Generasi Kedua yang Tersungkur
“Keluarga Cikeas”, menjelma sebagai poros politik baru yang mampu menjadi aktor utama dalam panggung politik nasional hingga daerah dalam kurun satu dasawarsa terakhir. Persisnya, sejak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sukses memenangkan dua kali pemilihan presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat (2004-2009/2009-2014).
Namun, seusai SBY lengser dari jabatan Presiden ke-6 RI, poros politik Cikeas goyah. Beragam kasus korupsi yang menjerat banyak elite Partai Demokrat—organisasi politik yang menempatkan keluarga Cikeas sebagai tokoh kunci—maupun dugaan skandal politik yang diarahkan kepadanya, membuat langkah-langkah politik kelompok Cikeas tak lagi tokcer.
Termutakhir, generasi kedua Keluarga Cikeas, Agus Harimurti, tampil mengecewakan setelah memberanikan diri keluar dari dinas kemiliteran untuk terjun ke dunia politik. Putra SBY tersebut—berpasangan dengan Sylviana Murni—kuat diprediksi gagal dalam putaran pertama Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta yang digelar, Rabu (15/2/2017).
Agus-Sylvi justru terkulai lemas tak berdaya di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) strategis dan bergengsi. Bahkan, Agus dan Sylvi harus mengakui kedigdayaan dua pasangan calon lain yang mampu membobol benteng mereka.
Betapa tidak, sang “Pangeran Cikeas” beserta pasangannya, terjerembab di TPS 6 RT/RW03, Jalan Cibeber I, Kelurahan Rawa Barat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Padahal di TPS itulah Agus beserta istri, Annisa Pohan, memberikan hak suaranya.
Agus-Sylvi hanya mampu meraup 127 suara di TPS tersebut. Adalah pasangan pasangan calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) yang sukses membobol benteng Agus.
"Hasil akhir penghitungan surat suara yang kami lakukan, Ahok-Djarot menang dengan 286 suara,” tutur petugas KPPS TPS 06, Immanuel Partogi, Rabu sore.
Agus-Sylvi kembali harus berlapang dada ketika petugas KPPS TPS 103 103 di Kavling Marinir, Kompleks Billymoon, Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, mengumumkan hasil akhir perhitungan surat suara.
Pasangan itu hanya mampu mengumpulkan 88 suara di TPS tempat Sylvi mencoblos tersebut. Lagi-lagi, pasangan calon petahana yang membobol. Ahok-Djarot sukses menggondol 248 suara. Anies-Sandi juga kebagian jatah sebagai pemenang kedua di TPS Mpok Sylvi, yakni 150 suara.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI, hingga Kamis (16/2/2017), masih melakukan penghitungan perolehan suara, untuk menentukan siapakah pemenang pilkada dan apakah kontes politik demokratis ini harus berlanjut hingga putaran kedua.
Namun, sejumlah lembaga survei sudah memublikasikan hasil hitung cepat Pilkada Jakarta. Hasilnya juga sama mirisnya: Agus-Sylvi berada di posisi ketiga dari tiga pasang kandidat.
Tragedi Hari Valentine
Peneliti lembaga Lingkaran Survei Indonesia Denny JA, Ade Mulyana, menilai efek pernyataan mantan Ketua KPK Antasari Azhar, Selasa (14/2/2017), persis saat para ABG merayakan Hari Valentine atau hari kasih sayang itu, menjadi salah satu faktor yang memicu perolehan suara Agus-Sylviana terpuruk.
"Mengapa Agus-Sylvi kalah? Pertama, karena ada efek Antasari. Antasari menuduh SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) sebagai inisiator kriminalisasi dirinya. Kemudian diberitakan secara meluas pada H-1 pencoblosan, bahkan SBY langsung konferensi pers untuk membantah. Namun, efek elektoralnya tetap buruk untuk AHY," kata Ade di kantor LSI Denny JA, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu malam.
Faktor lain yang mengakibatkan Agus-Sylvi meraih suara paling sedikit dibandingkan dua rival, kata Ade, ekonomi. Maksudnya, pendukung Agus-Sylviana yang umumnya masyarakat berekonomi lemah tidak ikut datang ke tempat pemungutan suara karena memprioritaskan pekerjaan.
"Ada alasan ekonomi, pendukungnya mayoritas bekerja sebagai buruh harian, mereka lebih mengutamakan bekerja, karena jika ke TPS, maka upaya hariannya akan hilang, mereka tidak mau itu," katanya.
Faktor lainnya lagi, menurut Ade adalah, kekurangsiapan Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta. Itu sebabnya, Ade meminta KPU setempat berbenah dengan menjadikan pengalaman pilkada putaran pertama sebagai pelajaran.
"Kalau alasan politiknya, masih rendahnya kesadaran politik dari masyarakat, karena lebih mementingkan kebutuhan dasar," kata Ade.
Namun, Agus yang digadang-gadang sebagai penerus SBY sebagai tokoh politik terkemuka, tampaknya tak perlu terlalu risau. Ia masih banyak kesempatan di lain waktu. Setidaknya, itulah penilaian Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, yang pernah menjadi kompatriot ayahandanya dulu.
"Kalau nomor satu (Agus Harimurti-Sylviana) masih mudalah, masih ada kesempatan nanti," tutur wapres yang beken disebut JK ini.
Menurut JK, Agus-Sylvi relatif masih “hijau” dalam dunia politik dibandingkan Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi. Karenanya, kekalahan Agus-Sylvi tidak bisa serta-merta diartikulasikan sebagai tak lakunya poros politik Cikeas.
Bisa jadi kekalahan itu hanya lantaran “sang pangeran” belum mendapat giliran dari dua seniornya. “Ini sepertinya berdasarkan senioritas," tandas Kalla.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
Wamensos Minta Aceh Utara Penuhi Syarat Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen
-
Di Aceh, Ratusan Calon Siswa Terjangkau Masuk Sekolah Rakyat
-
Ungkit Jasa Misi PBB, 4 Anggota BAIS Penyiram Air Keras Andrie Yunus Minta Hukuman Ringan
-
Pemerintah Pusat dan DPR RI Sepakati Pengelolaan ASN Harus Selaras dengan Kesiapan Fiskal Daerah
-
Pastikan MBG Berbasis Sains, Nanik S Deyang Rekrut Profesor Gizi Masuk Jajaran BGN
-
Otto Hasibuan Digugat! Jabatan Wamenko dan Ketum PERADI Dinilai Tabrak Putusan MK
-
'Kita Kerjakan Bersama', Terkuak Rapat Gelap 4 Anggota BAIS TNI Sebelum Siram Air Keras Andrie Yunus
-
Sita Uang Ratusan Juta Saat OTT, KPK Bawa Bupati Muara Enim ke Jakarta Besok
-
Ismail Menangis, Asrul Bertongkat: Dua Bos Travel Resmi Ditahan KPK Kasus Kuota Haji
-
KPK Dalami Fakta Sidang Raffi Ahmad Titip iPhone 17 dari AS, Siap-siap Diperiksa?