- Kenaikan harga BBM nonsubsidi per 18 April 2026 memicu kekhawatiran Celios terkait potensi perpindahan konsumsi ke BBM bersubsidi.
- Pergeseran konsumen sektor industri dan menengah ke atas ke BBM subsidi berisiko menyebabkan defisit stok solar nasional.
- Celios menyarankan pemerintah memperketat pengawasan distribusi serta memberikan insentif bagi pelaku usaha pengguna BBM nonsubsidi yang terdampak.
Suara.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang terjadi di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia memicu kekhawatiran akan terjadinya ketidakseimbangan distribusi energi di dalam negeri.
Pusat Studi Ekonomi dan Hukum (Center of Economic and Law Studies — Celios) menekankan pentingnya pemerintah memperketat pengawasan penyaluran BBM bersubsidi guna mengantisipasi perpindahan konsumsi secara masif dari sektor industri dan menengah ke atas.
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira Adhinegara, menyatakan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan langkah yang wajar mengikuti pergerakan pasar dan Indonesian Crude Price (ICP).
Namun, ia menyoroti besarnya selisih harga yang kini tercipta, yang berpotensi memicu kerawanan pada stok BBM penugasan atau subsidi.
Fokus utama kekhawatiran Celios tertuju pada kenaikan harga Pertamina Dex yang sangat tajam. Per 18 April 2026, harga Pertamina Dex melonjak sekitar 60 persen, dari Rp14.500 per liter menjadi Rp23.900 per liter.
Bhima menjelaskan bahwa jenis BBM ini bukan hanya dikonsumsi oleh kendaraan pribadi mewah, melainkan menjadi komponen vital dalam operasional mesin industri.
"Pertamina Dex ini juga banyak digunakan oleh mesin-mesin industri, alat berat di sektor pertambangan, hingga sektor perkebunan sawit. Dengan kenaikan yang sangat signifikan ini, ada potensi pergeseran konsumen yang beralih menggunakan solar subsidi karena harganya tetap," ujar Bhima dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (19/4/2026).
Jika migrasi konsumsi ini terjadi, pasokan solar subsidi dikhawatirkan akan mengalami defisit atau kebocoran di lapangan. Bhima menekankan bahwa pengawasan ketat harus difokuskan pada wilayah di luar Pulau Jawa, terutama di kawasan yang menjadi pusat industri ekstraktif seperti pertambangan dan perkebunan, serta pada jalur distribusi logistik.
Pergeseran Konsumsi di Sektor Gasoline
Baca Juga: Harga BBM Dijaga Tetap Stabil, Pertamina Imbau Masyarakat Hemat Energi
Selain di sektor diesel, tekanan harga juga terjadi pada segmen bensin nonsubsidi. Harga Pertamax Turbo di wilayah DKI Jakarta terpantau naik menjadi Rp19.400 per liter, dibandingkan harga awal April yang berada di level Rp13.100 per liter.
Tingginya harga Pertamax Turbo diprediksi akan menurunkan minat beli konsumen secara drastis. Namun, masalah baru muncul ketika para pengguna bensin oktan tinggi tersebut diperkirakan akan turun kelas (downgrade) ke jenis Pertamax.
Selisih harga antara harga pasar (keekonomian) dengan harga jual Pertamax yang masih lebar dinilai akan menambah beban kompensasi yang harus ditanggung negara atau badan usaha.
Bhima menilai tren kenaikan harga BBM seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex saat ini bersifat sementara (temporer).
Hal ini didorong oleh ekspektasi pasar bahwa harga minyak dunia akan melandai seiring menurunnya tensi geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah.
Meski demikian, untuk menjaga stabilitas ekonomi di tingkat produsen, Celios menyarankan agar pemerintah tidak hanya fokus pada aspek pengawasan, tetapi juga pemberian stimulus.
"Pemerintah perlu mempertimbangkan pemberian insentif bagi pelaku usaha yang tetap berkomitmen membeli BBM nonsubsidi. Ini penting untuk meringankan biaya produksi yang membengkak," lanjut Bhima.
Tag
Berita Terkait
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup, Ini Penjelasan Kemlu SOal Nasib 2 Kapal Tanker Pertamina
-
2 Tanker Pertamina Belum Bisa Bergerak, IRGC Perketat Selat Hormuz
-
Gas Ikut Naik! Harga LPG Nonsubsidi Melonjak di Tengah Kenaikan BBM
-
Harga BBM Naik, Pramono Minta Warga DKI Hijrah ke Transportasi Umum
-
Krisis BBM Mengintai, Guru Besar UGM Tawarkan Solusi dari Nyamplung dan Malapari
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
Pilihan
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
-
Siasat Dadan Hindayana Cs Korupsi MBG: Pakai Yayasan Sendiri, Sedot Miliaran Rupiah Tiap Hari!
-
Momen Unik Penahanan Dadan Cs, Satu Tersangka Tertinggal Mobil Tahanan hingga 'Dikepung' Wartawan
-
Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Kejagung Resmi Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs
Terkini
-
Rupiah Tembus Rp18.000, Bank Indonesia Siapkan Langkah Intervensi
-
Purbaya Ngotot Bantah Rupiah Lemah Gegara Fiskal, Siap Buka-bukaan Minggu Depan
-
Mohon Bersabar Emak-emak! HET MinyaKita Pasti Naik Tapi Harganya Belum Ditentukan
-
Pemicu IHSG Anjlok 3% hingga 716 Saham Merah di Perdagangan Sesi I
-
IHSG Kacau-Balau, Analis Sarankan Investor Ritel Hati-hati dan Perlu Jaga Modal
-
Ancaman Siber Bergeser ke Pengguna, Indodax Gencarkan Edukasi Anti-Phishing
-
Jebloknya Rupiah Jadi Sorotan Media Asing, Sebut Mata Uang Paling Buruk
-
Investor Waspada! IHSG Bisa Menuju ke Level 5.500
-
IHSG Ambruk 4,11 Persen, Purbaya Sebut Rumor Downgrade Rating Indonesia Picu Kepanikan Pasar
-
Rupiah Jebol Rp18.000, Dunia Usaha Kian Tercekik Biaya Produksi