- Presiden China Xi Jinping mendesak pembukaan Selat Hormuz bagi navigasi internasional guna menjaga stabilitas rantai pasokan energi global.
- Pernyataan tersebut disampaikan kepada Putra Mahkota Arab Saudi sebagai respons atas meningkatnya ketegangan akibat blokade maritim Amerika Serikat.
- Xi menyerukan penghentian permusuhan di Timur Tengah agar negara kawasan mampu mengelola stabilitas tanpa adanya intervensi pihak eksternal.
Suara.com - Presiden China Xi Jinping secara tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk navigasi internasional setiap saat.
Pernyataan ini disampaikan Xi dalam pembicaraan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, menyusul meningkatnya ketegangan maritim di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan laporan media pemerintah China, CCTV, Xi Jinping menekankan bahwa kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz merupakan kepentingan vital, tidak hanya bagi negara-negara di kawasan, tetapi juga bagi stabilitas komunitas internasional secara keseluruhan.
"Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk navigasi normal, karena ini melayani kepentingan bersama negara-negara di kawasan dan komunitas internasional," menurut kutipan pernyataan Xi yang dilaporkan oleh CCTV dalam percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
Jalur ini merupakan arteri utama energi dunia yang menghubungkan produsen minyak Timur Tengah dengan pasar global.
Dalam dialog tersebut, pemimpin China tersebut menyatakan dukungannya bagi negara-negara Timur Tengah untuk membangun stabilitas berdasarkan prinsip bertetangga yang baik.
Xi mengusung konsep pembangunan "rumah bersama" yang berlandaskan pada keamanan kolektif dan kerja sama yang erat.
Xi Jinping menggarisbawahi pentingnya bagi negara-negara di kawasan untuk memegang kendali atas masa depan dan takdir mereka sendiri tanpa campur tangan eksternal yang destruktif.
Selain itu, Xi kembali menyuarakan seruan mendesak untuk segera melakukan gencatan senjata dan menghentikan segala bentuk permusuhan di wilayah Timur Tengah guna mencegah krisis kemanusiaan dan ekonomi yang lebih dalam.
Baca Juga: Rudal AS-Israel Tewaskan 3375 Warga Iran, 40 Persen Korban Tak Bisa Dikenali
Ketegangan di Selat Hormuz memuncak setelah Angkatan Laut Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade total terhadap lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran sejak 13 April lalu.
Langkah Washington ini berdampak signifikan mengingat Selat Hormuz menyumbang sekitar 20 persen dari total pasokan minyak mentah, produk minyak bumi, serta gas alam cair (LNG) dunia.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa blokade ini secara spesifik menargetkan aset-aset Iran. Washington menyatakan bahwa kapal-kapal berbendera non-Iran tetap diizinkan melintasi selat tersebut dengan satu syarat mutlak: tidak melakukan pembayaran bea atau pajak apa pun kepada pemerintah Teheran.
Di sisi lain, otoritas Iran hingga saat ini belum secara resmi mengumumkan pemberlakuan bea bagi kapal yang melintasi wilayah perairan mereka.
Namun, rencana pengenaan biaya tersebut telah menjadi topik diskusi hangat di internal pemerintahan Teheran sebagai bentuk respons terhadap sanksi ekonomi yang kian menjepit.
Sikap China yang menekankan kebebasan navigasi ini menunjukkan kekhawatiran Beijing terhadap potensi disrupsi rantai pasok energi global.
Berita Terkait
-
PIS: 94 Persen Kru Kapal Pertamina Adalah WNI
-
Bocor! Trump Teriak-teriak selama 2 Jam hingga Diusir dari Ruangan saat 2 Pilot Jatuh di Iran
-
Apa yang Terjadi Jika Iran Menang Perang? Pengamat Sebut Peta Timur Tengah Akan Berubah
-
Kerusakan Serangan Iran ke Israel, Bikin 1000 Lebih Rumah Tak Layak Huni
-
Ribuan Perempuan Iran Turun ke Jalan, Sumpah Setia ke Mojtaba Khamenei Menggema
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan