Bisnis / Keuangan
Kamis, 19 Maret 2026 | 11:20 WIB
Ilustrasi HSBC. [Unsplash]
Baca 10 detik
  • HSBC Holdings sedang mempertimbangkan pemangkasan sekitar 20.000 pekerjaan sebagai bagian transformasi tiga hingga lima tahun.
  • Pemotongan fokus utama pada peran non-klien dan pusat layanan global, didorong pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) untuk efisiensi.
  • Strategi ini sejalan restrukturisasi CEO Elhedery, termasuk penekanan pada Asia dan perubahan model kompensasi karyawan kompetitif.

Suara.com - HSBC Holdings tengah mempertimbangkan gelombang pemangkasan tenaga kerja besar-besaran dalam beberapa tahun ke depan, seiring strategi agresif perusahaan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk merampingkan operasional.

Rencana ini digagas oleh CEO Georges Elhedery sebagai bagian dari transformasi jangka menengah bank, yang diperkirakan berlangsung selama tiga hingga lima tahun.

Sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebutkan, sekitar 20.000 posisi atau setara 10 persen dari total karyawan berpotensi terdampak.

"Pemangkasan diperkirakan akan banyak menyasar peran non-klien, terutama di pusat layanan global," kata CEO Georges Elhedery dilansir Blommberg, Kamis (19/3/2026).

Namun hingga kini, proses evaluasi masih berada pada tahap awal dan belum ada keputusan final yang diambil. Pihak HSBC sendiri belum memberikan komentar resmi terkait rencana tersebut.

Pada akhir 2025, HSBC Holdings tercatat memiliki sekitar 210.000 karyawan. Sebagian pengurangan tenaga kerja nantinya kemungkinan dilakukan melalui tidak mengganti posisi yang kosong, serta penjualan atau penutupan unit bisnis tertentu.

Ilustrasi PHK massal (Pixabay/geralt)

Langkah ini menjadi bagian dari restrukturisasi besar yang telah dijalankan Elhedery sejak menjabat pada 2024. Ia sebelumnya telah memangkas ribuan pekerjaan, sekaligus merampingkan portofolio bisnis melalui penjualan dan penggabungan unit usaha.

Transformasi tersebut juga mencakup perubahan budaya kerja, termasuk penerapan model kompensasi ala Wall Street yang lebih kompetitif.

Dalam skema ini, karyawan berkinerja tinggi akan mendapatkan porsi bonus lebih besar, sementara yang berkinerja rendah didorong untuk mencari peluang di luar perusahaan.

Baca Juga: 56,3 Juta Pengguna QRIS, Indonesia Jadi Target Ekspansi AI Perbankan

Selain itu, HSBC terus memperkuat fokus bisnis di Asia, salah satunya melalui langkah privatisasi anak usaha di Hong Kong, Hang Seng Bank. Strategi ini dinilai sebagai taruhan besar untuk pertumbuhan di pusat keuangan Asia.

Pemanfaatan AI menjadi kunci utama dalam rencana efisiensi. Dalam konferensi Morgan Stanley pada 18 Maret, CFO HSBC Pam Kaur menyebutkan bahwa teknologi tersebut dapat digunakan untuk memangkas biaya sekaligus meningkatkan produktivitas karyawan.

Menurut Kaur, AI berpotensi diterapkan di berbagai lini, mulai dari pusat layanan pelanggan hingga proses verifikasi nasabah (know-your-customer) dan pemantauan transaksi.

Tren ini sejalan dengan laporan Bloomberg Intelligence yang memprediksi bahwa bank-bank global dapat menghapus hingga 200.000 pekerjaan dalam tiga hingga lima tahun ke depan akibat adopsi AI.

Rata-rata, eksekutif teknologi memperkirakan pengurangan tenaga kerja bersih sekitar 3 persen.

HSBC sendiri menargetkan penghematan biaya sebesar 1,5 miliar dolar AS pada paruh pertama tahun ini, bahkan enam bulan lebih cepat dari jadwal yang direncanakan.

Load More