- IHSG naik hingga 2,45 persen di awal sesi, didominasi 465 saham menguat.
- Sentimen global positif berasal dari Wall Street dan gencatan senjata AS-Iran.
- Status Indonesia di FTSE sebagai Secondary Emerging Market menopang kepercayaan investor.
Suara.com - Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bangkit pada awal perdagangan Rabu, 8 April 2026. IHSG melesat 2 persen ke level 7.162.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.06 WIB, IHSG terus meroket 2,45 persen ke level 7.141.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 4,51 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 2,40 triliun, serta frekuensi sebanyak 196.500 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 465 saham bergerak naik, sedangkan 105 saham mengalami penurunan, dan 388 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, PMJS, IFSH, GTSI, RIGS, BBRM, CASH.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, YPAS, PTSIP, VOKS, SMLE, MEDC, OLIS, CBPE.
Proyeksi IHSG
IHSG diproyeksikan bergerak menguat pada perdagangan hari ini, ditopang sentimen positif dari global hingga domestik.
Riset CGS International Sekuritas Indonesia menyebutkan, penguatan mayoritas indeks di Wall Street menjadi salah satu faktor utama yang mendorong optimisme pasar.
Baca Juga: FTSE Pertahankan IHSG di 'Secondary Emerging Market', Ini Dampaknya
Selain itu, kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran selama dua pekan turut meredakan kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik global.
Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang setelah FTSE Russell mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market, yang dinilai menjaga daya tarik pasar modal Tanah Air di mata investor global.
"Menguatnya sebagian besar indeks di bursa Wall Street, disetujuinya gencatan senjata selama dua minggu oleh Amerika dan Iran, serta dipertahankannya stastus Indonesia di Secondary Emerging Market oleh FTSE diprediksi akan menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan," tulis riset tersebut.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang support di level 6.900 hingga 6.830 dan resist di kisaran 7.040 sampai 7.115.
Adapun sejumlah saham yang direkomendasikan untuk dicermati pelaku pasar antara lain AKRA, INDY, MEDC, JPFA, CPIN, serta MAPA yang seluruhnya direkomendasikan buy.
Dengan kombinasi sentimen global yang mulai kondusif dan dukungan dari faktor domestik, IHSG berpotensi melanjutkan tren penguatan dalam jangka pendek.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- 7 Bedak Anti Luntur Kena Keringat saat Cuaca Panas, Makeup Tetap On Seharian
- Geger! Saiful Mujani Serukan "Gulingkan Prabowo": Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 4 HP Tahan Air yang Bisa Digunakan saat Berenang, Anti Rusak dan Anti Rewel
Pilihan
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
-
Berkas 4 Oknum BAIS TNI Tersangka Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Dilimpahkan ke Otmil
Terkini
-
IHSG Terbang 3% ke Level 7.207 di Sesi I, 592 Saham Naik
-
Cadangan Devisa Indonesia Mulai Menipis, Sisa Rp2.519 Triliun
-
Target Emisi Tercapai, Pertamina Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Energi
-
Pangkas Ketergantungan APBN, Pemerintah Segera Revisi Perpres Cadangan Penyangga Energi
-
Sejarah Kelam Rp17.100 per Dolar AS: Bagaimana Konflik Timur Tengah Menguras Kas APBN Kita?
-
Kesepakatan AS-Iran: Gencatan Senjata Dimulai, Selat Hormuz Kembali Dibuka
-
Emas Antam Naik Lagi, Hari Ini Dibanderol Rp 2,9 Juta/Gram
-
Harga Pangan Mulai Melandai, Tapi Cabai Masih Tinggi
-
Pembatasan BBM Subsidi 50 Liter per Hari Berlaku sampai Mei 2026
-
Kenapa Harga E-Katalog Lebih Mahal? Begini Penjelasan LKPP