Suara.com - Rokok elektrik tampaknya semakin digandrungi sebagai gaya hidup karena dianggap sebagai salah satu cara merokok yang lebih aman dan 'sehat' dibandingkan merokok sungguhan.
Faktanya, sebuah studi yang dilakukan oleh University College London dan didanai oleh Cancer Research UK menemukan bahwa orang yang menggunakan rokok elektrik memiliki racun dan zat penyebab kanker di tubuhnya dalam jumlah yang jauh lebih sedikit setelah periode enam bulan. Meski begitu, bahaya rokok elektronik untuk waktu yang lama masih harus dieksplorasi, mengingat ini merupakan produk baru.
Profesor Gillian Leng, wakil kepala eksekutif di NICE (National Institute for Health and Care Excellence), menyatakan keprihatinannya saat berbicara kepada anggota parlemen di Science and Technology Committee.
"Bukti menunjukkan bahwa rokok elektrik secara substansial kurang berbahaya bagi kesehatan daripada merokok biasa, tetapi bukan berarti bebas risiko kesehatan sama sekali karena bukti-bukti masih dikembangkan, termasuk bukti dampak kesehatan jangka panjang," katanya seperti dilansir The Indsependent.
Rokok elektrik telah terbukti sebagai metode yang efektif untuk berhenti merokok, suatu manfaat yang disoroti oleh Profesor Leng. “Saya pikir, itulah perbedaan rokok elektrik dapat digunakan sebagai alat berhenti merokok, Anda dapat menurunkan jumlah nikotin yang Anda dapatkan melalui produk tersebut dan membantu Anda menghentikan kecanduan nikotin,” jelasnya.
“Pertanyaannya adalah, apakah itu nantinya akan menjadi pilihan gaya hidup jangka panjang? Karena tampaknya, itulah tujuan rokok elektrik dipasarkan," katanya.
Profesor John Newton, direktur perbaikan kesehatan di Public Health England, menyatakan bahwa penelitian telah menggambarkan bagaimana perokok yang memilih rokok elektrik cenderung berhenti merokok sama sekali di masa depan.
Namun, Profesor Leng berpendapat bahwa risiko rokok elektrik dalam jangka panjang belum dapat diperkirakan.
"Memang 95 persen lebih aman daripada rokok biasa, tapi ada lima persen kemungkinan yang tidak kita ketahui," kata Profesor Leng.
Baca Juga: Main Ponsel saat Hujan, Nurhayati Tewas Tersambar Petir
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
Terkini
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia