Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Pandjaitan mengatakan Indonesia masih mengkaji keterlibatan dalam proyek kesehatan Agenda Keamanan Kesehatan Global atau "Global Health Security Agenda" (GHSA).
Sebab, menurut Luhut, Indonesia tidak boleh dirugikan jika nantinya memutuskan untuk berperan dalam penelitian kesehatan di bawah payung GHSA.
"Kalau memang menguntungkan, Indonesia akan ikut. Tetapi peneliti kita harus terlibat dalam setiap proyeknya," ujar Luhut di Kemenkopolhukam, Jakarta, Senin malam.
Ia melanjutkan pemerintah masih melihat format kerja sama dalam GHSA, gerakan kesehatan global yang diinisiasi oleh Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam pertemuan GHSA di Seoul, 7-9 September 2015, pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek.
Sebelum berangkat pada Kamis (3/9) malam, Menteri Nila mengadakan pertemuan dengan Menkopolhukam di Kemenkopolhukam. Salah satu yang dibicarakan adalah posisi Indonesia dalam GHSA.
Menkopolhukam, usai pertemuan itu, mengatakan Indonesia tidak mau didikte oleh siapapun terkait masalah kesehatan. "Kami ingin ada kemandirian," kata Luhut.
Menurut laman resmi Departemen Kesehatan dan Pelayanan Manusia Amerika Serikat, "Global Health Security Agenda" adalah upaya pemerintah AS bekerja sama dengan negara lain, organisasi internasional beserta pemangku kebijakan publik serta swasta demi menuju dunia yang aman, bebas dari ancaman penyakit menular, sekaligus mempromosikan keamanan kesehatan global sebagai prioritas keamanan internasional.
Indonesia sendiri, berdasarkan laman Kementerian Luar Negeri, saat ini tergabung di dalam inisiatif Global Health Security Agenda (GHSA), yang telah diluncurkan sejak bulan Februari 2014 oleh Amerika Serikat serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pada 20-21 August 2014, Indonesia sempat menjadi tuan rumah pertemuan global tentang GHSA terkait penyakit menular dari hewan ke manusia atau "Global Meeting on Managing Zoonotic Infectious Diseases", yang diselenggarakan di Jakarta.
Laman KBRI Seoul menyebutkan saat ini GHSA memiliki 44 negara anggota dan Indonesia termasuk dalam klasifikasi "contributing countries" dalam pelaksanaan "GHSA Action Package". [Antara]
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
-
Korban Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo Bertambah, AHY: 15 Jiwa Meninggal dan 88 Orang Luka-Luka
-
'Kakak Saya Belum Bisa Dihubungi', Pilu Keluarga Cari Korban Kecelakaan KRL di Bekasi Lewat Medsos
Terkini
-
Tangis Keluarga Pecah Saat 10 Jenazah Korban Kecelakaan KRL Dipulangkan dari RS Polri
-
Sembilan dari 10 Pangan Kemasan Tinggi GGL, BPOM: Bukti Penting Penyempurnaan Kebijakan Pangan Sehat
-
Temui Menko Zulhas, Asosiasi Pelaku Usaha Dorong Perbaikan Tata Kelola hingga Rantai Pasok MBG
-
Wamendagri Wiyagus Tekankan Pemerintah Berikan Perhatian Serius Tangani Masalah Kesehatan Papua
-
Arab Saudi Tekankan Pentingnya Keamanan Selat Hormuz
-
Terungkap! Ini Isi Proposal Damai Iran yang Bikin Donald Trump Meradang
-
KPK Dalami Uang USD 1 Juta di Kasus Dugaan Suap Pansus Haji DPR RI
-
Bima Arya Tekankan Efisiensi dan Sinergi sebagai Motor Penggerak Ekonomi Daerah
-
Gus Ipul Usul Perluasan Bansos untuk Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi
-
Ketum TP PKK Tekankan Peran Strategis PKK dan Posyandu di Papua Selatan