Refly Harun (kiri) memaparkan pandangan RUU Pilkada di Jakarta, Minggu (21/9).[Antara/Puspa Perwitasari]
Pakar hukum tata negara Refly Harun tidak menemukan indikasi Presiden Joko Widodo ingin menjatuhkan lawan politik melalui penangkapan 11 tokoh dan pelacakan aliran dana yang diduga untuk mendanai rencana makar dengan menunggangi aksi damai 2 Desember.
"Nggak sampai sejauh itu, saya tidak melihat ada desain (Jokowi) untuk menjatuhkan lawan politik. Indonesia normal saja, apalagi konsolidasi kekuatan politik sudah di tangan," ujar Refly di Gedung Lembaga Administrasi Negara, Jakarta, Rabu (7/12/2016).
Menurut Refly penangkapan 11 tokoh menjelang aksi di tugu Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (2/12/2016), bertujuan untuk mengamankan aksi agar tetap berlangsung damai.
"Penangkapan ini untuk satu yaitu untuk mengamankan aksi 212. Nah 212 itu kan tidak ada yang bisa menjamin tidak akan ada penunggangan, tidak akan ada pembelokan masa tidak akan ada chaos, "katanya.
Aksi damai di Monas juga dihadiri Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta sejumlah menteri.
"Karena tidak ada jaminan presiden dan wapres itu terlindungi. Orang yang masuk sana tidak ada pakai metal detector kan masa cair begitu saja. Kalau seandainya ada yang melepaskan tembakan saja atau melempar batu saja bukan tidak mungkin akan terjadi chaos. Karena itu menurut saya aksi 212 yang damai sejuk seperti ini kita patut apresiasi salah satunya pada penegak hukum kepolisian dalam hal ini," kata Refly.
Mengenai benar tidaknya ada yang ingin makar dengan menunggangi aksi 212, kata Refly, nanti akan dibuktikan di pengadilan.
"Nah nanti wasitnya adalah di pengadilan bagi praperadilan maupun di pengadilan sesungguhnya sepanjang kedua itu berlangsung secara fair adil dan transparan," tutur Refly.
Menurut Refly penangkapan terhadap 11 tokoh hari itu merupakan tindakan preventif.
"Iya bisa memaklumi sebagai sebuah proses pencegahan. Sebuah tindakan preventif agar kemudian massa 212 itu tidak dibelokkan," kata dia.
"Nggak sampai sejauh itu, saya tidak melihat ada desain (Jokowi) untuk menjatuhkan lawan politik. Indonesia normal saja, apalagi konsolidasi kekuatan politik sudah di tangan," ujar Refly di Gedung Lembaga Administrasi Negara, Jakarta, Rabu (7/12/2016).
Menurut Refly penangkapan 11 tokoh menjelang aksi di tugu Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (2/12/2016), bertujuan untuk mengamankan aksi agar tetap berlangsung damai.
"Penangkapan ini untuk satu yaitu untuk mengamankan aksi 212. Nah 212 itu kan tidak ada yang bisa menjamin tidak akan ada penunggangan, tidak akan ada pembelokan masa tidak akan ada chaos, "katanya.
Aksi damai di Monas juga dihadiri Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta sejumlah menteri.
"Karena tidak ada jaminan presiden dan wapres itu terlindungi. Orang yang masuk sana tidak ada pakai metal detector kan masa cair begitu saja. Kalau seandainya ada yang melepaskan tembakan saja atau melempar batu saja bukan tidak mungkin akan terjadi chaos. Karena itu menurut saya aksi 212 yang damai sejuk seperti ini kita patut apresiasi salah satunya pada penegak hukum kepolisian dalam hal ini," kata Refly.
Mengenai benar tidaknya ada yang ingin makar dengan menunggangi aksi 212, kata Refly, nanti akan dibuktikan di pengadilan.
"Nah nanti wasitnya adalah di pengadilan bagi praperadilan maupun di pengadilan sesungguhnya sepanjang kedua itu berlangsung secara fair adil dan transparan," tutur Refly.
Menurut Refly penangkapan terhadap 11 tokoh hari itu merupakan tindakan preventif.
"Iya bisa memaklumi sebagai sebuah proses pencegahan. Sebuah tindakan preventif agar kemudian massa 212 itu tidak dibelokkan," kata dia.
Komentar
Berita Terkait
-
Beda Kelas dengan Eggi Sudjana, Zulkifli Sebut Manuver Rismon Murni Skenario Tingkat Tinggi
-
Refly Harun Soroti Permohonan RJ Rismon di Kasus Ijazah Jokowi: Kehendak Bebas atau Ada Tekanan?
-
Momen Tiga Presiden Bersatu di Istana, Bahas Stabilitas dan Isu Global
-
Prabowo Undang Mantan Presiden dan Wapres ke Istana Malam Ini, Jokowi Hadir
-
Misteri di Balik Jas Hitam Jokowi di India: Bawa Jas, Kenapa Tangan Kiri Tertutup?
Terpopuler
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 30 Link Twibbon Idul Fitri 2026 Simpel Elegan, Cocok Dibagikan ke Grup Kantor dan Rekan Kerja
- 7 HP Samsung Terbaik untuk Orang Tua: Layar Besar, Baterai Awet
Pilihan
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
Terkini
-
Kasatgas PRR: Rehabilitasi Pascabencana Tetap Prioritas, Kehadiran Presiden Jadi Bukti
-
Mengejutkan! Istri Noel Bocorkan Gus Yaqut Hilang dari Rutan KPK Sejak Malam Takbiran?
-
Silaturahmi Lebaran di Istana, Prabowo Sambut Hangat Kunjungan SBY dan Keluarga
-
Iran Tembak Rudal Balistik ke Diego Garcia, Pangkalan Pesawat Pengebom Amerika di Samudra Hindia
-
Tahun Ini Kemnaker Perluas Akses Pelatihan Vokasi dan Hapus Batasan Tahun Kelulusan
-
Kisah Haru Driver Ojol dan Tunanetra yang Akhirnya Bisa Masuk Istana di Momen Lebaran Presiden
-
Mata Membesar dan Senyum Hilang PM Jepang Saat Donald Trump Ngoceh Soal Pearl Harbor
-
Terbongkar! Isi Obrolan 2 Jam Prabowo dan Megawati di Istana, Singgung Geopolitik Global?
-
Puan Maharani Beri Sinyal Pertemuan Susulan Megawati-Prabowo: Insyaallah Secepatnya!
-
Kelakuan Turis AS Keluyuran saat Nyepi di Bali, Pura-pura Bisu saat Ditanya