- HSBC Holdings sedang mempertimbangkan pemangkasan sekitar 20.000 pekerjaan sebagai bagian transformasi tiga hingga lima tahun.
- Pemotongan fokus utama pada peran non-klien dan pusat layanan global, didorong pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) untuk efisiensi.
- Strategi ini sejalan restrukturisasi CEO Elhedery, termasuk penekanan pada Asia dan perubahan model kompensasi karyawan kompetitif.
Suara.com - HSBC Holdings tengah mempertimbangkan gelombang pemangkasan tenaga kerja besar-besaran dalam beberapa tahun ke depan, seiring strategi agresif perusahaan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk merampingkan operasional.
Rencana ini digagas oleh CEO Georges Elhedery sebagai bagian dari transformasi jangka menengah bank, yang diperkirakan berlangsung selama tiga hingga lima tahun.
Sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebutkan, sekitar 20.000 posisi atau setara 10 persen dari total karyawan berpotensi terdampak.
"Pemangkasan diperkirakan akan banyak menyasar peran non-klien, terutama di pusat layanan global," kata CEO Georges Elhedery dilansir Blommberg, Kamis (19/3/2026).
Namun hingga kini, proses evaluasi masih berada pada tahap awal dan belum ada keputusan final yang diambil. Pihak HSBC sendiri belum memberikan komentar resmi terkait rencana tersebut.
Pada akhir 2025, HSBC Holdings tercatat memiliki sekitar 210.000 karyawan. Sebagian pengurangan tenaga kerja nantinya kemungkinan dilakukan melalui tidak mengganti posisi yang kosong, serta penjualan atau penutupan unit bisnis tertentu.
Langkah ini menjadi bagian dari restrukturisasi besar yang telah dijalankan Elhedery sejak menjabat pada 2024. Ia sebelumnya telah memangkas ribuan pekerjaan, sekaligus merampingkan portofolio bisnis melalui penjualan dan penggabungan unit usaha.
Transformasi tersebut juga mencakup perubahan budaya kerja, termasuk penerapan model kompensasi ala Wall Street yang lebih kompetitif.
Dalam skema ini, karyawan berkinerja tinggi akan mendapatkan porsi bonus lebih besar, sementara yang berkinerja rendah didorong untuk mencari peluang di luar perusahaan.
Baca Juga: 56,3 Juta Pengguna QRIS, Indonesia Jadi Target Ekspansi AI Perbankan
Selain itu, HSBC terus memperkuat fokus bisnis di Asia, salah satunya melalui langkah privatisasi anak usaha di Hong Kong, Hang Seng Bank. Strategi ini dinilai sebagai taruhan besar untuk pertumbuhan di pusat keuangan Asia.
Pemanfaatan AI menjadi kunci utama dalam rencana efisiensi. Dalam konferensi Morgan Stanley pada 18 Maret, CFO HSBC Pam Kaur menyebutkan bahwa teknologi tersebut dapat digunakan untuk memangkas biaya sekaligus meningkatkan produktivitas karyawan.
Menurut Kaur, AI berpotensi diterapkan di berbagai lini, mulai dari pusat layanan pelanggan hingga proses verifikasi nasabah (know-your-customer) dan pemantauan transaksi.
Tren ini sejalan dengan laporan Bloomberg Intelligence yang memprediksi bahwa bank-bank global dapat menghapus hingga 200.000 pekerjaan dalam tiga hingga lima tahun ke depan akibat adopsi AI.
Rata-rata, eksekutif teknologi memperkirakan pengurangan tenaga kerja bersih sekitar 3 persen.
HSBC sendiri menargetkan penghematan biaya sebesar 1,5 miliar dolar AS pada paruh pertama tahun ini, bahkan enam bulan lebih cepat dari jadwal yang direncanakan.
Berita Terkait
-
HSBC Pangkas Anggaran Rp23 Triliun: Ribuan Pekerja Terancam PHK, Indonesia Termasuk?
-
Tingkatkan Ekosistem UMKM, AwanTunai Dapat Fasilitas Social Loan Rp 300 Miliar dari HSBC Indonesia
-
Genjot Ekonomi Kerakyatan, PNM Lakukan Sinergi Social Loan dengan HSBC
-
Bangkrut, HSBC Inggris Akuisisi Silicon Valley Bank Hanya Rp18.700
-
Gandeng Mandiri dan HSBC, SIG Rilis Sustainability Framework
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Pengamat: Aturan Soal Migas Jadi Biang Kerok Rupiah Terus Jeblok
-
Tak Perlu Pusing, Belanja di China Bisa Bayar Pakai GoPay
-
Purbaya Janjikan Kredit Bunga Rendah ke Industri Tekstil, Maksimal 6 Persen
-
IHSG Masih Gagah Menguat, Betah di Level 7.000
-
RUPS 2025 Patra Jasa Catat Kinerja Positif Dorong Pertumbuhan Pendapatan Perusahaan
-
Rupiah Konsisten Menguat pada Rabu
-
Dihantam China, Purbaya Mau Hidupkan Lagi Mimpi Indonesia soal Nikel
-
Apa itu Panda Bonds? Benarkah Ngutang ke China Bisa Perkuat Rupiah?
-
Trading Saham Tak Lagi Andalkan Insting, Tapi Bisa Pakai AI
-
Indonesia Sudah Stop Impor Solar Sejak April