berjalan yang rendah pada kisaran 0,9 hingga 0,1 persen terhadap PDB.

"Ke depan, Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," katanya.

Load More