Anak-anak di video ISIS. (Twitter)
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Adnan Anwar menilai bergabung dengan kelompok Islamic State of Iraq and Syria adalah pilihan salah yang tidak sepatutnya diikuti oleh warga Negara Indonesia.
"Tidak ada alasan buat WNI menerima pengaruh radikal dan ikut-ikutan pergi ke Timur Tengah dan bergabung di kawasan konflik, apalagi bergabung dengan ISIS," kata Adnan di Jakarta, Jumat.
Ia menegaskan bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah yang terkait dengan ISIS secara ideologi dan geopolitik sama sekali tidak terkait dengan Indonesia.
Menurut dia, konflik yang melibatkan ISIS sebenarnya lebih kepada persoalan ekonomi yakni perebutan sumber daya alam di kawasan Timur Tengah.
"Jadi, kalau ada mobilisasi ISIS di Indonesia menurut saya sudah salah arah. Tidak ada jihad di situ," katanya.
Menurut Adnan, yang terjadi di Suriah justru saling membunuh di antara sesama Muslim.
Secara terpisah, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Andi Aulia Rahman mengatakan bahwa paham kekerasan sudah menjadi ancaman serius bagi Indonesia.
"Saat ini radikalisme sudah jadi ancaman yang membahayakan bagi generasi muda karena massif dan ternyata banyak anak muda yang terpengaruh dan kemudian berangkat ke negara lain karena yakin dengan paham radikal itu," katanya.
Menurut dia, upaya menanggulangi radikalisme tidak dapat dibebankan seluruhnya kepada negara. Justru, tameng utama untuk menahan ajaran radikalisme terletak di tangan anak muda itu sendiri.
"Cara ampuh untuk mencegah ancaman itu adalah dengan menfilter semua informasi yang diterima. Kita bisa filter informasi radikal dengan browsing di internet, bertanya ke keluarga atau dosen," katanya.
Tameng kedua untuk mencegah radikalisme, menurut Andi adalah keluarga. Ia mengatakan bahwa keluarga adalah tiang utama bagi generasi muda.
"Keluarga tempat kita kembali, karena itu peran keluarga sangat kuat untuk menahan pengaruh radikalisme," katanya. (Antara)
"Tidak ada alasan buat WNI menerima pengaruh radikal dan ikut-ikutan pergi ke Timur Tengah dan bergabung di kawasan konflik, apalagi bergabung dengan ISIS," kata Adnan di Jakarta, Jumat.
Ia menegaskan bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah yang terkait dengan ISIS secara ideologi dan geopolitik sama sekali tidak terkait dengan Indonesia.
Menurut dia, konflik yang melibatkan ISIS sebenarnya lebih kepada persoalan ekonomi yakni perebutan sumber daya alam di kawasan Timur Tengah.
"Jadi, kalau ada mobilisasi ISIS di Indonesia menurut saya sudah salah arah. Tidak ada jihad di situ," katanya.
Menurut Adnan, yang terjadi di Suriah justru saling membunuh di antara sesama Muslim.
Secara terpisah, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Andi Aulia Rahman mengatakan bahwa paham kekerasan sudah menjadi ancaman serius bagi Indonesia.
"Saat ini radikalisme sudah jadi ancaman yang membahayakan bagi generasi muda karena massif dan ternyata banyak anak muda yang terpengaruh dan kemudian berangkat ke negara lain karena yakin dengan paham radikal itu," katanya.
Menurut dia, upaya menanggulangi radikalisme tidak dapat dibebankan seluruhnya kepada negara. Justru, tameng utama untuk menahan ajaran radikalisme terletak di tangan anak muda itu sendiri.
"Cara ampuh untuk mencegah ancaman itu adalah dengan menfilter semua informasi yang diterima. Kita bisa filter informasi radikal dengan browsing di internet, bertanya ke keluarga atau dosen," katanya.
Tameng kedua untuk mencegah radikalisme, menurut Andi adalah keluarga. Ia mengatakan bahwa keluarga adalah tiang utama bagi generasi muda.
"Keluarga tempat kita kembali, karena itu peran keluarga sangat kuat untuk menahan pengaruh radikalisme," katanya. (Antara)
Tag
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
Tak Bisa Lagi Sembarangan, RUU PPRT Bakal Atur Perusahaan Berbadan Hukum yang Boleh Salurkan PRT
-
Kejagung Periksa Kasi Intel Bea Cukai Aceh Terkait Dugaan Korupsi Ekspor POME
-
Aksi Kamisan ke-900: Keteguhan Sumarsih Mencari Keadilan bagi Sang Anak
-
Ahli Hukum di Sidang Gus Yaqut: Kerugian Negara Harus Ada Sebelum Penetapan Tersangka
-
Ketua Baleg DPR RI Pastikan RUU PPRT Disahkan Tahun Ini, Rieke Pitaloka Usul Momentum Hari Kartini
-
Bareskrim Polri Minta Bank Perketat Aturan Buka Rekening demi Putus Aliran Dana Judi Online
-
Tak Hanya Outsourcing, Perusahaan Keluarga Fadia Arafiq juga Kuasai Proyek Makan-Minum di 3 RSUD
-
Pakar UGM: Keputusan Menag Soal Kuota Haji Belum Tentu Melanggar Hukum Tanpa Pengujian Resmi
-
Sikap RI 2024 vs 2026: Mengapa Tak Ada Lagi Kata 'Mengutuk' untuk Serangan AS-Israel ke Iran?
-
Korea Utara Uji Coba Rudal Nuklir Baru saat Timur Tengah Memanas