Suara.com - Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull meminta pemberian ruang intelijen yang lebih besar di Asia Tenggara pada Selasa (24/11/2015) untuk menghentikan serangan teror seperti yang terjadi di Paris, dan memerintahkan pejabat penegak hukum setempat untuk menguji kesiapan mereka untuk mengatasi kekacauan masal.
Dengan mengutip "meningkatnya ancaman teroris", Amerika Serikat mengeluarkan siaga global pada Senin bagi warga Amerika yang berencana untuk bepergian menyusul serangan militan di Prancis dan Mali.
Turnbull meminta pembagian intelijen dengan para pemimpin negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia dan Singapura yang merupakan negara tujuan populer bagi warga Australia.
"Dari pandangan warga Australia, kami melihat adanya resiko nyata bahwa kelompok teroris di wilayah tersebut kemungkinan terinspirasi oleh serangan-serangan seperti yang telah kita lihat di Ankara, Beirut, Bamako dan Paris, dan kami sadar akan fakta bahwa ratusan warga Australia mengunjungi Asia Tenggara setiap tahunnya, untuk berbisnis, belajar atau liburan," ujarnya.
Australia mengalami serangan terburuk terhadap warga negaranya di pulau turis Indonesia, Bali pada 2002, ketika dua pelaku bom bunuh diri meledakkan bom di klub malam yang menewaskan 202 orang, termasuk diantaranya 88 warga Australia.
Turnbull pada Selasa memerintahkan pejabat penegak hukum Australia untuk menguji kesiapan mereka atas serangan kekacauan masal yang disulut oleh serangan di Paris pada 13 November yang menewaskan 130 orang.
Australia melancarkan serangan udara melawan kelompok bersenjata ISIS sebagai bagian dari koalisi pimpinan Amerika Serikat, yang telah mengarah kepada ancaman serangan balasan.
"Saya telah meminta aparat penegak hukum kami untuk menguji respon mereka terkait serangan kekacauan besar. Kegiatan ini merupakan tambahan bagi reformasi hukum keamanan nasional kami. Hukum tersebut memastikan aparat kami memiliki segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk menjaga keamanan kita semua," ujar Turnbull.
Turnbull mengulangi pernyataannya bahwa tidak ada rencana untuk mengubah taktik militer Australia untuk melawan kelompok bersenjata ISIS, meskipun beberapa politisi meminta untuk mengirimkan pasukan ke Suriah.
Australia terlihat meningkatkan kewaspadaannya atas serangan kelompok radikal setempat sejak tahun lalu.
Pada September, polisi menembak seorang pemuda asal Melbourne setelah dirinya menusuk dua aparat anti terorisme. Pada Desember lalu, dua tawanan terbunuh ketika polisi menyerbu sebuah kafe di pusat kota Sydney untuk mengakhiri pengepungan selama 17 jam atas seorang perampok bersenjata yang juga terbunuh.
Bulan lalu, seorang remaja asal Inggris berusia 15 tahun dihukum seumur hidup karena menghasut sebuah serangan di acara peringatan Perang Dunia Pertama di Australia dari kamarnya di bagian utara Inggris.
Temuan tersebut memicu operasi polisi besar-besaran di Melbourne yang mengarah kepada penangkapan lima orang remaja yang merencanakan serangan yang mirip dengan serangan kelompok bersenjata ISIS, ujar pihak berwenang.
Sekitar 120 warga Australia diyakini bertarung bersama kelompok bersenjata ISIS dan kelompok militan lainnya di Irak dan Suriah, dengan beberapa diantaranya diyakini memegang posisi tinggi di kelompok tersebut. (Antara)
Berita Terkait
-
Media Tetangga Sampai Heran Ada 3 Pemain Berdarah Australia Bersama Timnas Indonesia
-
Dapat Lampu Hijau dari Pemerintah NSW, Proyek Rp25 T Milik WNI Siap Dibangun
-
4 Realita Tinggal di Australia yang Wajib Kamu Tahu, Pasti Seru Kayak di Tiktok?
-
Piala Dunia 2026: Akhir Perjalanan Wakil Asia dan Pergantian Kiper yang Terasa Sangat Menyakitkan
-
Mohamed Salah Menangis Haru, Mesir Singkirkan Australia Lewat Adu Penalti
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
Terkini
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Menembus Macet demi Langit Bersih: Catatan Acara Lintas Komunitas Kemenhub
-
Berawal dari Dapur Rumahan, Camilan BUNCY Kini Mendunia Bersama BRI
-
Terjaring OTT, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini tiba di KPK
-
Banyak Sekolah Rusak? Prabowo Janji Bereskan Semuanya Sebelum 2029
-
Gaji Bukan Hambatan, Pep Guardiola Berpeluang Tangani Timnas Italia
-
Pakar Jelaskan Soal BPA pada Galon Guna Ulang, Benarkah Berbahaya?
-
Green Label Jadi Tren Baru Bangunan, Material Ramah Lingkungan Semakin Diminati
-
Mendagri Tito Heran Banyak Kepala Daerah Kena OTT, Padahal Sudah Ikut Retret
-
Kriminolog: TPPU Pintu Masuk untuk Kasus Eks Jampidsus