Suara.com - Theti Numan Agau, Bukti Perempuan Mampu Melawan Perubahan Iklim
Perempuan memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam upaya kolektif melawan perubahan iklim. Hal ini yang dilakukan Theti Numan Agau. Perempuan Dayak asal Desa Mantangai Hilir, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas.
Tinggal di wilayah yang mengalami bencana kebakaran hutan dan lahan parah pada 2015 silam membuat Theti susah bernapas. Selain itu Theti juga mengaku susah melakukan aktivitas lainnya termasuk bekerja. Otomatis, selama kebakaran ini, ia hanya mengandalkan sisa-sisa panen terdahulu.
Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) sendiri melansir bahwa orang yang mengungsi akibat perubahan iklim 80 persennya adalah perempuan. Hal ini dikarenakan perempuan di seluruh dunia memiliki hak yang lebih sedikit.
Mereka juga lebih sedikit uang, dan lebih sedikit kebebasan sehingga pada saat kondisi ekstrem seperti bencana alam, perempuan sering menjadi pihak yang terpukul paling keras. Meskipun perempuan paling merasakan efek dari perubahan iklim, mereka memiliki peluang besar untuk berkontribusi melawan perubahan iklim .
Theti memulai melawan perubahan iklim akibat kebakaran hutan dengan bergabung dengan kelompok petani binaan Badan Restorasi Gambut (BRG). Lewat pelatihan ini, Theti diajarkan bagaimana metode pertanian ramah lingkungan untuk menyuburkan lahan.
Hal ini berbanding terbalik dengan kebiasaan petani umumnya yang melakukan pembakaran lahan gambut untuk menyuburkan tanah. Kebakaran besar yang terjadi pada tahun 2015 di beberapa provinsi di Kalimatan, membuat BRG mulai mengadakan pendekatan ke beberapa tokoh petani di desa-desa kunci. Salah satu petani yang ada dalam program inisiasi BRG adalah Theti Numan Agau.
"Kami tidak lagi membakar lahan dan diajarkan untuk membuat pupuk alami,“ ujar Theti.
Dalam satu kelompok, ada 10 petani. Mulanya jumlah ini terbagi rata, yaitu lima lelaki dan lima perempuan. Namun usaha ini kurang mendapat sambutan dari petani lelaki. Theti pun inisiatif mengubah komposisi kelompok menjadi 10 perempuan.
Baca Juga: Cerita Indra Bekti Buktikan Kepeduliannya Terhadap Pejuang Kanker
Di lahan demplot, Theti dan perempuan lainnya bertanam tomat, cabai, dan kacang panjang. Hasil panennya diakui Theti mengalami kenaikan. Jika dulu, hasil pertanian hanya cukup untuk dimakan sendiri, kini Theti mengaku mulai bisa menjual hasil pertaniannya dan mulai menabung.
"Hasilnya bisa dipakai untuk makan dan kelebihannya bisa dipakai untuk menabung. Kalau dulu hanya cukup untuk makan tetapi sekarang kami bisa menjual hasil pertanian. Menjualnya pun tidak susah karena hasil pertanian ini lebih sehat. Kami memakai metode bertani yang ramah lingkungan. Sampai saat ini, kami telah panen sebanyak empat kali," imbuh Theti.
Dalam pendampingan masyarakat, BRG menyadari pentingnya peran perempuan dalam menjaga gambut. Sampai saat ini, ada 773 anggota kelompok perempuan yang telah didampingi oleh BRG. Jumlah ini diharapkan dapat meningkat seiring waktu.
Selain bertani, Theti dan kelompok perempuan ini juga diberi keterampilan untuk meningkatkan nilai jual pada produk kerajinan anyaman yang dibuat dari rumput atau tanaman yang banyak tumbuh di lahan gambut. Para perempuan ini telah mampu membuat anyaman menjadi tas, topi, placemats, keranjang, tikar dan dompet yang siap dipasarkan.
"BRG menyadari pentingnya peran para perempuan dalam menjaga ekosistem gambut. Kami percaya jika perempuan diberdayakan, maka akan dapat mendorong perubahan besar dalam sikap dan perilaku melindungi," kata Myrna A. Safitri, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG.
FAO sendiri menyebutkan bahwa perempuan berperan dalam menghasilkan 60 persen hingga 80 persen makanan di negara-negara berkembang. Perempuan memiliki pengetahuan dan keterampilan tradisional, terutama untuk mengelola sumber daya alam dan air dan di berbagai bidang seperti inovasi, pertanian, makanan, limbah, dan energi.
Berita Terkait
-
Minum Pil KB, Perempuan Bisa Sulit Membaca Ekspresi Wajah Orang Lain
-
China dan India Bantu Bikin Planet Lebih Hijau
-
Ini Kendala yang Kerap Dihadapi Perempuan untuk Melanjutkan Pendidikan
-
IUD Masuk ke Perut, Perempuan Ini Baru Tahu Setelah 11 Tahun
-
Bukan Cokelat atau Bunga, Ini Dambaan Perempuan saat Valentine
Terpopuler
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 5 Sunscreen untuk Hilangkan Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan, RAM 6 GB Performa Jempolan
- 5 Sepatu Skechers Paling Nyaman untuk Jalan Kaki, Cocok Dipakai Lansia
- Purbaya Temukan Uang Ribuan Triliun Milik Jokowi di China? Kemenkeu Ungkap Fakta Ini
Pilihan
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
Terkini
-
5 Sunscreen Remaja Agar Tidak Kena Flek Hitam di Usia 30 Tahun
-
5 Moisturizer untuk Hilangkan Mata Panda Usia 30 Tahun
-
7 Skincare Glycolic Acid untuk Pudarkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
-
Terpopuler: Sunscreen Terbaik untuk Atasi Flek Hitam Usia 40-an, Promo Menarik di Superindo
-
5 Pilihan Moisturizer Wardah untuk Usia 50 Tahun agar Kulit Tetap Lembap
-
3 Bedak Padat Mustika Ratu untuk Samarkan Garis Halus Usia 40 ke Atas
-
Puasa Berapa Hari Lagi? Ini Jadwal Penetapannya dari Kemenag, NU dan Muhammadiyah
-
Promo LotteMart Daebak, Diskon Gede hingga 50 Persen Sampai 18 Januari
-
7 Cara Mengatasi Uban di Usia 50-an Tanpa Harus Cat Rambut
-
Sunscreen Apa yang Bagus untuk Flek Hitam? Ini 5 Pilihan Aman yang Sudah BPOM