- Indeks S&P 500 dan Dow Jones menguat tipis, sementara Nasdaq melemah di tengah volatilitas pasar.
- Harapan penundaan konflik AS-Iran oleh proposal Pakistan menjadi sentimen positif bagi investor.
- Saham Broadcom melonjak sekitar 6 pers setelah memperluas kerja sama AI dengan Google dan Anthropic.
Suara.com - Perdagangan bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat tipis pada Selasa, 7 April 2026. Akan tetapi hanya dua indeks saham yang menghijau.
Menukil CNBC, indeks S&P 500 naik 0,08 persen dan ditutup di level 6.616,85. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average menguat 0,10 persen ke 22.017,85.
Lalu, Nasdaq Composite justru melemah 0,18 persen atau turun 85,42 poin ke posisi 46.584,46.
Penguatan indeks terjadi menjelang akhir sesi perdagangan setelah muncul kabar bahwa Pakistan mengajukan proposal untuk meredakan ketegangan antara AS dan Iran.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, dilaporkan meminta Presiden AS Donald Trump menunda tenggat waktu serangan terhadap infrastruktur Iran selama dua pekan.
Tak hanya itu, Pakistan juga meminta Iran membuka kembali Selat Hormuz selama dua minggu sebagai bentuk itikad baik.
Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan bahwa Trump telah mengetahui proposal tersebut dan akan segera memberikan tanggapan.
Sebelumnya, pasar sempat tertekan setelah Trump menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Pernyataan keras Trump bahkan sempat memicu kekhawatiran investor.
"Seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi mungkin akan terjadi," tulis Trump dalam unggahannya.
Baca Juga: BEI Gembok Saham YPAS, UDNG, dan POLY, Investor Diminta Waspada
Di tengah dinamika pasar, saham Broadcom menjadi salah satu yang mencuri perhatian setelah melonjak sekitar 6 persen. Kenaikan ini terjadi usai perusahaan memperluas kerja sama kecerdasan buatan dengan Google dan Anthropic.
Kepala investasi Facet, Tom Graff, menilai harga minyak kemungkinan masih akan bertahan tinggi di tengah konflik, meskipun penutupan Selat Hormuz dinilai hanya sebagai bagian dari strategi negosiasi.
"Saya rasa penutupan Selat selama berbulan-bulan bukanlah hal yang berkelanjutan," kata dia kepada CNBC.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Misbakhun: APBN Mustahil Bangkrut
-
Ini Strategi BTN Salurkan Kredit Perumahan Bagi Masyarakat
-
Ekonom UI: Masyarakat Kok Makin Miskin kala Pemerintah Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen
-
Misbakhun Nilai Pelemahan Rupiah Sekarang Tak Seburuk 1998
-
IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi
-
Isu Sejumlah Merek Kendaraan Dilarang Beli Pertalite, Pertamina: Hoaks!
-
Pasca-Blackout Sumatra, Pasokan Listrik 8,3 Juta Pelanggan Diklaim PLN Mulai Pulih
-
Indikasi Awal, PLN Sebut Gangguan Cuaca jadi Penyebab Blackout di Sumatera
-
LPS Ajak Generasi Muda Kuasai Teknologi dan Mitigasi Risiko Keuangan
-
Aceh hingga Jambi Mati Blackout, Dirut PLN Minta Maaf!