Suara.com - Konflik bernuasa suku, ras, agama dan golongan (SARA) di Ambon, Maluku sudah berakhir sejak lama. Sekarang Ambon damai, antara warga yang saling berdampingan. Namun ada yang hilang setelah konflik itu.
Pascakonflik itu, masyarakat kota Ambon telah terpisah secara geografis berdasarkan agama. Komunitas Kristen berada di belahan selatan pulau Ambon, sedangkan komunitas Muslim berada di belahan utara. Komunitas di dalam Kota Ambon sendiri terpisah berdasarkan desa, sebab ada desa yang mayoritas Kristen dan ada desa yang mayoritas Muslim.
"Secara keseluruhan semua berjalan normal. Interaksi ekonomi, politik dan sebagainya. Tapi konflik dahulu itu menyisahkan kondisi-kondisi yang terpisah secara geografis," jelas Tokoh perdamaian dari Maluku Jacky Manuputty saat berbincang dengan suara.com, Kamis (7/5/2015) pagi.
Dia mengatakan meski terpisah, mereka berbaur dalam ruang publik. Namun bedanya, hampir 90 persen masyarakat di sana tidak bertetangga antar masyarakat yang berbeda keyakinan.
"Saya kira yang hilang itu adalah perjumpaan-perjumpaan di ruang domestik (antar tetangga) yah. Seperti pasar, kantor, sekolah, rumah sakit itu ruang publik. Mereka ketemu. Tapi setelah sore selesai, mereka kembali ke ruang domestik muslim dengan muslim, Kristen dengan Kristen," cerita Jacky.
Selain itu tidak ada pemandangan anak-anak antar lain kelompok yang bermain di malam hari. Mereka bermain dengan komunitasnya sendiri. Namun itu terjadi bukan karena bermusuhan, tapi soal jarak antar komunitas yang terpisah.
"Misal berkunjung di hari besar sebuah agama. Kehidupan tetangga itu hilang. Dulu (saya) pas bangun tidur ada acara muslim yang salawatan, saya bisa minta kuenya. Jadi relasi kemanusiaan yang hilang," katanya.
Mengembalikan suasana segar penuh toleransi
Jacky merupakan penerima anugerah internasional bertajuk Tanembaum Peacemaker in Action Award tahun 2012. Penghargaan ini diberikan oleh lembaga Tanenbaum Center for Interreligious Understanding di New York, Amerika Serikat.
Jacky juga salah satu deklarator Penjanjian Maluku di Malino yang mengakhiri konflik di Maluku. Dia dan teman-temannya di Maluku membangun kelompok-kelompok damai lintas iman yang mencakup jurnalis, perempuan, tokoh agama dan mahasiswa.
Salah satu program yang digagas Jacky dan berhasil melepaskan Ambon dari konflik adalah 'live-in'. Dalam program itu Jacky membawa tokoh-tokoh agama dan perempuan tinggal di rumah orang-orang yang berbeda kepercayaan, bahkan pernah bermusuhan.
"Kami pertemukan antar anak-anak SD dari muslim dan agama lain. Mereka berkumpul, setelah Magrib, kita break. Yang muslim salat, dilihat oleh yang agama lain. Setelah selesai, yang melihat salat pada tepuk tangan. lho kenapa tepuk tangan? Mereka ini baru melihat hal baru yang tidak bisa di lihat di komunitasnya. Dan itu menyenangkan," kata dia.
Jacky berharap 'live-in' bisa melahirkan agen perdamaian di sebuah daerah. Agen itu memberi contoh cara hidup berdampingan dengan masyarakat berbeda kepercayaan.
"Bagaimana bersinergi antar tetangga. Yang pertama kita harus hidupkan aktor perdamaian, yang memberi pengaruh ke komunitas yang tinggal di satu komunitas," kata Jacky.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Nyoman Nadiana dan Konsep Keberlanjutan untuk Desa Les di Mata Dunia
-
4 Serum Kolagen dan Peptide untuk Wanita Usia 30 Tahun ke Atas, Bikin Wajah Awet Muda
-
Jejak Don Rare di Desa Les: Merawat Tradisi Bali Utara Bersama Astra
-
Gaji ASN Naik di 2027? Ini Kata Menkeu Purbaya
-
Gunung Geger Membara! 12 Hektare Hutan Jati Hangus Dilalap Si Jago Merah dalam Sekejap
-
PFII Siap Hadirkan Ekosistem Investasi Berstandar Dunia dan Digital
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
4 Hair Oil untuk Rambut Diwarnai agar Tetap Lembut dan Tidak Mudah Kering
-
Gaya Hidup Early Risers: 4 Alasan Rutinitas Pagi Makin Sempurna dengan Perlindungan yang Tepat
-
Cemburu, Sang Istri Nekat Potong Alat Vital Suami dengan Celurit di Lumajang