Suara.com - Merasa ikut bertanggung jawab tingginya angka perokok anak Indonesia, Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) akan mendatangi dan edukasi penjual, retail hingga warung kelontong untuk tidak membiarkan anak di bawah umur 18 tahun membeli rokok.
"Kami akan turun dengan warung-warung, peritel minimarket, di lingkungan padat penduduk agar lebih selektif menjual rokok anak di bawah umur," ujar Muhaimin Moefti selaku Ketua Gaprindo, Rabu (16/12/2020).
Aksi ini dilakukan sebagai bagian dari kampanye 'Cegah Perokok Anak', dengan memberikan edukasi, informasi kepada penjual rokok yang aksesnya dekat dengan masyarakat, khususnya di wilayah dekat dengan sekolah, dan area publik berkumpulnya anak dan remaja.
"Perlu dilakukan edukasi terhadap publik, termasuk retail atau pedagang, serta penjaga toko atau kasir agar bersama-sama kita dapat membagi pemahaman dan kesadaran bahwa produk rokok bukanlah produk yang semestinya dijual kepada anak atau remaja," terang Moefti.
Tidak hanya warung dan penjual, kampanye ini juga menyasar semua lapisan masyarakat seperti orangtua, guru, hingga lingkungan tempat tinggal anak yang juga akan diberi edukasi, sebagai bekal informasi dan menjadi agen pencegah perokok anak.
"Artikel dan tips, nantinya bisa memperkaya wawasan orangtua, guru, dan orang tua menjadi agen pencegah perokok anak di lingkungan mereka," ungkap Moefti.
"Semakin banyak publik yang tergerak untuk berani menegur mencegah dan mengawasi peredaran rokok di kalangan anak di bawah umur," sambungnya.
Artikel dan informasi edukasi akan hadir dalam bentuk website dan platform sosial media, yang bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat.
"Kegiatan ini kami mengajak berbagai pihak untuk berkontribusi aktif dan secara bijak membantu mengurangi angka prevalensi perokok anak Indonesia," tuturnya.
Baca Juga: Pakar: Libatkan Anak Saat Promosi Rokok Adalah Bentuk Eksploitasi
Sementara itu, kampanye ini juga dibuat sebagai upaya membantu pemerintah menurunkan angka perokok anak di Indonesia. Dimana dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, pada 2024 target perokok anak turun hingga 8,7 persen.
"Sebagai pelaku usaha di industri ini kami tidak lepas tangan, kami memahami bahwa produk rokok memiliki risiko dan oleh karenanya tidak mengubah semestinya produk ini tidak dikonsumsi oleh anak-anak maupun wanita hamil," tutup Moefti.
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
- 5 Rekomendasi HP Rp1 Jutaan untuk Ojol, RAM 8 GB dan Baterai Awet
Pilihan
-
Bertemu Ulama, Prabowo Nyatakan Siap Keluar dari Board of Peace, Jika...
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
-
Kasus Saham Gorengan, Bareskrim Tetapkan 3 Tersangka Baru, Salah Satunya Eks Staf BEI!
-
Bareskrim Geledah Kantor Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Saham Gorengan
Terkini
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!
-
Tidak Semua Orang Cocok di Gym Umum, Ini Tips untuk Olahraga Bagi 'Introvert'
-
Dehidrasi Ringan Bisa Berakibat Serius, Kenali Tanda dan Solusinya
-
Indonesia Masih Kekurangan Ahli Gizi, Anemia hingga Obesitas Masih Jadi PR Besar
-
Cedera Tendon Achilles: Jangan Abaikan Nyeri di Belakang Tumit