Bisnis / Keuangan
Selasa, 26 Mei 2026 | 16:09 WIB
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Rupiah ambruk ke Rp17.795 per dolar AS, nyaris menyentuh level psikologis Rp17.800.
  • Pelemahan dipicu sentimen domestik dan pasar saham yang negatif, bukan karena dolar AS.
  • Investor ragu pada dampak Danantara dan memilih wait and see terhadap aset SBN.

Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan performa minor pada perdagangan Selasa sore (26/5/2026). Mata uang Garuda kian tak bertenaga dan bergerak mendekati level psikologis baru di Rp17.800 per dolar AS akibat sentimen negatif isu domestik.

Mengutip data Bloomberg di pasar spot, rupiah ditutup ambruk ke level Rp17.795 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 50 poin atau setara 0,25 persen apabila dibandingkan dengan posisi penutupan pada Senin kemarin yang berada di level Rp17.744.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa rontoknya kurs rupiah kali ini murni dipicu oleh sentimen negatif dari dalam negeri. Kondisi ini terbilang ironis mengingat indeks dolar AS (DXY) sebenarnya sedang mengalami tren pelemahan.

"Pelemahan rupiah hari ini lebih banyak dipengaruhi faktor domestik. DXY walau naik, namun relatif terbatas, sehingga tekanan terhadap rupiah berasal dari sentimen dalam negeri," ujar Lukman saat dihubungi, Selasa (26/5/2026).

Menurut Lukman, rapor merah di pasar saham domestik menjadi indikator jelas bahwa minat risiko (risk appetite) investor asing belum pulih. Kondisi ini otomatis menempatkan rupiah dalam posisi tertekan.

Lebih lanjut, Lukman menilai langkah Bank Indonesia (BI) yang mengerek suku bunga acuan pada pekan lalu ternyata belum cukup kuat untuk memulihkan kepercayaan pasar.

Investor global saat ini justru cenderung mengambil sikap wait and see dan mulai menghindari Surat Berharga Negara (SBN). Keraguan pasar kian menebal seiring dengan rencana pembentukan lembaga baru, Danantara Sumber Daya Indonesia.

"Investor juga ragu terhadap Indonesia dengan adanya pembentukan Danantara Sumber Daya Indonesia. Selain itu, pasar mencermati defisit neraca transaksi berjalan yang cukup besar serta rencana ekspor one door (satu pintu) melalui Danantara yang sejauh ini belum direspons positif," urai Lukman.

Ke depan, pergerakan rupiah masih dibayangi ketidakpastian global, khususnya terkait respons Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan oleh AS.

Baca Juga: Aturan Ekspor Lewat Danantara Sumberdaya Indonesia Masih Abu-abu: Ternyata Tak Segampang Itu!

Meski demikian, Lukman menyebut rupiah masih memiliki peluang untuk bangkit dan membalikkan keadaan apabila bank sentral mengambil langkah konkret di pasar valuta asing.

"Kecuali ada perkembangan positif seputar proposal damai AS dan intervensi BI, rupiah diperkirakan masih akan melemah," pungkasnya.

Load More