Suara.com - Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu destinasi wisata populer di Jawa Timur. Namun, tingginya jumlah wisatawan yang datang membuat Dinas Kesehatan Banyuwangi waspada terhadap peningkatan kasus HIV.
Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, dr. Widji Lestariono, M.Kes, mengatakan jumlah wisatawan yang datang ke Banyuwangi mencapai 4,9 juta tahun lalu, jauh lebih besar daripada penduduk Banyuwangi yang hanya sekitar 1,6 juta jiwa.
"Konsekuensi yang terjadi atas meningkatnya orang yang datang, kasus HIV-AIDS di Banyuwangi meningkat. Saat ini Banyuwangi ada di tiga besar prevalensi HIV di Jawa Timur, setelah Surabaya dan Malang," ujar Rio, panggilan akrabnya, di Puskesmas Klatak, Banyuwangi, Sabtu (22/12/2018).
Pemkab Banyuwangi melalui Dinkes sudah melakukan koordinasi dengan Komisi Penanggulangan AIDS setempat. Berdasarkan data Dinkes per Juli 2018, ada 3.603 pengidap HIV-AIDS yang ada di Banyuwangi.
Dari jumlah tersebut, kasus AIDS mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, dengan sekitar 1.700 jiwa.
Saat ini Banyuwangi memiliki 51 situs VCT (voluntary counselling and testing) untuk tes HIV, menjadikannya kabupaten dengan situs VCT terbanyak di Jawa Timur. VCT bisa dilakukan di seluruh puskesmas Banyuwangi, rumah sakit, labkesda, hingga kantor kesehatan pelabuhan.
"Jadi kasus yang ditemukan lebih banyak, sehingga prevalensi tinggi ini bisa dimaknai sebagai buah kerja keras petugas kesehatan untuk mendeteksi HIV," urainya.
Banyaknya jumlah VCT yang dimiliki Banyuwangi dikatakan Rio tentu saja berimbas pada naiknya jumlah kasus HIV yang ditemukan. Hal ini dikatakan Rio merupakan salah satu bukti bahwa penanggulangan HIV dan AIDS di Banyuwangi sudah berjalan.
"Kalau angka HIV naik, tapi jumlah kasus AIDS turun, dan angka kematian pada ODHA turun, menandakan layanan komprehensif berkesinambungan untuk HIV di Banyuwangi berjalan dengan baik. Begitu dideteksi HIV, langsung diobati dan dicegah supaya tidak jadi AIDS," tutupnya.
Baca Juga: Terungkap, Banyak Perempuan Hamil di Musim Dingin
Berita Terkait
-
Tanya Marlo, Chat Bot Unik dengan Informasi HIV-AIDS Bagi Anak Muda
-
Menkes Nila: Kasus HIV-AIDS yang Terungkap Baru 47 Persen
-
Bakal Ngehits di 2019, 5 Tren Wisata Ini Kian Dicari Banyak Orang
-
Bersemi Kembali Hoax HIV Tertular Lewat Tiup Terompet, Ini Kata Ahli
-
Jangan Lakukan 5 Hal ini di Uni Emirat Arab Kalau Tak Mau Dipulangkan!
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?