Entertainment / Music
Kamis, 05 Maret 2026 | 20:20 WIB
Green Day (x.com)
Baca 10 detik
  •  Lagu Holiday kembali menjadi simbol protes karena kemiripan invasi masa lalu dengan eskalasi militer di Timur Tengah saat ini.
  • Judul Holiday merupakan kritik pedas bagi masyarakat yang memilih menjadi penonton pasif dan "berlibur" dari empati saat perang berkecamuk.
  • Liriknya secara tajam menelanjangi ambisi sumber daya energi dan manipulasi ideologi yang sering menjadi penggerak utama peperangan.

Suara.com - Eskalasi militer di Timur Tengah yang melibatkan serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran sejak Sabtu pekan lalu bukan cuma mengguncang peta geopolitik, tetapi juga membangkitkan kembali memori kolektif lewat musik.

Lagu Holiday milik Green Day, yang lahir hampir dua dekade silam, terasa sangat relevan dengan situasi panas hari ini.

Dirilis pada 2005 dalam album legendaris American Idiot, Holiday sejatinya adalah surat protes yang ditulis Billie Joe Armstrong pada 2003 sebagai respons atas invasi AS ke Irak.

Kini, ketika sejarah seolah berulang dengan keterlibatan militer AS di Timur Tengah, distorsi gitar Green Day bukan lagi sekadar nostalgia punk rock, melainkan kritik tajam terhadap kebijakan perang.

Judul Holiday dipilih bukan untuk merayakan kesenangan. Sebaliknya, Armstrong mencomot gaya sarkasme untuk menyentil masyarakat yang memilih "berlibur" dari hati nurani mereka.

Di saat rudal menghujam wilayah asing, banyak warga dunia pada saat itu, yang malah bersikap apatis. Mereka hanya menonton tragedi tersebut lewat layar ponsel layaknya hiburan belaka.

Metafora ini menjadi tamparan keras bagi siapa pun yang memilih menjadi penonton pasif di tengah krisis kemanusiaan. Padahal ada banyak cara untuk melawan narasi peperangan.

Lirik yang Cerdas

Frasa ikonik "Sieg Heil to the president Gasman" secara telak menyoroti penyalahgunaan kekuasaan dan ambisi terhadap komoditas energi seperti minyak dan gas yang kerap menjadi motif tersembunyi di balik konflik Timur Tengah.

Baca Juga: Kena Jebakan Rusia, Reza Pahlavi Rela Negaranya Dibom dan Sebut "Perang Salib"

Kemudian, lewat diksi "Faith and Misery", Armstrong secara cerdas menggambarkan narasi idiologi yang sering dipelintir untuk menggelar karpet merah bagi kekerasan.

Lagu ini juga mengajak pendengar untuk "dream and differ", melawan narasi arus utama yang digaungkan negara adidaya.

Akhir kata, lagu ini kembali menjadi pengingat bahwa jangan sampai kita "mengambil cuti" dan "berlibur" dari rasa kemanusiaan hanya karena bom tersebut jatuh jauh dari rumah kita.

Load More