Bisnis / Energi
Rabu, 25 Maret 2026 | 19:13 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan impor LPG akan dialihkan dari AS. [Antara]
Baca 10 detik
  • Kunjungan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ke Jepang menghasilkan dua MoU penguatan rantai pasok mineral dan teknologi nuklir rendah karbon.
  • Indonesia mendorong percepatan investasi migas Jepang pada Proyek Masela senilai Rp339 triliun untuk ketahanan energi nasional.
  • Kerja sama bilateral diperluas pada komoditas strategis dan proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC).

Suara.com - Kunjungan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ke Jepang pada pertengahan Maret 2026 menghasilkan sejumlah kerja sama strategis di sektor energi dan mineral. Langkah ini dinilai memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus membuka peluang investasi besar di sektor energi.

Dalam pertemuan dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Ryosei Akazawa, Indonesia menyepakati dua nota kesepahaman (MoU) yang mencakup penguatan rantai pasok mineral kritis serta pengembangan teknologi nuklir rendah karbon.

Selain itu, pemerintah juga mendorong percepatan investasi migas oleh Inpex Corporation pada Proyek Gas Lapangan Abadi Blok Masela dengan nilai mencapai Rp339 triliun. Proyek ini dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan daya tarik investasi Indonesia di mata global.

Tak hanya itu, Indonesia juga menawarkan kerja sama pengelolaan komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, hingga logam tanah jarang yang menjadi komponen penting dalam transisi energi global. Kerja sama kedua negara turut diperluas ke sektor batu bara, gas alam cair (LNG), serta proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC).

Pemerhati kebijakan publik, Henry Indraguna, menilai hasil kunjungan tersebut menunjukkan perubahan signifikan dalam posisi Indonesia di panggung global.

Kilang migas di laut milik Inpex. [inpex.com]

"Indonesia tidak lagi menjadi objek dalam relasi kuasa global, namun menjadi subjek yang aktif mendefinisikan kepentingannya sendiri," ujarnya di Jakarta, Rabu (25/3/2026).

Henry yang juga Guru Besar Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang itu menilai diplomasi energi yang dilakukan pemerintah mampu mendorong Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global.

"Ini bentuk kedaulatan yang cair namun kokoh. Menunjukkan hukum nasional kita mampu beradaptasi dengan standar internasional tanpa kehilangan jati diri konstitusionalnya," bebernya.

Ia juga menilai strategi pemerintah dalam mengamankan teknologi dan mendorong hilirisasi menjadi langkah penting agar Indonesia tidak terjebak sebagai eksportir bahan mentah.

Baca Juga: Tensi Geopolitik Timteng Panas, Ketahanan Energi RI Dinilai Paling Kuat di ASEAN

"Langkah Pak Bahlil mengamankan teknologi nuklir dan hilirisasi nikel adalah upaya tidak terjebak ke dalam pertumbuhan stagnan. Ini akan tumbuh dari dalam melalui nilai tambah yang berkelanjutan," katanya.

Menurut Henry, integrasi investasi Jepang dalam struktur industri nasional juga akan memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global.

"Kepastian hukum yang ditawarkan dalam proyek Masela memberi sinyal positif bagi pasar global bahwa Indonesia adalah mitra yang kredibel," ucapnya.

Ia menambahkan, kerja sama internasional tersebut tetap harus dijalankan dengan memperhatikan kepentingan nasional, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam.

"Pemanfaatan sumber daya alam tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, namun juga kemandirian energi yang berkelanjutan," pungkas Henry.

Load More