- Administrasi perpajakan Indonesia mulai menggunakan Sistem Inti Administrasi Perpajakan (CoreTax) dan menghentikan platform DJP Online.
- Pelaporan SPT Tahunan PPh Badan tahun pajak 2025 akan menjadi pelaporan pertama wajib menggunakan kerangka kerja CoreTax.
- CoreTax mengintegrasikan data secara real-time, menjadikan integritas data sebagai faktor sangat penting bagi kepatuhan pajak perusahaan.
Suara.com - Administrasi perpajakan Indonesia resmi memasuki era baru digitalisasi dengan implementasi penuh Sistem Inti Administrasi Perpajakan (SIAP) atau CoreTax. Melalui sistem ini, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) juga mempensiunkan platform lama seperti DJP Online dan aplikasi desktop e-Faktur.
Perubahan tersebut menjadi perhatian penting bagi kalangan dunia usaha. Pasalnya, pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Badan tahun pajak 2025 yang jatuh tempo pada 30 April 2026 akan menjadi pelaporan pertama yang wajib dilakukan sepenuhnya melalui kerangka kerja CoreTax.
Dengan sistem baru ini, perusahaan tidak hanya menghadapi pembaruan teknologi, tetapi juga perubahan mendasar dalam cara berinteraksi dengan otoritas pajak.
CoreTax dibangun dengan sistem integrasi penuh, di mana setiap e-Faktur yang diterbitkan dan setiap bukti potong (e-Bupot) yang dibuat akan langsung masuk ke buku besar wajib pajak korporasi secara real-time.
Dampaknya, ketika perusahaan menyiapkan SPT Tahunan, sebagian besar data sudah tersedia secara pre-populated berdasarkan aktivitas pelaporan bulanan.
Transisi ini secara efektif mengakhiri praktik rekonsiliasi pajak di akhir tahun dan membawa perusahaan ke era akurasi berkelanjutan (continuous accuracy). Arsitektur CoreTax juga dirancang untuk mendeteksi ketidakkonsistenan data bahkan sebelum SPT berhasil dikirimkan.
"Kehadiran CoreTax bukan sekadar pembaruan sistem teknis, melainkan penataan ulang fundamental atas tata kelola perpajakan di Indonesia," ujar Irwan Kusumanto, Managing Partner KKP Kusumanto & Rekan dan Head of Tax BDO Indonesia.
Ia menambahkan, sistem baru tersebut membuat integritas data menjadi faktor yang semakin penting dalam pengelolaan pajak perusahaan.
"Dengan validasi yang kini bersifat real-time, integritas data menjadi aset strategis. 'Kebersihan data' atau data hygiene bukan lagi sekadar tugas administratif di belakang layar, melainkan keharusan strategis bagi kepemimpinan korporat untuk memitigasi risiko audit dan memastikan kepatuhan yang berkelanjutan."
Baca Juga: Pekerja Swasta Protes THR Kena Pajak, Menkeu Purbaya: Protes ke Bosnya Dong!
Dalam menghadapi perubahan ini, KKP Kusumanto & Rekan merekomendasikan tiga langkah strategis bagi manajemen perusahaan agar dapat beradaptasi dengan ekosistem pajak yang baru.
Pertama, memperkuat tata kelola data dengan memastikan integritas informasi seperti NPWP vendor, Kode Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU), serta integrasi sistem ERP. Hal ini penting karena DJP kini memiliki visibilitas langsung terhadap data transaksi.
Kedua, mengamankan otoritas digital dengan mengganti kerangka kerja EFIN lama menjadi sistem otentikasi berbasis sertifikat digital yang terikat pada Person-in-Charge (PIC) yang terdaftar secara resmi.
Ketiga, meningkatkan fungsi tim pajak perusahaan dengan mengalihkan fokus dari pekerjaan administratif manual ke analisis data serta pemantauan kontrol internal.
"Tim pajak KKP Kusumanto & Rekan berkomitmen untuk membantu perusahaan melewati masa transisi ini melalui layanan yang komprehensif. Layanan kami mencakup dukungan implementasi CoreTax, aktivasi sertifikat digital baru, hingga pemeriksaan kesehatan (health check) kepatuhan pajak untuk memastikan keselarasan catatan internal dengan data pre-populated yang disediakan oleh DJP," kata Irwan.
"Navigasi sistem pajak nasional yang baru ini menuntut pemahaman mendalam mengenai maksud regulasi serta manajemen data strategis. Dengan persiapan yang tepat, transisi menuju CoreTax dapat menjadi peluang emas bagi perusahaan untuk memperkuat tata kelola serta meningkatkan ketahanan kepatuhan jangka panjang," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Suku Bunga Tinggi, Milenial-Gen Z Kini Lebih Percaya Medsos Ketimbang Brosur Properti
-
Laba PNM Tembus Rp1,14 triliun, Dirut BRI: Pertumbuhan Sehat dan Berkelanjutan
-
Panen Padi Biosalin Tembus Rp1,23 Miliar di Tengah Cuaca Ekstrem
-
Harapan Konsumen Properti: Bunga KPR Jangan Tinggi-Tinggi!
-
Genjot Produktivitas Sapi Nasional, DPD RI Dorong Revitalisasi Vokasi Peternakan
-
Pelaku Industri Dorong Pendekatan Pengurangan Risiko Tembakau di RI
-
Menkeu Purbaya Masih Optimistis IHSG Tembus 10.000 Tahun Ini
-
Mau Jual Emas dan Untung Besar? Ya di Raja Emas Indonesia Saja!
-
Menkeu Bantah Hoaks Uang Negara Tinggal Rp120 Triliun
-
Celios Dukung Pemerintah Beri Insentif Fiskal Berbasis Penyerapan Tenaga Kerja