- IHSG diproyeksikan bergerak bervariasi dengan potensi penguatan terbatas pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026 di bursa Indonesia.
- Pasar saham tertekan oleh pelemahan nilai tukar rupiah, arus keluar modal asing, serta kebijakan tata niaga ekspor.
- Indeks acuan sempat terdepresiasi 8,5 persen pekan lalu, namun indikator teknikal kini menunjukkan sinyal awal pembalikan arah pasar.
Suara.com - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bakal bergerak bervariasi (mixed) dengan kecenderungan menguat dalam rentang yang terbatas pada perdagangan Senin (25/5/2026).
Kendati ada peluang pembalikan arah, pasar saham Indonesia dinilai masih rawan tergelincir ke zona koreksi akibat himpitan sentimen makro, baik dari panggung domestik maupun global.
Arah laju pasar modal saat ini tengah diuji oleh kombinasi tekanan yang cukup kompleks. Mulai dari tren pelemahan nilai tukar rupiah, derasnya aliran modal asing yang keluar (outflow), hingga dinamika rencana restrukturisasi tata niaga ekspor komoditas oleh pemerintah pusat.
Rapor merah membayangi performa bursa sepanjang pekan lalu. VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memaparkan bahwa dalam kurun waktu sepekan terakhir, indeks acuan telah mengalami depresiasi tajam hingga 8,5% dan terlempar ke posisi 6.162.
"Prospek IHSG hari ini pun menjadi perhatian pelaku pasar seiring meningkatnya volatilitas di pasar keuangan domestik," ungkap Audi saat dihubungi, Senin (25/5/2026).
Secara teknikal, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) memang mengonfirmasi adanya perlambatan tren momentum.
Namun, indikator Relative Strength Index (RSI) saat ini sudah memasuki area jenuh jual (oversold). Kondisi ini mengindikasikan bahwa indeks tengah berada dalam fase konsolidasi kritis dan mulai menunjukkan sinyal awal pembalikan arah (reversal).
Untuk perdagangan awal pekan ini, Kiwoom Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak pada koridor batas bawah (support) di level 5.909 dan batas atas (resistance) pada level 6.305.
Tiga Sentimen Utama yang Membayangi Lantai Bursa
Baca Juga: Mengapa Pasar Khawatir pada Danantara Sumber Daya Indonesia
Para analis menilai ada tiga faktor fundamental yang menahan laju agresivitas para investor di pasar ekuitas:
- Sentralisasi Ekspor Komoditas: Rencana pemerintah untuk memusatkan seluruh aktivitas pengapalan komoditas melalui satu pintu, yakni PT DSI, direspons negatif oleh pasar. Kebijakan ini dikhawatirkan bakal menggerus margin keuntungan emiten sektor komoditas. Pasalnya, skema penentuan harga jual rata-rata atau Average Selling Price (ASP) berisiko menjadi kaku dan kehilangan fleksibilitasnya di hadapan para pembeli premium internasional.
- Depresiasi Kurs Rupiah: Mata uang Garuda kembali mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat hingga mendarat ke posisi Rp17.712 per dolar AS. Pelemahan ini tetap terjadi meskipun Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah mengambil langkah kontraktif dengan mengerek suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps). Investor kini menantikan intervensi taktis lanjutan dari bank sentral demi menstabilkan nilai tukar.
- Sentimen Geopolitik Global: Dari luar negeri, pernyataan Senator AS Marco Rubio mengenai progres positif dalam pembicaraan damai dengan Iran dinilai menjadi angin segar yang mampu meredam gejolak harga energi dan memicu spekulasi positif di pasar finansial global.
Di sisi lain, durasi perdagangan bursa yang cenderung lebih pendek pada periode ini membuat pelaku pasar domestik memilih untuk bersikap hati-hati dan cenderung mengambil langkah wait and see.
Rekomendasi Saham Pilihan Analis
Menyikapi fluktuasi pasar yang dinamis, sejumlah sekuritas merilis daftar saham pilihan yang menarik untuk dicermati secara teknikal:
Kiwoom Sekuritas Indonesia
PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP): Direkomendasikan Speculative Buy dengan mencermati area support di Rp7.600 dan target resistance pada level Rp8.650.
PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA): Direkomendasikan Speculative Buy dengan batas support di Rp420 dan target resistance di Rp550.
MNC Sekuritas
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan IHSG bergerak pada area support 6.054 dan resistance 6.279.
Berita Terkait
-
Awas Aksi Jual Asing! Saham Perbankan Jadi Sasaran Empuk Profit Taking
-
Bantah Krisis 1998 Terulang, Purbaya: Saya Pinteran Dikit dari IMF
-
Kapan IHSG Kembali Dibuka Setelah Iduladha 2026, Ini Jadwalnya
-
IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi
-
IHSG Ambles 8,35% Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut Rp 1.190 Triliun
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status "Cucu Nabi" Demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Update Harga Emas Hari Ini 25 Mei 2026, Antam Sulit Tembus Level Rp3 Juta
-
Harga Minyak Mentah Dunia Anjlok ke Level Terendah Imbas Sinyal Damai AS-Iran
-
Jeritan Orang Desa Saat Dolar Tembus Rp17.600, dari Dapur, Pasar, hingga Industri Tahu
-
Gaji ke-13 ASN 2026 Cair Mulai Juni: Cek Jadwal dan Daftar Penerimanya
-
Daftar Lokasi dan Jadwal Perbaikan Tol Jakarta - Tangerang Periode Mei 2026
-
5 Cara Amankan Cicilan KPR saat Suku Bunga Naik
-
Daftar Negara dengan Utang Paling Ekstrem, Indonesia Termasuk?
-
Awas Aksi Jual Asing! Saham Perbankan Jadi Sasaran Empuk Profit Taking
-
Ekonom Ramal Rupiah Susah Turun ke Level Rp 16.000/USD
-
Bos GoTo Lapor ke Seskab Teddy, Telah Turunkan Potongan Komisi Ojol 8%