Suara.com - Juru bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengatakan Partai Demokrat memilih bersikap netral dalam Pemilu presiden 2014 karena sedang berduka.
"Hasil Rapimnas (rapat pimpinan nasional) Partai Demokrat memutuskan, Partai Demokrat tidak bergabung dengan salah satu dari dua koalisi partai pendukung pasangan capres-cawapres," kata Ruhut Sitompul pada diskusi "Kompetisi Capres-Cawapres pada Pemilu Presiden 2014" di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu (21/5/2014).
Pembicara lainnya pada diskusi tersebut adalah anggota DPD RI Abraham Liyanto, anggota Dewan Pertimbangan Partai Gerindra Martin Hutabarat, dan pengamat politik dari Universitas Indonesia Panji Anugrah Permana.
Menurut Ruhut Sitompul, pada Pemilu Legislatif 2014, Partai Demokrat hanya memperoleh suara 10,19 persen, yang menurun jauh jika dibandingkan perolehan suara pada Pemilu Legislatif 2009, yakni 20,61 persen.
"Kami saat ini sedang berduka karena perolehan suara Partai Demokrat menurun jauh," katanya.
Menurut dia, penurunan suara Partai Demokrat karena sejumlah kadernya tersangkut kasus korupsi dan diproses hukum oleh KPK sehingga menimbulkan persepsi negatif di masyarakat.
Hal itu juga yang membuat konvensi calon presiden dari Partai Demokrat kurang menarik perhatian masyarakat.
Partai Demokrat, kata dia, menyadari faktor penyebab penurunan suara tersebut dan berusaha keras membenahi internal partai untuk segera bangkit kembali.
"Kalau partai lain butuh waktu 10 tahun untuk bangkit, semoga Partai Demokrat hanya sebentar saja, satu atau dua tahun untuk bangkit kembali," katanya.
Ketua DPP Partai Demokrat itu menjelaskan menyikapi pemilu presiden 2014, Ketua umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono tidak mau langsung membuat keputusan politik, tapi memantau masukan dari para pengurus daerah melalui forum rapimnas.
Masukan itupun, kata dia, dilakukan secara demokratis yakni melalui kuisioner yang diisi oleh para pengurus daerah bagaimana sebaiknya Partai Demokrat bersikap.
"Dari hasil kuisioner tersebut, ada sebanyak 56 persen pengurus daerah menginginkan Partai Demokrat bersikap netral yakni tidak bergabung dengan salah satu dari dua koalisi parpol yang adam," katanya.
Ia menegaskan sikap netral dan tidak bergabung itu bukan berarti Partai Demokrat menjadi oposisi tapi sebagai penyeimbang.
Partai Demokrat, kata dia, siap mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintahan dari presiden terpilih dan siap bangkit lagi pada pemilu 2019. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
- 7 Sepatu Running Adidas dengan Sol Paling Empuk dan Stabil untuk Pelari
Pilihan
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
-
Liburan Keluarga Berakhir Pilu, Bocah Indonesia Ditabrak Mati di Singapura
-
Viral Oknum Paspampres Diduga Aniaya Driver Ojol di Jakbar, Dipicu Salah Titik dan Kata 'Monyet'
-
Hasil Rapat DPR: Pasien PBI BPJS Tetap Dilayani, Pemerintah Tanggung Biaya Selama 3 Bulan
-
OJK Bongkar Skandal Manipulasi Saham, PIPA dan REAL Dijatuhi Sanksi Berat
Terkini
-
Dharma Pongrekun Soal Virus Nipah: Setiap Wabah Baru Selalu Datang dengan Kepentingan
-
Di Persidangan, Noel Sebut Purbaya Yudhi Sadewa 'Tinggal Sejengkal' ke KPK
-
Rano Karno Ungkap Alasan Jalan Berlubang di Jakarta Belum Tertangani Maksimal
-
Percepat Pemulihan Pascabencana Sumatra, Mendagri-BPS Bahas Dashboard Data Tunggal
-
Ironi 'Wakil Tuhan': Gaji Selangit Tapi Masih Rakus, Mengapa Hakim Terus Terjaring OTT?
-
Gus Ipul Tegaskan Realokasi PBI JKN Sudah Tepat
-
Skandal Suap DJKA: KPK Dalami Peran 18 Anggota DPR RI Periode 2019-2024, Ini Daftar Namanya
-
Kabar Baik! Istana Percepat Hapus Tunggakan BPJS Triliunan, Tak Perlu Tunggu Perpres?
-
Gus Ipul Tegaskan Percepatan Sekolah Rakyat Nias Utara Prioritas Utama Presiden Prabowo
-
Survei IPI: Sjafrie Sjamsoeddin Hingga Purbaya Masuk Bursa Bakal Capres 2029