Bisnis / Inspiratif
Sabtu, 06 Juni 2026 | 08:24 WIB
Kebun lidah buaya KWT Sumber Boga di Padukuhan Tamanan, Kalasan, Sleman. (Dok. KWT Sumber Boga)
Baca 10 detik
  • Kelompok Wanita Tani Sumber Boga mengelola kebun lidah buaya di lahan bekas klinik peninggalan Belanda, Padukuhan Tamanan, Sleman.
  • Sejak 2019, lahan seluas 1.000 meter persegi tersebut dimanfaatkan untuk membudidayakan 1.200 tanaman lidah buaya secara berkelompok.
  • Bantuan teknologi pengairan IoT dari BRI pada 2024 mempermudah perawatan tanaman serta mendukung pengembangan UMKM produk olahan warga.

Suara.com - Kebun lidah buaya di Padukuhan Tamanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki pemandangan yang tidak biasa. Hamparan tanaman hijau itu tumbuh di lahan yang dulunya merupakan klinik kesehatan peninggalan Belanda.

Bangunan bersejarah tersebut adalah Klinik Pabrik Gula Randugunting yang berdiri pada 1870. Dulu, fungsinya adalah untuk melayani karyawan pribumi yang bekerja di Pabrik Gula Randugunting dan masyarakat sekitar.

Klinik ini terdiri dari tiga bangunan utama antara lain, yaitu bangsal perawatan, kantor, dan rumah dinas mantri. Tenaga kesehatan terdiri dari satu orang mantri dan dua perawat.

Kondisi eks Klinik Pabrik Gula Randugunting yang berdiri pada 1870 di Padukuhan Tamanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Suara.com/Irwan Febri)

Krisis ekonomi yang melanda pada 1930-an terpaksa membuat Klinik Pabrik Gula Randugunting berhenti beroperasi. Saat ini, klinik tersebut menjadi bagian dari jaringan rumah sakit pembantu milik Rumah Sakit (RS) Petronella, yang kini bernama RS Bethesda.

Setelah tak berfungsi, klinik ini terbengkalai. Halamannya dipenuhi semak belukar yang menutupi keberadaan bangunan-bangunan bersejarah tersebut.

Namun, kini halaman klinik peninggalan Belanda itu terlihat bersih dan kembali menghijau, lantaran disulap menjadi kebun lidah buaya yang dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber Boga.

Ketua KWT Sumber Boga, Nurul Komariyah, ketika menjenguk kebun lidah buaya. (Suara.com/Irwan Febri)

"Dulu kan di sini ada pabrik gula zaman Belanda, cerobongnya masih. Kliniknya di sini, sama Randugunting. Dulu pernah ada dari Belanda langsung ke sini, beberapa tahun yang lalu. Mereka napak tilas," kata Ketua KWT Sumber Boga, Nurul Komariyah, kepada Suara.com.

"Dulu depan rumah sakit itu semua semak belukar. Bekas tanaman toga, obat-obatan. Kan kami pakai tahun 2018-2019 itu dibersihkan kemudian izin untuk dipakai," lanjutnya.

Awalnya, kebun lidah buaya KWT Sumber Boga tidak berada di halaman klinik peninggalan Belanda, tetapi di sebuah lahan kecil desa. Dikarenakan bibit yang beranak pinak menjadi begitu banyak, alhasil dipindahkan ke lahan yang sekarang.

Baca Juga: Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya

Kebun lidah buaya KWT Sumber Boga di Padukuhan Tamanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Suara.com/Irwan Febri)

"Dulu kan kami waktu belajar, kami beli 200 bibit. Kami tanam di lahan Pak Dukuh, pojok desa sana. Itu semakin lama beranak pinak, otomatis butuh lahan banyak," ungkap Nurul.

"Akhirnya Pak Dukuh nembung lahan Bethesda untuk nanam itu. Itu kan kurang lebih 900-1.000 meter persegi dan kemudian dipindah ke situ," lanjutnya.

Di lahan seluas 1.000 meter persegi itu, kini tumbuh sekitar 1.200 tanaman lidah buaya yang dikelola ibu-ibu rumah tangga dari Padukuhan Tamanan.

Dulu Angkat-angkat Ember, Sekarang Tinggal Klik Pakai HP

KWT Sumber Boga memiliki anggota lebih dari 100 orang. Di lahan kebun yang luas itu, ibu-ibu kerap bergotong royong membawa ember untuk menyirami tanaman lidah buaya.

Kegiatan ini berlangsung selama bertahun-tahun sejak berpindah ke halaman bekas klinik itu pada 2019. Tentu banyak tenaga dan waktu yang dihabiskan untuk menyirami kebun lidah buaya.

Load More