Suara.com - Kasus dugaan pelecehan seksual disertai pembunuhan dengan cara mutilasi di Kabupaten Siak, Riau, berpotensi mendatangkan kerugian bagi para pedaganag daging.
"Terlebih ada berita yang menyatakan jika pelaku MD (19) menjual daging para korbannya itu ke sejumlah tempat bahkan ke pedagang sate," kata Psikolog Universitas Islam Riau Yanuar Arif di Pekanbaru, Rabu (13/8/2014).
Menurut dia, hal itu dipicu oleh doktrin yang masuk ke masyarakat lewat berbagai pemberitaan tentang kasus dugaan mutilasi tersebut.
"Kecenderungan berfikir manusia berada pada hal-hal yang negatif, termasuk jika diberitakan terkait adanya daging manusia dijual ke sejumlah tempat. Tentu masyarakat akan lebih berhati-hati ketika hendak membeli daging," katanya.
Terlebih, lanjut kata dia, kecenderungan berfikir masyarakat jika telah didoktrin kasus daging mutilasi yang diduga dijual oleh pelaku itu, akan memunculkan isu baru.
Tidak heran jika ada masyarakat berpandangan seperti ini, jika daging manusia saja bisa dijual ke pasar tanpa terdeteksi, bagaimana dengan daging tikus dan babi yang bisa saja di campurkan dengan daging sapi, katanya.
"Kondisi itu tentunya berpotensi mendatangkan kerugian bagi pedagang daging, karena masyarakat bisa saja akan lebih berhati-hati dalam hal membeli daging sapi untuk konsumsi sehari-hari," katanya.
Pernyataan psikolog ini menanggapi adanya kasus dugaan pelecehan seksual disertai mutilasi oleh empat pelaku, MD (19), DD (19), S (26) dan DP (17).
Keempat orang tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka yang membunuh tujuh korban, empat di antaranya merupakan korban dari kalangan bocah berumur 5,5 tahun hingga 10 tahun.
Otak pelaku kejahatan itu, MD, kepada penyidik kepolisian sempat mengaku daging para korban dijualnya ke sejumlah tempat, termasuk ke para pengusaha warung minuman tradisional tuak yang ada di Perawang, Siak. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
Terkini
-
Mesin Cuci AQUA Eco-Wash Series FQW-850900QD Andalkan Steam dan Anti Bacterial Treatment
-
Komisi III DPR: Penangkapan Kasat Resnarkoba Tangsel Bukti Polri Tak Pandang Bulu Tegakkan Hukum
-
Kepala Robek 3 Jahitan, Pelajar di Palmerah Dibacok 4 Orang Bercelana Sekolah
-
Ratusan Petani Luwu Timur Turun Gunung Tolak Penggusuran Kawasan Industri
-
Perry Warjiyo Mundur: Jangan Sampai Bos Baru BI Mudah Disetir Politisi!
-
Berapa Harga Parfum Ahmed Al Maghribi? Ini 5 Variannya yang Paling Wangi
-
BRI Danareksa Ungkap Dua Saham yang Harganya Berpotensi Naik
-
Mana yang Lebih Dulu, Concealer atau Foundation? Ini Urutan Makeup yang Benar
-
Rebutan Solar Berdarah di SPBU Makassar, Kenapa Pertamina Selalu Bilang Stok Aman?
-
Komisi XIII DPR Kecam Keroyok Massa di Bali: Desak Penegakan Hukum & Pendampingan Trauma Anak Korban