Bisnis / Ekopol
Senin, 18 Mei 2026 | 12:14 WIB
Ilustrasi nilai tukar rupiah. (pexels.com/Robert Lens)
Baca 10 detik
  • Mata uang rupiah melemah ke level Rp17.658 pada Senin (18/5/2026) akibat persepsi negatif dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto.
  • Pernyataan Presiden yang meremehkan dampak pelemahan rupiah terhadap warga desa dinilai tidak tepat dan memicu ketidakpastian pasar.
  • Pelemahan rupiah berdampak luas pada kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya energi, serta beban impor minyak bagi seluruh masyarakat.

Suara.com - Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah pada Senin (18/5/2026) ke level Rp17.658, diakibatkan oleh pernyataan Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu.

Prabowo sebelumnya menyebut, masyarakat desa tidak terlalu merasakan dampak pelemahan rupiah karena tidak menggunakan dolar.

Bagi Ibrahim, pernyataan tersebut justru dinilai menimbulkan persepsi negatif di pasar karena dianggap meremehkan tekanan kurs terhadap ekonomi nasional, padahal pelemahan rupiah memiliki efek luas hingga ke kebutuhan dasar masyarakat.

Ia menilai, narasi bahwa warga desa tidak terdampak karena tidak bertransaksi langsung dengan dolar tidak sepenuhnya tepat.

Menurut dia, pelemahan rupiah tetap berimbas melalui kenaikan harga barang impor, biaya energi, logistik, hingga tekanan inflasi yang pada akhirnya dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

“Ya, rupanya pernyataan dari Presiden Prabowo ini juga berakibat fatal terhadap pelemahan mata uang rupiah,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Senin (17/5/2026).

Presiden Prabowo Subianto berpidato pada peresmian 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026). [Tangkapan layar]

Ibrahim menjelaskan, saat dolar menguat, Indonesia menghadapi beban besar terutama dari impor minyak mentah yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari.

Kondisi ini dapat memperbesar tekanan terhadap APBN, subsidi energi, dan harga kebutuhan masyarakat secara luas, termasuk di pedesaan.

“Kita tahu bahwa pada saat dolar mengalami penguatan, harga minyak mentah mengalami penguatan, kemudian berdampak terhadap impor minyak yang begitu besar, 1,5 juta barel per hari,” beber dia.

Baca Juga: Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo

Selain faktor impor, ia juga menyoroti perpindahan dana masyarakat dari tabungan rupiah ke valuta asing sebagai respons atas pelemahan kurs.

Menurut Ibrahim, kondisi ini bisa mempercepat tekanan terhadap rupiah jika kepercayaan publik terus menurun.

“Kemudian masyarakat berpindah menabung dari tabungan rupiah menjadi valuta asing. Ini membuat apa? Membuat rupiah terus mengalami pelemahan,” ucapnya.

Ibrahim juga menilai pernyataan Presiden soal warga desa justru berisiko menimbulkan kesan bahwa pemerintah kurang memahami perubahan perilaku masyarakat saat ini.

Ia menegaskan, akses teknologi membuat masyarakat desa kini jauh lebih sadar terhadap isu ekonomi global dibanding masa lalu.

“Ya, di desa pun juga banyak orang juga tahu tentang dolar, ya, karena apa? Sekarang zaman teknologi,” kata Ibrahim.

Load More