Suara.com - Kebosanan tak terelakkan hadir di tengah masa pandemi corona Covid-19, terutama karena kita telah mengisolasi diri dari satu sama lain selama berminggu-minggu.
Meski nampak sepele, ternyata efek kebosanan mendalam pada tunawisma atau gelandangan dapat menyebabkan kesehatan mental yang buruk, penggunaan narkoba dan bahkan bunuh diri, menurut sebuah studi Barat.
Itulah sebabnya, seorang peneliti menganjurkan bahwa setiap rencana untuk membantu para tunawisma dalam penampungan harus diimbangi program-program yang menanamkan makna pada hidup mereka.
"Mereka berbicara tentang bagaimana mereka merasa tidak ada karena mereka tidak melakukan sesuatu yang berarti dengan waktu mereka. Itu memiliki dampak yang cukup serius pada kesejahteraan mental mereka," kata profesor Terapi Okupasi Carrie Anne Marshall, dilansir dari Medical Xpress.
"Mereka mengatakan bahwa mereka menggunakan narkoba karena lebih baik daripada hanya duduk-duduk tidak melakukan apa-apa sepanjang hari; mereka berbicara tentang merasa putus asa dan berpikir untuk bunuh diri," jelasnya.
Marshall awalnya mewawancarai 13 orang yang menjadi tunawisma di sebuah kota kecil Ontario sebagai bagian dari studi percontohan pertamanya, Kebosanan dan aktivitas yang bermakna pada orang dewasa yang mengalami tunawisma.
Temuannya baru-baru ini dipublikasikan di Canadian Journal of Occupational Therapy.
"Banyak orang yang menjadi tunawisma mengungkapkan keinginan untuk bekerja, tetapi mereka merasa sulit untuk menemukan cara untuk berpartisipasi atau menjadi bagian dari tenaga kerja," ungkapnya.
Setelah menjadi tunawisma, semua kegiatan dan rutinitas mereka telah berubah begitu ditampung. Tiba-tiba, mereka benar-benar tidak memiliki rasa apa yang ingin mereka lakukan lagi, Marshall melanjutkan.
Baca Juga: Nasib Gelandangan saat Wabah Virus Corona Melanda Dunia
Meskipun tidak ada obat untuk kebosanan, terapis okupasi, rekreasi atau seni dan musik dapat membantu, tetapi seringkali pendanaan berbasis aktivitas adalah yang pertama kali dilakukan dalam pemotongan dana.
"Kami berbicara tentang perlunya menangani kesehatan mental," lanjutnya.
Tapi itu bukan semua tentang pengobatan. Kadang-kadang, ini hanya tentang memiliki kehidupan yang bermakna.
"Itu bisa sangat kuat dalam membantu orang tergerak dan menciptakan kehidupan baru untuk diri mereka sendiri begitu mereka telah kehilangan tempat tinggal. Ketika kita menikmati sesuatu ada hal positif, perubahan terjadi," ujar Marshall.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Gaya Hidup Sedentari Tingkatkan Risiko Gangguan Muskuloskeletal, Fisioterapi Jadi Kunci Pencegahan
-
Hati-hati saat Banjir! Jangan Biarkan 6 Penyakit Ini Menyerang Keluarga Anda
-
Pankreas, Organ yang Jarang Disapa Tapi Selalu Bekerja Diam-Diam
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin