- Pemerintah menetapkan cuti bersama pada 15 Mei 2026, menyebabkan Bursa Efek Indonesia libur selama empat hari berturut-turut.
- IHSG merosot 1,98% ke posisi 6.723 pada 13 Mei 2026 akibat aksi jual masif terkait rebalancing indeks MSCI.
- Pelemahan nilai tukar rupiah ke level Rp17.600 per dolar AS memicu kekhawatiran kenaikan harga barang kebutuhan pokok masyarakat.
Aksi Jual Investor Asing Tembus Rp1,53 Triliun
Perubahan komposisi pada indeks MSCI terbukti memberikan dampak psikologis dan riil yang besar bagi pergerakan dana di pasar modal. Investor asing memanfaatkan momentum sebelum libur untuk menarik dana mereka dari bursa domestik secara masif.
Pada perdagangan Rabu (13/5), investor asing membukukan nilai jual bersih (net sell) yang sangat besar, mencapai Rp1,53 triliun di seluruh pasar Indonesia. Berikut adalah daftar saham-saham berkapitalisasi besar yang paling banyak dilepas oleh investor asing:
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Nilai jual bersih mencapai Rp273,55 miar.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Nilai jual bersih mencapai Rp139,76 miar.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): Nilai jual bersih mencapai Rp134,73 miar.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Nilai jual bersih mencapai Rp91,76 miar.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Nilai jual bersih mencapai Rp85,88 miar.
Rupiah Melemah ke Rp17.600, Beban Biaya Hidup Mengancam
Kondisi pasar modal yang tertekan semakin diperparah oleh situasi di pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan rekor terlemah baru sepanjang sejarah. Hingga Jumat (15/5), kurs rupiah bertengger di level Rp17.600 per dolar AS.
Peta ekonomi makro ini memaksa masyarakat, khususnya kelas pekerja urban di kota-kota besar, untuk mulai bersiap mengencangkan ikat pinggang karena potensi kenaikan harga barang pokok sudah di depan mata.
Struktur ekonomi Indonesia saat ini masih memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap bahan baku impor, dengan porsi mencapai 70%.
Ketergantungan ini tersebar luas di sektor-sektor vital seperti industri kimia, elektronik, tekstil, obat-obatan, minyak dan gas, hingga industri kendaraan. Komoditas dan barang jadi dari sektor-sektor ini merupakan barang yang lazim ditemui di dalam laci, kamar, maupun dapur masyarakat sehari-hari.
Baca Juga: Rupiah Terjun Bebas ke Level 17.500 Industri Otomotif Terancam Kehilangan Konsumen
Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pengadaan bahan baku impor otomatis melonjak tajam karena transaksi internasional menggunakan mata uang dolar AS. Kondisi pelik ini diamini oleh Teuku Riefky, seorang peneliti makroekonomi dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI).
"Ini membuat cost of production (biaya produksi) produsen domestik menjadi semakin mahal," kata Teuku Riefky.
Menghadapi tekanan biaya produksi ini, dunia usaha dihadapkan pada dua pilihan sulit: menaikkan harga jual ke konsumen atau memotong margin keuntungan perusahaan.
Namun, realita di lapangan sering kali memperlihatkan bahwa produsen cenderung mengambil opsi menaikkan harga atau menerapkan strategi penghematan dengan mengurangi porsi produk (shrinkflation).
Berita Terkait
-
Masih Nongkrong di Kafe Saat Rupiah Anjlok? Pikirkan Lagi, Ini Risikonya buat Anak Kos
-
Bocoran Tanggal Pre-Order GTA 6 Beredar, Saham Take-Two Langsung Melesat
-
Pernyataan Prabowo Bikin Riuh, Sebut 'Mbak Titiek' Pusing Gara-gara Dolar
-
Prabowo: Selama Purbaya Bisa Senyum, Tak Perlu Khawatir Soal Dolar
-
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Pakar Prediksi Harga BBM Nonsubsidi dan Bahan Baku Impor Naik!
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Nasabah PNM Mekaar Buktikan Pemberdayaan Perempuan Bisa Menguatkan Ekonomi Keluarga
-
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Pakar Prediksi Harga BBM Nonsubsidi dan Bahan Baku Impor Naik!
-
Rupiah Tembus Rp17.600, Prabowo: Yang Pusing Pengusaha!
-
Permintaan Emas Batangan di Indonesia Melonjak 47%, Warga Ogah Lirik Saham?
-
Menjelang Bitcoin Pizza Day, Member Indodax Hampir Tembus 10 Juta Pengguna
-
Kesabaran Trump ke Iran Habis, Harga Minyak Naik Lagi
-
IPC TPK Area Panjang Datangkan Crane Raksasa Post Panamax dari China
-
Bagi-bagi Jabatan! Trump Tunjuk Sahabat Dekat Untuk Jadi Bos The Fed
-
Perkuat Investasi Teknologi, Presiden Prabowo Saksi Penandatanganan MoU Danantara dan Hisense
-
Airlangga Bawa Pulang Komitmen Bisnis Rp7 Triliun dari Belarus