Suara.com - Sebuah studi baru menunjukkan bahwa infeksi Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona baru atau SARS-CoV-2 dapat menyebar, bahkan setelah gejala panyakit hilang.
Peneliti mengatakan beberapa pasien yang tidak memiliki gejala atau asimtomatik masih dapat menularkan infeksi.
Itulah sebabnya pakar menyarankan orang yang telah sembuh juga harus tetap dikarantina selama beberapa waktu sebelum benar-benar bebas.
Dilansir The Health Site, penelitian ini dilakukan terhadap beberapa sampel swab pasien di Rumah Sakit Umum PLA China di Beijing yang telah dipulangkan setelah pulih dan dinyatakan negatif oleh dokter.
Mereka menderita infeksi ringan dan memiliki gejala primer, seperti demam, batuk, nyeri di tenggorokan, dan kesulitan bernapas.
Peneliti pun menggunakan dua uji berantai polymerase chain reaction (PCR) untuk mengevaluasi sampel.
Ternyata mereka menemukan setengah dari pasien masih membawa virus, bahkan setelah gejala selesai.
Mereka pun menyarankan pada pasien bergejala ringan untuk melakukan karantina kembali selama dua minggu di rumah untuk menghindari penularan pada orang lain.
Menurut dokter Lokesh Sharma dari departemen kedokteran Yale School of Medicine, infeksi yang lebih parah mungkin memerlukan waktu karantina yang lebih lama.
Baca Juga: Pangeran Charles Dikabarkan Sembuh dari Corona, Warganet: Yang Bener?
Temuan dari penelitian ini terbit dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, pada Jumat (27/3/2020) kemarin.
Namun, para peneliti mencatat bahwa temuan dapat bervariasi untuk pasien dari kelompok usia yang berbeda. Usia rata-rata pasien yang diperiksa dalam penelitian ini adalah 35,5 tahun.
Catatan Redaksi: Jika Anda merasakan gejala batuk-batuk, demam, dan lainnya serta ingin mengetahui informasi yang benar soal virus corona Covid-19, sila hubungi Hotline Kemenkes di 119 atau 021-5210411 atau kontak ke nomor 081212123119.
Berita Terkait
-
IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19
-
Cek Fakta: Benarkah Hantavirus Disebabkan Efek Samping Vaksin Covid-19 Pfizer?
-
Viral Cuitan 2022 yang Singgung Hantavirus 2026, Disebut Prediksi Masa Depan
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI