- Kelompok Wanita Tani Sumber Boga mengelola kebun lidah buaya di lahan bekas klinik peninggalan Belanda, Padukuhan Tamanan, Sleman.
- Sejak 2019, lahan seluas 1.000 meter persegi tersebut dimanfaatkan untuk membudidayakan 1.200 tanaman lidah buaya secara berkelompok.
- Bantuan teknologi pengairan IoT dari BRI pada 2024 mempermudah perawatan tanaman serta mendukung pengembangan UMKM produk olahan warga.
Suara.com - Kebun lidah buaya di Padukuhan Tamanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki pemandangan yang tidak biasa. Hamparan tanaman hijau itu tumbuh di lahan yang dulunya merupakan klinik kesehatan peninggalan Belanda.
Bangunan bersejarah tersebut adalah Klinik Pabrik Gula Randugunting yang berdiri pada 1870. Dulu, fungsinya adalah untuk melayani karyawan pribumi yang bekerja di Pabrik Gula Randugunting dan masyarakat sekitar.
Klinik ini terdiri dari tiga bangunan utama antara lain, yaitu bangsal perawatan, kantor, dan rumah dinas mantri. Tenaga kesehatan terdiri dari satu orang mantri dan dua perawat.
Krisis ekonomi yang melanda pada 1930-an terpaksa membuat Klinik Pabrik Gula Randugunting berhenti beroperasi. Saat ini, klinik tersebut menjadi bagian dari jaringan rumah sakit pembantu milik Rumah Sakit (RS) Petronella, yang kini bernama RS Bethesda.
Setelah tak berfungsi, klinik ini terbengkalai. Halamannya dipenuhi semak belukar yang menutupi keberadaan bangunan-bangunan bersejarah tersebut.
Namun, kini halaman klinik peninggalan Belanda itu terlihat bersih dan kembali menghijau, lantaran disulap menjadi kebun lidah buaya yang dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber Boga.
"Dulu kan di sini ada pabrik gula zaman Belanda, cerobongnya masih. Kliniknya di sini, sama Randugunting. Dulu pernah ada dari Belanda langsung ke sini, beberapa tahun yang lalu. Mereka napak tilas," kata Ketua KWT Sumber Boga, Nurul Komariyah, kepada Suara.com.
"Dulu depan rumah sakit itu semua semak belukar. Bekas tanaman toga, obat-obatan. Kan kami pakai tahun 2018-2019 itu dibersihkan kemudian izin untuk dipakai," lanjutnya.
Awalnya, kebun lidah buaya KWT Sumber Boga tidak berada di halaman klinik peninggalan Belanda, tetapi di sebuah lahan kecil desa. Dikarenakan bibit yang beranak pinak menjadi begitu banyak, alhasil dipindahkan ke lahan yang sekarang.
Baca Juga: Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya
"Dulu kan kami waktu belajar, kami beli 200 bibit. Kami tanam di lahan Pak Dukuh, pojok desa sana. Itu semakin lama beranak pinak, otomatis butuh lahan banyak," ungkap Nurul.
"Akhirnya Pak Dukuh nembung lahan Bethesda untuk nanam itu. Itu kan kurang lebih 900-1.000 meter persegi dan kemudian dipindah ke situ," lanjutnya.
Di lahan seluas 1.000 meter persegi itu, kini tumbuh sekitar 1.200 tanaman lidah buaya yang dikelola ibu-ibu rumah tangga dari Padukuhan Tamanan.
Dulu Angkat-angkat Ember, Sekarang Tinggal Klik Pakai HP
KWT Sumber Boga memiliki anggota lebih dari 100 orang. Di lahan kebun yang luas itu, ibu-ibu kerap bergotong royong membawa ember untuk menyirami tanaman lidah buaya.
Kegiatan ini berlangsung selama bertahun-tahun sejak berpindah ke halaman bekas klinik itu pada 2019. Tentu banyak tenaga dan waktu yang dihabiskan untuk menyirami kebun lidah buaya.
Tag
Berita Terkait
-
Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya
-
Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa
-
Persib Bandung Buka Suara Terkait Sanksi FIFA, Ternyata Ini Penyebabnya
-
Resmi Berpisah, Ini Statistik Mentereng M Rahmat di Bali United
-
Gegana Tak Sanggup? Ahli Nuklir UGM Turun Tangan Selidiki Api Misterius di Sleman
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan