Suara.com - Di tengah wacana pembubaran Front Pembela Islam (FPI) di seluruh Indonesia, organisasi berhaluan kanan ini justru berencana mendeklarasikan pendirian anak cabang di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Pro dan kontra pun kini mengemuka mengiringi wacana Bupati Syahri Mulya yang menghendaki deklarasi di wilayahnya itu dibatalkan.
Pernyataan, atau lebih tepatnya imbauan, yang kemudian memicu kontroversi di masyarakat itu dilontarkan Bupati Syahri Mulyo usai Sarasehan Kamtibmas yang digelar jajaran Kepolisian Resor Tulungagung di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso, akhir pekan pertama Oktober 2014.
Ia menyadari tidak memiliki kewenangan langsung untuk melarang pembentukan maupun pendirian satu organisasi tertentu karena hal itu telah diatur dalam Undang-undang.
Namun, dalam kapasitasnya sebagai kepala daerah, Syahri tegas mengisyaratkan penolakannya terhadap rencana deklarasi pembentukan cabang FPI di wilayahnya.
Bukan tanpa alasan Bupati Syahri Mulyo menyampaikan pendapat seputar wacana deklarasi FPI tersebut. Menurut dia, kultur masyarakat Tulungagung telah terbentuk sedemikian rupa, sehingga tercipta suasana guyub, rukun. Satu kata bertingkat yang berasal dari falsafah Jawa kuno tersebut memiliki arti suasana interaksi kemasyarakatan yang damai dan saling toleransi.
Ibarat air, karakter sosial masyarakat di daerah cenderung tenang di tengah pesatnya kemajuan industri perdagangan dan budaya setempat. Kondisi inilah yang dikhawatirkan berubah menjadi "air beriak" tatkala muncul gerakan ekstrem dari luar yang dianggap mengusik ketenangan lingkungan mereka.
Sifat resisten biasanya spontan muncul demi menjaga suasana ayem-tentrem tersebut dari pihak-pihak yang dianggap berpotensi megacaukannya. Pandangan inilah yang kurang-lebih melatarbelakangi pemikiran sang bupati untuk menyampaikan pendapatnya sebagai pribadi maupun kepala daerah.
Tanpa bermaksud menganalogikan FPI sebagai pengacau, namun pola gerakan organisasi yang dipimpin Habib Rizieq ini terlanjur dikenal ultra kanan. Demi dan atas nama jihad serta amar makruf nahi munkar yang mereka yakini, FPI tak segan menggunakan kekerasan fisik dalam menjalankan aksinya.
"Suasana yang sudah tenang, Tulungagung yang guyub-rukun, 'ayem tentrem lan mulyo tinoto' (aman, damai, saling toleransi dan sejahtera) ini sebaiknya dijaga. Jangan dirusak," kata Bupati tanpa menyebut spesifik pihak yang dianggap berpotensi merusak suasana dimaksud.
Namun, dia kemudian menyinggung rekam jejak FPI di sejumlah daerah, khususnya Ibu Kota DKI Jakarta, yang gerakannya kerap menggunakan pendekatan intimidasi, kekerasan, serta teror.
Menurut dia, keberadaan organisasi pergerakan semacam FPI yang cenderung melampaui batas kewenangan yang diizinkan, justru hanya akan membuat suasana Tulungagung yang guyub-rukun jadi amburadul. "Karena itulah, saya mengimbau, seyogyanya 'mbok ya' jangan ada deklarasi FPI di sini," cetusnya.
Ia memang tidak serta-merta menyatakan penolakan atas pendirian FPI di daerahnya. Namun, secara persuasif Syahri memberi masukan pihak-pihak di Tulungagung yang berkepentingan ataupun terlibat dalam rencana deklarasi FPI mengurungkan niat.
Kebiasaan FPI di berbagai daerah yang acapkali mengedepankan gerakan anarkistis dan melampaui batas kewenangan kepolisian maupun aparat keamanan lainnya, dinilai bisa merusak karakter sosial masyarakat Tulungagung yang antikekerasan. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
BMKG Peringatan Dini! Hujan Ekstrem Mengancam Sejumlah Wilayah Indonesia Sepekan ke Depan
-
Libur Imlek: Penumpang Whoosh Naik Signifikan hingga 25 Ribu Orang Sehari
-
Xi Jinping dan Donald Trump Segera Bertemu, Ada Potensi Bisnis dan Skenario 'Perang'
-
KPK Dalami Kaitan Rangkap Jabatan Mulyono dengan Modus Korupsi Restitusi Pajak
-
Meriahkan Imlek, InJourney Tawarkan Promo Tiket Sunrise Borobudur Rp350 Ribu
-
Tunaikan Umrah, Momen Megawati Didampingi Prananda dan Puan Ambil Miqat Masjid Tan'im
-
Bukan Sekadar Penanam: Wamen Veronica Tan Tegaskan Peran Strategis Perempuan dalam Tata Kelola Hutan
-
Indonesia-Norwegia Luncurkan Small Grant Periode IV, Dukung FOLU Net Sink 2030
-
Terungkap: AS Siapkan Strategi Perang Jangka Panjang di Iran, Beda dari Venezuela
-
Nasib Buruh Perempuan hingga Korban MBG Jadi Sorotan Tajam API