Suara.com - Kisah hidup Mbah Karto dan Mbah Warsini di Solo mendadak menjadi perbincangan warganet.
Tak tanggung-tanggun, pasangan lansia yang hidup di gubuk reyot ini mencuri perhatian netizen dari negara lain.
Google Maps tidak sengaja mendokumentasikan gubuk sederhananya selama hampir 10 tahun dan menunjukkan perjalanan hidup pasangan lansia ini.
“Google unknowingly documented an elderly couple’s life journey in Indonesia” tulis pemilik akun X @/Rainmaker1973.
Kondisi Gubuk Reyot Mbah Karto dan Mbah Warsini
Gubuk berwarna biru itu diketahui berada di Jalan HOS Cokroaminoto, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah.
Bangunan semi permanen ini terekam setidaknya dari tahun 2015 oleh kamera Google Maps.
Pada tahun 2015, terlihat pasangan lansia duduk di kursi kayu panjang di samping gubuk biru.
Momen ini berlangsung hingga tahun 2016 dan berubah di tahun 2018.
Di tahun 2018 ini, Google Maps hanya menangkap potret Mbah Warsini, tanpa dampingan suaminya.
Baca Juga: 3 Fakta Viral Siswi SD Duel Gara-Gara Video TikTok di Gorontalo, Sekolah Larang Bawa HP!
Singkat cerita, tahun 2023, Mbah Warsini dan Mbah Karto sudah tidak terlihat lagi.
Kursi yang dulunya sempat menangkap potret kebersamaan Mbah Warsini dan Mbah Karto pun sudah terlihat rusak.
Ilalang tinggi juga sudah menutupi halaman gubuk di pinggir jalan tersebut.
Setahun berikutnya, gubuk Mbah Karto dan Mbah Warsini terlihat sudah diratakan dengan tanah.
Kini, tak nampak lagi gubuk peneduh kisah cinta dua lansia dari Solo tersebut.
Jika Anda ingin ikut melihat gubuk milik Mbah Karto dan Mbah Warsini, Anda bisa mengakses link Google Maps berikut.
Lalu apa yang terjadi dengan pasangan lansia yang tinggal di gubuk viral ini?
Kisah Mbah Karto dan Mbah Warsini Sekarang
Melalui informasi yang beredar di internet, diketahui bahwa Mbah Karto sudah meninggal dunia sejak tahun 2023 lalu.
Sejak saat itu, Mbah Warsini kembali dijemput dan dibawa pulang oleh keluarganya ke Wonogiri, tepatnya Kecamatan Ngadirejo.
Masih dari pengakuan warga sekitar, Mbah Karto dan Mbah Warsini sudah merantau ke Solo sejak masih muda.
Tak hanya sebagai tempat tinggal, gubuk sederhana tersebut ternyata merupakan sumber penghidupan Mbah Karto dan Mbah Warsini.
Keduanya diketahui sudah menjual soto sejak lama. Sebelum menetap di sana dan tertangkap oleh Google Maps, keduanya diketahui sempat berpindah-pindah tempat.
Pemilik bangunan di belakangnya kala itu kemudian mengizinkan Mbah Karto (70 tahun) dan Mbah Warsini (80 tahun) yang sudah berusia lanjut untuk tinggal di bangunan tersebut.
Dulunya, gedung belakang gubuk itu adalah pabrik sepatu sehingga warung soto tersebut memiliki cukup banyak pengunjung.
Namun, kini pabrik sepatu itu juga sudah gulung tikar dan bangunannya berubah fungsi menjadi tempat jualan tas.
Seorang warga mengaku bahwa ia masih menyimpan beberapa barang Mbah Karo dan Mbah Warsini yang sempat dititipkan padanya ketika gubuk itu dibongkar.
Tak hanya berjualan soto, Mbah Karto dan Mbah Kartini juga sempat berjualan tusuk sate. Keduanya juga kerap dipercaya bisa membantu menenangkan anak-anak yang kerap rewel.
Dari kisah hidup Mbah Karto dan Warsini yang sempat tak sengaja terekam oleh Google Maps tersebut, banyak warganet yang turut bersimpati sekaligus menyayangkan ketidakhadiran pemerintah setempat.
“Hati rasanya sakit sekali. ID saat yang mengaku wakil rakyat ribut soal tunjangan ini dan itu sementara di luar sana ada banyak lansia terlantar yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara untuk melindunginya. Sungguh tak punya hati. Tunggulah peradilan Allah yang sesungguhnya,” tulis @kk****
“Tetangga saya ini, dulu beliau jualan soto,” tulis @ho**
“This is common humanity image where people living in poverty in Indonesia as nothing care from the government. Corruption, collusion & nepotism is a culture. (Ini adalah hal yang umum sebagai gambaran kemiskinan di Indonesia yang tidak dipedulikan pemerintah. Korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah budaya,” komentar @Datuk***
"I hope they know that google did that for them," komentar @emii*** asal Amerika Serikat.
"Reminds me of this scene from UP (2009)," tulis @_Suc***.
"There is a kind of inexplicable feeling of being touched," komentar @Donna*** dari AS.
Kontributor : Hillary Sekar Pawestri
Berita Terkait
-
5 Fakta Penjual Gorengan Bunuh Diri di Toilet Minimarket Depok, Viral di Medsos!
-
Raya Bocah Meninggal Penuh Cacing Viral, Rumah dan Lingkungan Disorot
-
Tragedi Cacingan Sukabumi: Menko PMK Akui SOP Lemah di Balik Kematian Balita Raya
-
Tragedi Pilu Adik Raya Sukabumi: Bahaya Cacing Gelang Penyebab Askariasis
-
Viral! Benarkah Putri Solo Mirip Kim Tae-ri Ini Tolak Lamaran Soekarno Karena Prinsip?
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Menularkan Kepedulian dari Pinggiran Ciliwung: Cara River Ranger Ubah Cara Pandang Terhadap Sungai
-
4 Rekomendasi Sabun Cuci Muka dari Brand Lokal untuk Pudarkan Flek Hitam
-
Masih Bolak-balik Bisnis ke Indonesia, Segini Kekayaan Shin Tae-yong
-
3 Jenis Kanker yang Paling Banyak Menyerang Anak Muda di Singapura
-
Lirik Lagu Erika oleh OSD HMT ITB yang Berisi Pelecehan Seksual
-
7 Rekomendasi Parfum Heaven Scent Best Seller, Wangi Mewah Tak Harus Mahal!
-
5 Sepeda Lipat Ukuran 20 yang Nyaman dan Praktis, Mulai Rp800 Ribuan
-
Kontroversi Dikidoy, Akun yang Live TikTok Sidang Pelecehan Seksual Mahasiswa FH UI
-
Apa itu Objektifikasi Perempuan? Berkaca pada Kasus Pelecehan Seksual 16 Mahasiswa FH UI
-
Apa Beda Whistleblower dan Justice Collaborator di Kasus Pelecehan FH UI?