- Blokade Iran di Selat Hormuz, jalur 20 persen pasokan energi dunia, picu krisis energi global terburuk.
- Parlemen Iran merancang regulasi penarikan tol keamanan, sementara IRGC telah terapkan sistem pos pungutan liar.
- Kapal tertahan harus lalui verifikasi ketat IRGC; biaya transito yang ditarik Iran capai $2 juta per kapal.
Suara.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai titik nadir baru. Blokade de facto yang dilakukan Iran di Selat Hormuz sebagai respons atas perang Amerika Serikat-Israel telah memicu salah satu krisis energi terdahsyat dalam sejarah modern.
Selat Hormuz, jalur maritim yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, kini menjadi "sandera" politik Teheran.
Dampaknya sangat nyata; hampir 2.000 kapal tanker saat ini tertahan di sekitar selat sempit yang memisahkan Iran dengan Oman dan Uni Emirat Arab tersebut.
Rencana "Pajak Keamanan" dan Sistem Pos Pungutan
Parlemen Iran dikabarkan tengah menggodok undang-undang untuk melegalkan penarikan biaya atau tol bagi setiap kapal yang melintas.
Ketua Komite Urusan Sipil Parlemen Iran menyatakan bahwa draf aturan ini segera difinalisasi oleh Majelis Permusyawaratan Islam.
"Menurut rencana ini, Iran harus memungut biaya untuk menjamin keamanan kapal yang melewati Selat Hormuz. Ini sangat alami, sama seperti koridor darat yang memungut bea masuk," ujar salah satu pejabat Iran, seperti laporan Al Jazeera.
Namun, laporan dari jurnal pelayaran Lloyd’s List menyebutkan bahwa meski payung hukumnya belum resmi, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) telah lebih dulu menerapkan sistem "Toll Booth" atau pos pungutan liar untuk mengontrol lalu lintas kapal.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kapal-kapal yang ingin melintas harus melalui prosedur pemeriksaan ketat yang dikendalikan oleh perantara yang terhubung dengan IRGC:
Baca Juga: Beda Nasib Indonesia dan Malaysia di Selat Hormuz, Kenapa Pemerintah Tak Mampu Lobi Iran?
- Pengajuan Data: Operator kapal wajib menyerahkan detail dokumen, nomor IMO, jenis kargo, daftar kru, hingga tujuan akhir.
- Verifikasi (Vetting): Komando Angkatan Laut IRGC memeriksa data tersebut. Jika lolos, kapal diberikan kode izin dan rute khusus.
- Pengawalan Militer: Saat berada di selat, komandan IRGC akan meminta kode izin melalui radio VHF. Jika valid, kapal cepat Iran akan datang untuk mengawal tanker tersebut melewati perairan teritorial di sekitar Pulau Larak.
Bagi kapal yang gagal dalam penyaringan, mereka dilarang melintas. Komandan AL IRGC, Alireza Tangsiri—yang dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel pada Rabu malam—sebelumnya menyatakan bahwa koordinasi penuh dengan otoritas maritim Iran adalah syarat mutlak.
Blokade ini telah melambungkan harga minyak mentah dunia hingga melampaui $100 per barel, naik sekitar 40 persen sejak perang meletus pada 28 Februari lalu.
Negara-negara di Asia mulai merasakan dampak terberat, memaksa pemerintah melakukan penjatahan bahan bakar dan memangkas produksi industri.
Iran sendiri secara terbuka mengakui telah menarik biaya transito dari beberapa kapal. Anggota parlemen Alaeddin Boroujerdi menyebutkan biaya tersebut bisa mencapai $2 juta per kapal.
"Perang membutuhkan biaya, dan wajar jika kami mengambil biaya transito dari kapal yang lewat," tegasnya.
Secara hukum internasional (UNCLOS Pasal 38), setiap kapal memiliki hak "transit passage" yang tidak boleh dihentikan oleh negara mana pun.
Berita Terkait
-
15 Butir Rencana Damai Trump: Apa Saja Isinya dan Mengapa Iran Menolak?
-
Heboh Ribuan Burung Gagak Terbang di Langit Tel Aviv, Benarkah Tanda Kiamat?
-
Fluktuasi Kurs Rupiah, Harga Pangan Lokal Makin Tercekik Biaya Produksi
-
Rupiah Terus Lemas, Kurs Dolar AS di Jual Rp17.000 di Mandiri, BNI, BRI, dan BCA
-
Menlu Amerika Serikat Klaim Ada Kemajuan Pembicaraan dengan Iran
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
- 7 Sepatu Lari Lokal Paling Underrated 2026: Kualitasnya Dipuji Runner, Tapi Masih Jarang Dilirik
Pilihan
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
Terkini
-
Jelang Rebalancing MSCI, Emiten Sinarmas DSSA Ditinggal Kabur Investor Asing
-
Telkom Bukukan Kinerja Resilience pada FY25, Hasilkan Total Shareholder Return 35,7%
-
BRI Multiguna Karya Mempermudah Berbagai Rencana Untuk Segala Kebutuhan
-
Purbaya Ancam Potong Anggaran Kementerian dan TKD Pemda Jika Hambat Proyek Investasi
-
Rupiah Terkapar ke Level Rp17.529 per Dolar AS, Cetak Rekor Buruk Baru Sore Ini
-
PTFI dan Masyarakat Papua Tengah: 10 Tahun Perubahan, Harapan Baru untuk Ekonomi Berkelanjutan
-
Langkah Tegas, DJP Jawa Timur Blokir Rekening 3.185 Penunggak Pajak di 11 Bank
-
Pesan Tegas Purbaya: Jabatan Adalah Fungsi Pelayanan, Bukan Sekadar Fasilitas
-
Si Kaya Borong Mobil Listrik, Si Miskin Ribut Upah Tak Naik
-
Rupiah Anjlok Rp17.500 per Dolar AS, Suku Bunga Berpotensi Naik