Suara.com - Kehilangan pekerjaan memang membuat stres dan depresi, terlebih saat kesulitan mencari pekerjaan yang baru. Untuk mengatasinya, peneliti menyarankan untuk menjalani terapi.
Berdasarkan studi baru, terapi kognitif perilaku (CBT) dapat membantu pengangguran atau pekerja paruh waktu mendapat pekerjaan baru penuh waktu.
Peserta penelitian yang memiliki pekerjaan tetapi merasa sulit untuk fokus dan menyelesaikan pekerjaan mereka karena depresi pun mengatakan CBT membantu mereka mengurangi masalah tersebut secara signifikan.
"Untuk sebagian besar, para peneliti berfokus untuk menunjukkan bahwa terapi meredakan depresi," kata penulis studi Daniel Strunk profesor psikologi di The Ohio State University, dilansir Medical Xpress.
Ia menambahkan, peserta CBT banyak yang berharap bisa mendapatkan pekerjaan atau meningkatkan produktivitas mereka setelah menjalani terapi.
"Di sini kami menemukan bahwa terapi juga dapat membantu orang mencapai tujuan ini," sambungnya.
Peneliti dari The Ohio State University menganalisis 126 orang yang berpartisipasi dalam terapi CBT selama 16 minggu di Klinik Pengobatan dan Penelitian Depresi Negara Bagian Ohio. CBT membantu peserta melawan keyakinan negatif mereka.
"Terapi ini bekerja berdasarkan gagasan bahwa orang dengan depresi selalu memiliki pandangan yang terlalu negatif tentang diri mereka sendiri dan masa depannya," sambung Strunk.
Dalam penelitian ini, 27 pasien berusaha untuk meningkatkan status pekerjaan mereka pada awal terapi. Sebelas dari mereka (41%) berhasil pada akhir minggu ke-16.
Baca Juga: Bisa Cegah Depresi, Bermain Game Baik Bagi Kesehatan Mental Remaja
"Pasien yang bekerja melaporkan pada akhir terapi bahwa mereka jauh lebih berhasil dalam berkonsentrasi dan menyelesaikan tugas dalam pekerjaan mereka," lanjut Strunk.
Menurutnya, CBT membantu pasien mengatasi pandangan negatif dengan memberitahu bahwa depresi bukanlah kesalahan mereka dan mereka dapat mengambil langkah untuk meningkatkan konsentrasi serta menyelesaikan pekerjaan secara lebih sukses bahkan ketika mengalami gejala depresi.
Strunk melakukan penelitian dengan Iony Ezawa dan Graham Bartels, mahasiswa pascasarjana di Ohio State saat penelitian dilakukan. Studi dipublikasikan bulan ini di jurnal Cognitive Behavior Therapy.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
Terkini
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus