- Inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 melonjak menjadi 3,08% akibat kenaikan harga bahan pangan di pasar.
- Pelemahan Rupiah hingga menembus Rp18.000 per Dolar AS memicu kenaikan biaya input industri manufaktur di Indonesia.
- Saham sektor konsumer tetap mencatatkan kinerja positif dan mengungguli pasar di tengah tekanan ekonomi bulan Mei.
Suara.com - Tekanan makroekonomi domestik terpantau mengalami peningkatan signifikan sepanjang bulan Mei 2026. Berdasarkan laporan riset terbaru dari BNI Sekuritas, tingkat inflasi tahunan Indonesia merangkak naik ke level 3,08% secara tahunan (year-on-year/yoy), melonjak cukup tajam dibandingkan posisi bulan April yang berada di angka 2,42% yoy. Lonjakan ini utamanya dipicu oleh terkereknya harga-harga bahan pangan di pasar.
Sinyal pengetatan juga terlihat pada inflasi inti (di luar komoditas emas) yang ikut menanjak dari 1,34% pada April menjadi 1,61% yoy pada Mei.
Pergerakan ini mengindikasikan adanya kombinasi antara penguatan permintaan domestik serta mulai beralihnya beban biaya input yang lebih tinggi dari produsen langsung kepada konsumen hulu.
Para analis memproyeksikan inflasi sektor pangan masih akan bertahan di level tinggi hingga bulan Juni, mengingat mayoritas harga komoditas pangan utama terus memperlihatkan tren kenaikan secara bulanan (month-on-month/mom).
Di sisi energi, meskipun harga minyak mentah global sejatinya telah melandai hingga 10% seiring meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran pada bulan Juni, pemerintah mengambil langkah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Harga Pertamax dan Pertamax Turbo resmi dinaikkan masing-masing sebesar 32% dan 4%. Di sisi lain, harga BBM bersubsidi dipastikan tetap stabil, sementara harga Dex dan Dexlite justru mengalami penurunan.
Tantangan lain yang musti dihadapi dunia usaha adalah nilai tukar Rupiah yang kembali melemah sebesar 2,2% pada awal Juni hingga menembus ke atas level Rp18.000 per Dolar AS.
Meski harga komoditas global secara umum melandai, kejatuhan kurs Rupiah ini memicu tekanan biaya input yang terus berlanjut bagi industri manufaktur yang mengandalkan bahan baku impor.
Merespons depresiasi mata uang tersebut, Bogasari dilaporkan telah menaikkan harga tepung sebesar 2% guna merefleksikan tingginya biaya pengadaan bahan baku akibat pelemahan Rupiah.
Baca Juga: Desa Harus Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Benteng Ketahanan Pangan
Menariknya, di tengah kondisi makro yang menantang, kinerja fundamental sejumlah korporasi di sektor konsumer dilaporkan tetap kokoh sepanjang Mei.
Emiten seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) berhasil membukukan momentum pertumbuhan penjualan yang sangat sehat. Di saat yang sama, aktivitas belanja di sektor ritel juga merangkak naik pasca-berakhirnya periode libur panjang.
Resiliensi fundamental ini berimbas positif pada performa sahamnya di bursa. Sepanjang Mei, sektor konsumer sukses tampil mengungguli pasar (outperform); kelompok consumer staples (kebutuhan pokok) naik 2% mom dan sektor retailer (eceran) melesat 3% mom.
Performa ini kontras dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru terjun bebas hingga amblas 12% mom dalam periode yang sama.
BNI Sekuritas memilih untuk mempertahankan peringkat Neutral untuk jangka pendek (3 bulan) terhadap sektor konsumer, mengingat adanya risiko tekanan margin dari depresiasi Rupiah serta kenaikan biaya input yang masih membayangi pelaku usaha.
Namun, untuk jangka panjang (12 bulan), BNI Sekuritas mantap menyematkan rating Overweight (OW). Pandangan optimistis ini didorong oleh kuatnya daya beli masyarakat serta posisi valuasi saham konsumer saat ini yang dinilai sudah sangat atraktif untuk dikoleksi.
Dalam alokasi portofolio, analis lebih menyukai saham kategori consumer staples dibandingkan sektor discretionary (kebutuhan sekunder). Adapun saham yang menjadi pilihan utama (top picks) dari BNI Sekuritas adalah:
Sektor Staples: PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Sektor Retailer: PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan anak usahanya, PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA).
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan rilis data ekonomi dan laporan riset pasar dari BNI Sekuritas. Berita ini bersifat informatif untuk kepentingan publik dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi mutlak atau perintah untuk melakukan transaksi jual-beli saham tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab mandiri investor.
Berita Terkait
-
Jadi Aset Negara, Pemerintah Bakal Revitalisasi Kawasan Kemayoran Indah Golf
-
Purbaya Pede Rupiah Bisa Menguat hingga Rp 16.800 per Dolar AS Tahun Depan
-
Purbaya Klaim Harga BBM Naik Berefek Minim ke Inflasi
-
Kenaikan Pertamax Jadi Sinyal Ada Kondisi Mendesak di Pemerintah
-
Pemerintah Diminta Tidak Perkeruh Ekonomi dengan Regulasi yang Membingungkan
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
Pilihan
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
Terkini
-
Intiland Tahan Dividen, Fokus Pangkas Utang dan Kejar Penjualan Rp1,95 Triliun
-
PMB 2026 Universitas Nusa Mandiri Gelombang 4 Dibuka! Daftar Program S1 Hingga Doktoral (S3)
-
Kewajiban Neto Investasi Turun Jadi 227,6 Miliar Dolar AS, Ini Biang Keroknya
-
GSMS 2026 Soroti Tantangan Komunikasi Pemerintah di Tengah Fragmentasi Media
-
Jadi Aset Negara, Pemerintah Bakal Revitalisasi Kawasan Kemayoran Indah Golf
-
Pipa Cisem II Beroperasi Penuh, KITB Dapat Suntikan Energi Baru
-
Borok Investasi Asing Mencuat, Sering Terlantarkan Hak Pekerja
-
Purbaya Pede Rupiah Bisa Menguat hingga Rp 16.800 per Dolar AS Tahun Depan
-
Investasi AI di Indonesia Tetap Jalan Meski Rupiah Lemah
-
Kereta 12 Rangkaian Akan Layani Green Line Tanah Abang - Rangkasbitung