- Pasar saham dan nilai tukar rupiah di Indonesia mengalami penurunan drastis akibat tekanan kepercayaan investor global sepanjang 2026.
- Kebijakan intervensi ekonomi serta agenda populis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memicu penarikan modal asing secara masif di pasar.
- Kekhawatiran terhadap ketidakseimbangan fiskal dan berkurangnya kredibilitas kebijakan menyebabkan obligasi pemerintah kehilangan daya tarik di mata pengelola dana internasional.
Mata uang rupiah menjadi indikator paling nyata dari kecemasan pasar, dengan akumulasi pelemahan mencapai 14 persen sejak masa jabatan presiden baru dimulai, sekaligus menempatkannya sebagai mata uang dengan kinerja terlemah di Asia sepanjang tahun 2026.
Rupiah secara resmi melewati level psikologis historis Rp18.000 per dolar AS pada 4 Juni, dan pasar opsi menunjukkan potensi penurunan lanjutan yang cukup besar:
Proyeksi Desember 2026: Para pelaku pasar melihat adanya probabilitas sebesar 45 persen bahwa rupiah dapat merosot ke level Rp19.000 per dolar AS.
Proyeksi Jangka Panjang: Terdapat peluang sebesar 27 persen nilai tukar rupiah akan merosot hingga ke level Rp20.000 per dolar AS dalam satu tahun ke depan.
Manajer Portofolio di Allspring Global Investments, Gary Tan, menjelaskan faktor fundamental di balik aksi ambil posisi jual (short) terhadap aset domestik.
"Pendorong utama di balik aksi jual pendek di Indonesia adalah prospek bearish untuk rupiah, di mana investor tetap khawatir tentang ketidakseimbangan makro dan kredibilitas kebijakan, khususnya di sisi fiskal," ujarnya.
Tekanan ini merembet serius ke pasar surat utang negara. Investor asing telah memangkas kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia sebesar Rp86 triliun, atau menyusut sekitar 9 persen sejak Agustus tahun lalu.
Kondisi ini membuat obligasi Indonesia mencatatkan kerugian lebih dari 8 persen bagi investor berbasis dolar AS sepanjang tahun 2026, berbanding terbalik dengan rata-rata utang pasar berkembang global yang masih tumbuh 1,6 persen.
Kekhawatiran lain yang muncul di kalangan analis adalah porsi kepemilikan utang pemerintah oleh bank sentral yang kian menebal.
Baca Juga: IHSG Ambruk 2,53% dan 624 Saham Anjlok di Sesi I, TINS Bisa Jadi Pilihan Investor
Bank Indonesia saat ini mendekap sekitar 27 persen dari total obligasi negara, sebuah angka yang dinilai tidak lazim untuk ukuran negara berkembang.
Manajer Portofolio GAMA Asset Management, Rajeev De Mello, menilai langkah tersebut telah bergeser dari tujuan awalnya.
"Apa yang awalnya dimulai sebagai pembelian untuk meningkatkan likuiditas pasar obligasi mungkin telah berubah menjadi semacam pelonggaran kuantitatif," kata Rajeev.
Kondisi pelarian modal ini pada akhirnya menghidupkan kembali kecemasan atas profil risiko kredit berdaulat (sovereign credit profile) Indonesia.
Padahal, predikat investment grade tersebut diraih dengan susah payah dari berbagai lembaga pemeringkat internasional pada rentang tahun 2012 hingga 2017.
Kepala Pendapatan Tetap Pasar Berkembang dan Asia-Pasifik di UBS Asset Management New York, Shamaila Khan, mengingatkan pentingnya menjaga kredibilitas regulasi tersebut.
"Indonesia sulit untuk mendapatkan kepercayaan investor, tapi begitu mudah untuk kehilangannya," ungkap Shamaila Khan.
Berita Terkait
-
Rupiah Melemah dan Daya Beli Turun, Indonesia Berpotensi Mengarah ke Krisis Ekonomi
-
Penyebab Rupiah Terus Merosot, Nilai Tukarnya Rp18.066 per Dolar Hari Ini
-
Hadapi Volatilitas Rupiah, Trader Pemula Disarankan Berlatih Melalui Akun Demo Terlebih Dahulu
-
Pelemahan Rupiah ke Rp 18.000 Ikut Ancam Industri Minuman Kemasan RI
-
Rupiah Tertahan di Rp18.018, Ketegangan Global dan UU P2SK Masih Menekan
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan