News / Internasional
Senin, 04 April 2016 | 13:32 WIB
Presiden Suriah Bashar al-Assad. (Reuters)

Suara.com - Jutaan dokumen rahasia milik salah satu firma hukum paling tertutup di dunia bocor. Dokumen-dokumen tersebut mengungkap, bagaimana para orang kaya, bahkan sejumlah pemimpin negara-negara dunia, menyembunyikan kekayaannya tanpa perlu membayar pajak dengan bantuan firma tersebut.

Lansiran Independent, para mantan diktator, kepala negara, dan pengusaha yang menggunakan jasa firma tersebut, dituding melakukan praktik pencucian uang, menghindari sanksi, dan mengemplang pajak. Informasi tersebut diungkap lewat setumpuk dokumen yang mengupas data-data rahasia dan cara kerja firma hukum asal Panama, Mossack Fonseca.

Dokumen yang dinamakan "The Panama Papers" tersebut mengungkap informasi dari 72 kepala negara dan mantan kepala negara yang memakai jasa Mossack Fonseca. Beberapa dari mereka dituding memanfaatkan bank mereka sendiri untuk kepentingan pribadi dan menjarah harta negara.

Mereka yang namanya terseret adalah mantan presiden Mesir Hosmi Mubarak, mantan diktator Libya Muammar Khaddafi, serta Presiden Suriah berkuasa, Bashar al-Assad.

Dua orang dekat Presiden Rusia, Vladimir Putin, juga turut muncul namanya dalam dokumen tersebut. Salah satunya adalah pemain cello Rusia Sergei Roldugin, yang sudah kenal akrab dengan Putin selama bertahun-tahun. Ia adalah ayah baptis dari putri Putin, Maria. Sergei dan satu orang lainnya dituding terlibat jaringan pencucian uang senilai 1 miliar Dolar melalui Bank Rossiya, sebuah bank yang beroperasi di Saint Petersburg.

Dokumen-dokumen tersebut dimuat pertama kali dalam surat kabar Jerman Suddeutsche Zeitung oleh Konsorsium Jurnalis Iinvestigasi Internasional (ICIJ). Direktur ICIJ, Gerard Ryle, bersama 107 media di lebih dari 70 negara telah menganalisis dokumen-dokumen tersebut.

"Saya pikir kebocoran ini akan memberikan pukulan terbesar yang pernah dialami perusahaan-perusahaan offshore (perusahaan-perusahaan berbadan hukum yang berada diwilayah yurisdiksi di wilayah Tax Haven “Surga Pajak”) setelah adanya dokumen ini," kata Ryle.

Sejumlah pejabat Inggris pun ikut tercatut namanya. Beberapa diantaranya adalah Baroness Pamela Charples, Anggota Parlemen Michael Mates dan mantan wakil letua Partai Konservatif Michael Ashcroft. Namun, mereka membantah terlibat.

Sejumlah pemimpin dunia lain yang ikut disebut namanya adalah Perdana Menteri Eslandia, Sigmundur Gunnlaugsson. Sigmundur dituding menyembunyikan jutaan dolar di sejumlah bank Eslandia dengan bantuan perusahan offshore.

The Guardian menyebut, perusahaan offshore macam Mossack Fonseca biasanya berdiri di negara-negara "tax haven" atau negara surga pajak seperti Panama. Negara-negara ini memberlakukan pajak rendah, bahkan terkadang tidak mengenakan pajak sama sekali agar dana orang-orang berduit mengalir ke negara mereka.

Dokumen Mossack Fonseca juga menunjukkan bahwa para pengguna jasanya bisa menarik uang dalam jumlah banyak tanpa memberitahu identitas mereka. Dalam satu kasus, sebuah firma dapat mewakili seseorang yang berpura-pura sebagai pemilik uang sebesar 1,8 juta Dolar agar si pemilik aslinya dapat menarik uang tanpa perlu diketahui identitasnya.

ICIJ juga sudah memiliki daftar 140 politisi dari lebih dari 50 negara yang memiliki kaitan dengan perusahaan-perusahaan offshore. Perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di 21 negara surga pajak.

Mossack Fonseca sendiri sudah beroperasi selama 40 tahun tanpa pernah tersentuh tangan hukum manapun. Mereka juga tidak pernah tersandung masalah hukum sama sekali.

Load More