Suara.com - Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi mengintruksikan seluruh anggota DPRD Jabar dari Fraksi Golkar menolak kendaraan dinas Toyota Fortuner pemberian Pemerintah Provinsi Jabar.
"Saya meminta para anggota DPRD Jabar Fraksi Golkar menolak 100 persen terkait pengadaan 95 kendaraan dinas Fortuner, satu Alphard dan satu Prado," katanya, di Purwakarta, Senin (25/4/2016).
Ia menyatakan, saat ini akuntabilitas keuangan Pemprov Jabar sedang diuji. Itu dilihat dari permasalahan anggaran desa yang dialihkan untuk pembiayaan Pekan Olahraga Nasional. Dedi juga menunjuk "jomplangnya" anggaran bantuan provinsi di setiap kota/kabupaten. Terakhir masalah banjir Bandung yang belum terselesaikan.
Pembelian mobil dinas para anggota DPRD dengan jumlah anggaran yang cukup besar, menurutnya, juga bagian dari ketidakseimbangan pengelolaan anggaran.
Ia menyatakan, dengan adanya permasalahan itu, maka perlu sikap tegas dalam menanggapi keuangan Jabar. Sebab anggaran harus difokuskan untuk kepentingan publik.
Sebagai pimpinan partai di tingkat Jawa Barat, Dedi merasa wajib mengingatkan para kadernya di lembaga legislatif untuk menanggapi secara serius pengelolaan keuangan.
"Jadi anggota legislatif mau apa, ingat lagi dengan cita-cita dan janji partai kepada masyarakat. Menerima mobil dinas yang membutuhkan anggaran besar saja sebenarnya sama dengan mengkhianati janji kepada masyarakat," kata dia.
Dedi yang baru terpilih sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jabar melalui musyawarah daerah beberapa waktu lalu itu mengancam kadernya di legislatif yang menerima mobil dinas itu. Bagi kader Partai Golkar di DPRD Jabar yang menerima kendaraan dinas, akan dilakukan pergantian antarwaktu. (Antara)
Berita Terkait
-
Polda Riau Jadi yang Terbaik dalam Kelola Anggaran Polri, Ini Rahasianya
-
Rp233 Triliun Uang Rakyat Nganggur di Bank, Pemda Gagal Kelola Anggaran?
-
Prabowo: Pendidikan yang Bagus Perlu Uang, Harus Hemat
-
Profil Staf DPRD Jambi yang Anaknya Bawa Pacar Bugil di Mobil Dinas
-
Apes Berlipat Sejoli SMA yang Tertangkap Bugil di Mobil DPRD Jambi, Digerebek Duluan Sebelum Kecelakaan
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kapolri Minta Jajaran Polri Perkuat Sinergi dengan APH Hadapi Dinamika Global
-
Viral Aksi Bejat Pria Rekam Rok Penumpang dari Kolong Peron Stasiun Kebayoran, Polisi Buru Pelaku
-
Cari Keadilan! Keluarga Korban Kekerasan TNI Serahkan Kesimpulan Gugatan UU Peradilan Militer ke MK
-
Orang Dekat Bobby Nasution Diperiksa KPK dalam Kasus Dugaan Suap Proyek PUPR Sumut
-
Kemendagri Perluas Pemanfaatan IKD, Ratusan Ribu Warga Akses Layanan Tanpa Fotokopi KTP
-
Berapa Harga Tiket Kapal Pesiar MV Hondius? Liburan Mewah Berujung Infeksi Hantavirus Mematikan
-
Membedah Pola Pikir Anggota BAIS TNI Penyiram Air Keras Andrie Yunus
-
Terdakwa Kasus Pemerasan K3 Klaim Dapat Surat Kaleng, Apa Isinya?
-
Kapolri Bakal Lakukan Revisi Perkap Hingga Perpol Usai Terbitnya Rekomendasi KPRP
-
Sidang Kasus Andrie Yunus, Eks Kepala BAIS: Kalau Dipaksa ke Peradilan Umum Bisa Berujung Impunitas