Suara.com - Presiden Joko Widodo telah memilih Mayjen TNI Dr dr Terawan Agus Putranto, Sp. Rad(K) sebagai Menteri Kesehatan periode 2019-2024.
Pada 2018 lalu, Menkes baru ini mengaplikasikan metode 'cuci otak' untuk mengobati stroke di kalangan pejabat dan politisi. Sayangnya, metode ini cukup memicu kontroversi dan menimbulkan banyak pertanyaan tentang metode pengobatannya.
Metode yang dilakukan dr Terawan yaitu mengombinasikan Digital Substraction Angiography (DSA) dan injeksi heparin. Sedangkan ia sendiri mempromosikan metode ini sebagai 'cuci otak', yang juga dikenal sebagai pembilasan otak intra-arterial.
Melansir Straitstimes.com, DSA dan heparin digunakan dalam perawatan medis konvensional pasien stroke.
DSA adalah teknik pencitraan X-ray untuk memvisualisasikan pembuluh darah. Sementara heparin digunakan sebagai anti-koagulan (pengencer darah), untuk mencegah pembekuan darah sebelum operasi serta untuk mengobati pembekuan darah.
Heparin diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah pasien.
Karena stroke biasanya disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah karena penumpukan plak di dinding bagian dalam pembuluh, dr Terawan menggunakan heparin untuk membersihkan plak dengan menyuntikkan antikoagulan ke paha pasien.
Namun, diduga belum ada bukti ilmiah yang ada saat ini untuk mendukung efektivitas heparin dalam pengobatan stroke.
Tetapi, melansir strokecenter.org, heparin terkadang digunakan pada pasien stroke untuk mengurangi risiko pembentukan gumpalan darah di pembuluh darah kaki.
Baca Juga: Dari Kontroversi Cuci Otak Jadi Menteri Jokowi, Inilah Profil dr. Terawan
Selain itu, pengencer darah ini juga terkadang digunakan untuk mengurangi kerusakan akut atau risiko stroke pada pasien.
Sebenarnya, metode ini sudah digunakan oleh dr Terawan sejak 2004.
Ia mengatakan, metode ini sudah diaplikasikan pada setidaknya 40.000 pasien dan biaya perawatannya membutuhkan sekitar Rp30 juta.
Berita Terkait
-
Kasta Takjil Buka Puasa Versi Menkes, Es Buah dan Gorengan Masuk Kategori Ini
-
Menkeu Ungkap Defisit BPJS Capai Puluhan Triliun, Siap-siap Iuran Naik?
-
Viral Pedagang Kentang Kena Stroke Saat Live TikTok
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- 4 Seri MacBook yang Harganya Terjun Bebas di Awal 2026, Mulai Rp8 Jutaan
- Promo Indomaret 26 Februari Sampai 1 Maret 2026, Diskon Besar Minyak Goreng dan Pampers
Pilihan
-
Iran Bombardir Kantor Benjamin Netanyahu Pakai Rudal Hipersonik, Kondisinya Belum Diketahui
-
Istri Ayatollah Ali Khamenei Juga Gugur Sehari Setelah Sang Suami, Dibom Israel-AS
-
Istri Ali Khamenei Meninggal Dunia Akibat Luka Serangan AS-Israel ke Iran
-
Bakal Gelap Gulita! Pemkot Solo Stop Sementara Pembayaran Listrik Keraton Surakarta ke PLN
-
Imbas Perang Iran, Pemerintah Cari Minyak dari AS demi Cegah Harga BBM Naik
Terkini
-
Tips Memilih Klinik Tulang Terpercaya untuk Terapi Skoliosis Non-Operasi
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?