Bisnis / Energi
Kamis, 26 Maret 2026 | 20:35 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia sudah tak mengimpor solar, meski masih mengimpor bensin dan LPG dari luar negeri. [Antara]
Baca 10 detik
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjamin kondisi energi Indonesia aman meski terjadi krisis energi global.
  • Penghentian impor solar didorong peningkatan kapasitas RDMP Kilang Balikpapan oleh Presiden Prabowo Subianto.
  • Indonesia masih mengimpor 50 persen bensin dan 70 persen kebutuhan LPG karena ketergantungan pada pasokan luar negeri.

Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan garansi bahwa kondisi Indonesia masih aman di tengah krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah.

Ia mengatakan untuk kebutuhan solar Indonesia sudah mandiri, tidak lagi mengimpor dari luar negeri. Sementara untuk bensin dan LPG ia mengakui masih mengimpor, tapi jumlahnya masih bisa diatasi.

“Kami harus meyakinkan kepada rakyat Indonesia bahwa solar kita insyaallah tidak lagi melakukan impor, jadi clear,” tegas Bahlil ketika melakukan sidak di Jawa Tengah Kamis (26/3/2026).

Langkah pemerintah menghentikan impor solar didorong oleh pengoperasian proyek besar Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan milik PT Pertamina (Persero). Presiden Prabowo Subianto meresmikan peningkatan kapasitas kilang tersebut sebesar 360.000 barel per hari, terbesar di Tanah Air.

Menyusul RDMP Kilang Balikpapan, pemerintah tidak lagi mengeluarkan izin impor solar. Kebijakan ini juga mencakup stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta yang selama ini masih mengandalkan impor, kini diwajibkan membeli pasokan dari Pertamina.

Sedangkan untuk BBM jenis bensin, Indonesia masih mengimpor 50 persen, sementara 50 persennya lagi berasal dari dalam negeri. Untuk 50 persen bensin yang diimpor, Bahlil menyampaikan Indonesia sudah mencari alternatif, termasuk alternatif negara untuk mengimpor pasokan minyak mentah.

Berdasarkan keterangan sebelumnya, sejumlah negara yang menjadi alternatif impor minyak Indonesia adalah Angola, Brazil, Amerika Serikat, hingga Rusia.

“Kemudian, LPG kita juga masih impor kurang lebih sekitar 70 persen dari total kebutuhan Indonesia,” ucap Bahlil.

Meskipun Indonesia mengimpor 70 persen dari kebutuhan LPG-nya, Bahlil menyampaikan bahwa Indonesia dalam kondisi yang baik.

Baca Juga: Indonesia Bernegosiasi untuk Loloskan Kapal Tanker Pertamina dari Selat Hormuz

Oleh karena itu, ia meminta kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan panic buying maupun penimbunan yang disebabkan oleh kekhawatiran krisis energi.

“Enggak usah ada rasa panic buying, enggak perlu ada. Pakailah dengan secukupnya,” ucap Bahlil.

Krisis energi dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Hingga kini perang belum juga berhenti. Perang tersebut membuat Selat Hormuz, jalur perairan tempat 20 persen minyak dunia dan sekitar 25 persen gas diangkut, ditutup oleh Iran.

Alhasil pasokan energi dunia, terutama untuk Asia tersedat dan harga minyak dunia melonjak tajam.

Load More