Bisnis / Keuangan
Selasa, 21 April 2026 | 07:39 WIB
Bursa Saham Wall Street New York AS
Baca 10 detik
  • Indeks utama Wall Street melemah pada 20 April 2026 akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
  • Dow Jones mengakhiri tren penguatan selama 13 hari, sementara harga minyak dunia melonjak tajam setelah peristiwa penyitaan kapal.
  • Russell 2000 justru mencetak rekor penutupan baru dan sektor perangkat lunak mencatatkan kenaikan di tengah kondisi pasar tersebut.

Suara.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street anjlok pada perdagangan, Senin, 20 April 2026. Semua indeks utama Wall Street mengalami kemerosotan tipis.

Seperti dilansir CNBC, Selasa, 21 April 2026, Indeks S&P 500 tercatat turun 0,24 persen dan ditutup di level 7.109.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 0,26 persen ke posisi 24.404 sekaligus mengakhiri tren penguatan selama 13 hari berturut-turut yang merupakan reli terpanjang sejak 1992.

Di sisi lain, Nasdaq Composite relatif stagnan dengan penurunan tipis 0,01 persen atau 4,87 poin ke level 49.442.

Berbeda dengan indeks utama, Russell 2000 justru menguat 0,58 persen menjadi 2.792 dan mencetak rekor penutupan baru, bahkan sempat menyentuh level intraday tertinggi sepanjang masa.

Ilustrasi perdagangan saham Wall Street. [Unsplash].

Pelaku pasar disebut masih kesulitan mengantisipasi skenario terburuk dari konflik tersebut, terutama di tengah reli saham yang sebelumnya membawa indeks mendekati level tertinggi sepanjang masa.

"Perang dengan Iran kini telah menjadi masa lalu bagi pasar," kata David Wagner, kepala ekuitas dan manajer portofolio di Aptus Capital Advisors, kepada CNBC.

Dari sisi sektoral, saham perangkat lunak mencatatkan kenaikan, tercermin dari penguatan iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV) yang naik lebih dari 1%.

Ketegangan meningkat setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS telah menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman. Langkah ini diambil setelah Iran menolak bergabung dalam perundingan damai lanjutan di Pakistan.

Baca Juga: Wall Street Mulai Anjlok Lagi Setelan Tensi Peran Memanas Lagi

Kapal tersebut, menurut Trump, berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS karena riwayat aktivitas ilegal. “Kami memiliki kendali penuh atas kapal tersebut, dan sedang memeriksa apa yang ada di dalamnya!” tulis Trump di Truth Social.

Trump juga mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran jika negara tersebut tidak menyetujui kesepakatan dengan AS. Adapun gencatan senjata antara kedua negara dijadwalkan berakhir dalam waktu dekat.

Seiring meningkatnya tensi, harga minyak dunia langsung melonjak. Kontrak berjangka West Texas Intermediate ditutup naik 6,87% ke level 89,61 dolar AS per barel. Sementara Brent Crude menguat 5,64 persen menjadi 95,48 dolar AS per barel.

Padahal, pada pekan sebelumnya Wall Street mencatatkan kinerja positif, dengan S&P 500 dan Nasdaq menyentuh rekor tertinggi setelah adanya gencatan senjata antara Iran dan Lebanon. Saat itu, Iran juga sempat menyatakan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz telah kembali dibuka.

Namun, kondisi kembali berubah setelah laporan media pemerintah Iran menyebutkan bahwa AS tidak memenuhi kewajibannya, sehingga pembatasan lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut kembali diberlakukan.

Meski demikian, Wagner menilai reli pasar saham masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.

Load More