Suara.com - Di Jerman, Orang Tua yang Tidak Imunisasi Anak Bisa Kena Denda
Imunisasi dan vaksinasi menjadi perhatian khusus di Eropa, setelah adanya wabah campak yang melanda benua tersebut.
Menteri Kesehatan Jerman pun mengusulkan adanya denda bagi orangtua yang belum memberi vaksin campak pada anak-anaknya.
Dilansir News.com.au, usulan tersebut dibuat di tengah kekhawatiran merebaknya penyakit campak yang sangat menular dan berpotensi memberikan efek mematikan.
Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan surat kabar mingguan Jerman Bild am Sonntag, Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn, mengatakan orang tua yang tidak memiliki bukti anak-anaknya telah divaksinasi campak, harus membayar denda hingga 2.500 euro atau sekitar Rp 40 juta.
Menteri Jens juga mengusulkan untuk melarang anak-anak yang belum divaksin campak untuk dititipkan di fasilitas penitipan anak. Hal untuk dimaksud untuk melindungi anak yang masih kecil dan belum menerima imunisasi campak.
Vaksinasi merupakan salah satu prosedur medis yang wajib dilakukan. Tapi hal tersebut berubah menjadi masalah politik yang sensitif di Jerman, dan belum jelas apakah proposal Menteri Jens Spahn akan dilaksanakan.
Menteri Jens Spahn khawatir jika penyakit yang pernah dianggap terkendali, muncul kembali dan menjadi ancaman utama. Hal itu yang membuat banyak ahli meminta gerakan vaksinasi ditingkatkan.
Kepala Asosiasi Medis Jerman, Frank Ulrich Montgomery, pada hari Minggu menyambut proposal Menteri Jens Spahn. Ia mengatakan kepada kelompok media RND Jerman bahwa hal tersebut merupakan "langkah penting di waktu yang tepat".
Baca Juga: Italia Larang Anak yang Tak Diimunisasi untuk Masuk Sekolah
Sampai saat ini, Jerman melaporkan 203 kasus campak dalam 10 minggu pertama tahun 2019. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dari periode yang sama tahun lalu tetapi lebih sedikit dari pada tahun 2017.
Tetangga Jerman, Swiss, melaporkan kasus dua kematian orang dewasa akibat campak tahun ini.
Satu korban adalah lelaki berusia 30 tahun yang tidak divaksinasi dan satu korban lainnya adalah seorang laki-laki berusia sekitar 70 tahun yang sistem kekebalan tubuhnya tergerus karena kanker.
Para ahli umumnya mengatakan jika lebih dari 95 persen populasi telah diimunisasi dengan benar, campak tidak dapat menyebar dengan mudah dan dapat diatasi secara efektif.
Di Amerika Serikat saja, telah ditemukan lebih dari 700 kasus campak di tahun 2019.
Dan menurut Organisasi Kesehatan Dunia, Eropa secara keseluruhan memiliki 82.596 kasus campak tahun lalu dengan 72 kematian campak. Sebagian besar infeksi campak, sekitar 53.218 kasus, tercatat di lokasi konflik bersenjata Ukraina.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
-
Gempa M 4,2 Guncang Pacitan Terasa hingga Yogyakarta: 7 Orang Luka dan Sejumlah Bangunan Rusak
-
Hakim PN Depok Tertangkap Tangan Terima Ratusan Juta dari Swasta, KPK Lakukan OTT!
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
Terkini
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!