Bisnis / Makro
Kamis, 12 Maret 2026 | 07:26 WIB
Presiden Prabowo Subianto di Wisma Danantara, Jakarta pada Rabu (11/3/2026). [Cahyo - Biro Pers Sekretariat Presiden]
Baca 10 detik
  • Presiden Prabowo Subianto memperingatkan jajaran BPI Danantara untuk tidak memberikan laporan palsu saat peringatan ulang tahun pertama.
  • Prabowo menyatakan Danantara, sebagai *sovereign wealth fund*, menunjukkan hasil baik dengan *return on asset* (ROA) tumbuh lebih dari 300 persen tahun 2025.
  • Ia menggarisbawahi perlunya pengelolaan terpusat untuk efektivitas, mengkritisi kompleksitas struktur anak perusahaan BUMN yang sulit diaudit.

Suara.com - Presiden Prabowo Subianto memberikan peringatan kepada jajarannya untuk tidak memberikan laporan palsu. Hal itu ditegaskan Prabowo dalam sambutannya pada peringatan HUT ke-1 Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.

Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan puji syukurnya atas perjalanan Danantara yang telah berdiri selama satu tahun. Selama satu Danantara berdiri Prabowo mengklaim tata kelolanya dilakukan dengan baik.

"Kita bersyukur sekarang Indonesia punya sovereign wealth fund mungkin keenam, ketujuh besar, terbesar di dunia, ya. Kita juga bersyukur bahwa manajemen 1 tahun ini sudah membuktikan bahwa dengan manajemen yang baik, dengan pengelolaan yang baik, terutama dengan will yang benar, ya dengan political will, dengan jiwa yang benar, hasil sudah kelihatan," jelasnya di Wisma Danantara, Jakarta pada Rabu (11/3/2026).

Prabowo pun mengaku, sudah mendapatkan laporan pencapaian-pencapaian yang diraih Danantara dalam satu tahun terakhir. Namun, dia mengingatkan agar laporan yang diterimanya merupakan fakta.

"Saya dapat laporan, mudah-mudahan ini laporan benar, jangan main-main lagi dengan saya laporan palsu, laporan menyenang-nyenangkan, laporan supaya bisa akal-akalan, saya kasih peringatan keras ini," tegasnya.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, Prabowo mengaku senang karena return on asset (ROA) tahun 2025 tumbuh lebih dari 300 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Presiden Prabowo Subianto di Wisma Danantara, Jakarta pada Rabu (11/3/2026). [Cahyo - Biro Pers Sekretariat Presiden]

Menurutnya, pencapaian tersebut membuktikan premis pendirian Danantara bahwa manajemen yang baik hanya dapat terwujud melalui kendali dan pengelolaan yang terpusat.

"Tidak mungkin kita mengelola 250 perusahaan. Bahkan ternyata saya baru tahu bukan 250, 1.000 perusahaan lebih. Tidak ada pelajaran manajemen di manapun di dunia, satu manajemen bisa mengelola 1.000 entitas," ujarnya.

Prabowo pun memaparkan BUMN didirikan oleh para pendiri bangsa untuk memenuhi kebutuhan strategis di awal kemerdekaan, seperti industri tekstil, industri kertas untuk pendidikan, hingga sektor farmasi.

Baca Juga: Purbaya Terburu-buru! Mendadak Prabowo Minta Para Menteri Kumpul di Danantara Sore Ini, Ada Apa?

"Tetapi lambat laun itikad baik ini terjadi penyimpangan-penyimpangan. Negara dalam keadaan baru awal-awal merdeka, mendirikan perusahaan negara Pertamina. Ternyata itikad baik pendiri-pendiri bangsa itu akhirnya melahirkan anak perusahaan, cucu perusahaan, dan cicit perusahaan. Saya kaget, Pertamina punya 200 anak dan cucu perusahaan," bebernya.

Lebih lanjut, Prabowo menyoroti adanya regulasi yang tidak membolehkan negara mengaudit anak-anak perusahaan BUMN. Dia mempertanyakan dasar dari aturan tersebut.

"Katanya kalau cucu perusahaan endak boleh diaudit. Peraturan dari mana ini?" ujarnya.

Namun demikian, Prabowo meyakini bahwa penggabungan berbagai perusahaan negara ke dalam entitas Danantara merupakan strategi tepat untuk mengoptimalkan pengelolaan aset sekaligus mencegah kebocoran kekayaan negara.

"Jadi saudara-saudara, premis kita ternyata benar. Konsolidasi, satu manajemen, dengan rasional, dengan standar-standar terbaik dunia," ujarnya.

Load More