Suara.com - Moms Jangan Panik saat Bayi Batuk Terus-menerus, Ini Cara Mengatasinya
Batuk pada bayi memang sering terjadi. Sebagai respon tubuh alami batuk yang sesekali terjadi merupakan hal normal. Namun apabila batuk pada bayi berlangsung terus-menerus maka dapat mengindikasikan adanya gangguan kesehatan terterntu.
Sebagai orang tua, penting untuk mengatahui jenis batuk yang umum dialami oleh bayi. Pasalnya, setiap jenis batuk memiliki faktor penyebab yang berbeda-beda sehingga metode penanganan maupun jenis obat batuknya pun berbeda. Selain itu, batuk pada bayi juga dapat menjadi gejala dari penyakit tertentu yang bisa membahayakan kesehatan bayi.
Berikut ini adalah penjelasan jenis-jenis batuk pada bayi beserta gejala dan penyebabnya, sebagaimana yang dilansir Hello Sehat dari Parents.
1. Batuk gejala pilek atau flu
Hidung beringus dan sakit tenggorokan dapat menjadi indikasi bahwa si kecil akan terserang pilek atau flu. Selain itu, bayi bisa saja mengalami batuk. Dua jenis batuk yang umum dialami oleh bayi ketika terserang flu di antaranya:
Batuk Berdahak
Batuk berdahak merupakan jenis batuk pada anak yang disertai oleh keluarnya dahak. Pada bayi, batuk ini umumnya disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri yang terjadi di saluran pernapasan.
Infeksi tersebut menyebabkan saluran nafas memproduksi lendir berlebih sehingga menghambat udara untuk mengalir di saluran pernapasan. Kelebihan dahak pun merangsang terjadinya batuk. Saat bayi mengalami pilek atau flu, mereka lebih berisiko mengalami batuk berdahak.
Baca Juga: Minum Air Pegunungan, Anak ini Batuk Berdarah Sampai 10 Hari, Apa Sebabnya?
Batuk Kering
Berbeda dengan batuk berdahak, batuk kering tidak disertai dengan keluarnya dahak. Jenis batuk pada bayi ini biasanya dipicu oleh alergi dan virus pilek atau flu. Kondisi tersebut menyebabkan peristiwa post-nasal drip yang mana membuat hidung menghasilkan lendir berlebih sehingga jatuh ke bagian belakang tenggorokan dan merangsang terjadinya batuk.
2. Batuk Croup
Batuk croup adalah infeksi pernapasan yang terjadi ketika laring atau kotak suara, batang tenggorokan (trakea), dan bronkus, yaitu saluran udara ke paru-paru mengalami iritasi dan membengkak. Pembengkakan pada sejumlah saluran pernapasan ini dapat menyebabkan penyempitan saluran pernafasan sehingga bayi sulit untuk bernapas dan bayi akan mengeluarkan batuk seperti gonggongan.
Gejalanya akan berupa panas, demam, adanya ingus di dalam hidung. Pada kondisi tertentu, saat batuk pada bayi semakin parah bisa menyebabkan si kecil sesak napas sehingga kulitnya lama kelamaan memucat atau membiru karena kekurangan oksigen.
Selain disebabkan oleh infeksi influenza, parainfluenza RSV, campak, dan adenovirus, batuk pada bayi ini juga bisa diakibatkan oleh alergi dan asam lambung yang naik. Batuk ini bisa menyerang bayi berumur 3 bulan, tapi juga rata-rata dapat menyerang anak usia 5 sampai di atas 15 tahun.
3. Batuk Rejan
Bayi merupakan golongan usia yang paling rentan terkena batuk rejan (pertusis) atau yang lebih populer dikenal dengan batuk seratus hari. Selain batuk berkepanjangan, batuk rejan juga ditandai dengan tarikan napas yang mengeluarkan suara bernada tinggi “whoop” atau mengi (berbunyi ngik ngik). Batuk pada bayi ini disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis yang menginfeksi saluran pernapasan.
Gejalanya yang muncul dapat berupa panas, demam, adanya ingus di dalam hidung. Bakteri ini biasa menjangkiti bayi berusia enam bulan hingga tiga tahun. Saat mengalami batuk ini, bayi juga berpotensi untuk terkena komplikasi yang menyebabkan masalah kesehatan yang serius seperti paru-paru basah pneumonia, epilesi, dan pendarahan pada otak.
Karena disebabkan oleh bakteri, maka batuk rejan dapat diatasi dengan mengonsumsi antibiotik, yakni erythromycin, tentunya melalui resep khusus dari dokter. Tindakan pencegahan dari dini seperti memberikan vaksin DTap juga bisa dilakukan untuk mengurangi risiko penularan batuk rejan.
4. Batuk gejala bronkiolitis
Banyak hal yang dapat menjadi faktor pemicu terjadinya penyempitan di saluran pernapasan, termasuk polusi dan iritan yang berasal dari lingkungan sekitar. Kondisi ini dapat mengarah pada infeksi saluran pernapasan yang dinakaman bronkiolitis yang biasanya dialami bayi berusia sekitar satu tahun. Jika infeksi semakin parah, bronkiolitis dapat mengancam keselamatan jiwa si kecil.
Selain itu, batuk pada bayi ini juga bisa disebabkan oleh cuaca yang dingin. Hal ini terjadi karena saluran udara kecil ke paru-paru terinfeksi dan berlendir. Bayi menjadi kesulitan bernapas. Gejala yang muncul berupa adanya ingus di dalam hidung, batuk kering, kehilangan selera makan. Lama-lama akan mengakibatkan pilek, infeksi telinga, batuk croup, dan pneumonia.
5. Batuk gejala pneumonia
Pneumonia meruapakan peradangan paru-paru yang umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, namun juga bisa disebabkan oleh virus. Kondisi ini menyebabkan paru-paru memproduksi dahak berlebih sehingga terjadi penumpukan dahak di area paru-paru. Oleh sebab itu pneumonia juga dikenal dengan paru-paru basah.
Penyakit ini bisa memicu gejala batuk pada bayi. Selain itu, bayi yang batuk akibat penyakit pneumonia juga biasanya disertai oleh dahak yang cukup pekat dan memperlihatkan warna hijau kekuningan. Dalam kondisi parah, batuk pada bayi juga bisa disertai darah sehingga memerlukan penanganan medis sesegera mungkin. Pengobatan penyakit ini bergantung dari penyebabnya. Pneumonia yang disebabkan oleh infeksi bakteri bisa disembuhkan dengan antibiotik.
6. Batuk akibat asma
Batuk ini biasanya dialami oleh bayi yang mengidap penyakit asma. Asma sendiri terjadi ketika terdapat penyempitan saluran udara akibat peradangan. Faktor pemicu terjadinya batuk pada bayi ini bisa disebabkan oleh fakto-faktor yang juga mengakibatkan kambuhnya asma.
Gejala yang muncul umumnya bayi terlihat kesulitan untuk bernapas dengan retraksi atau tarikan pada dada, dan diikuti dengan gejala-gejala yang biasa terjadi ketika mengalami flu, yaitu hidung gatal dan tersumbat, keluhan ini dapat disertai dengan mata berair. Batuk pada bayi ini dapat berlangsung di siang hari, namun biasanya akan memburuk di malam hari atau pada saat suhu di sekitar berubah dingin.
Klik halaman berikutnya untuk mengetahui cara mengatasinya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- Harga Beda Tipis: Mending Yamaha Gear Ultima, FreeGo atau X-Ride untuk Rumah Tangga?
Pilihan
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak