Suara.com - Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) menggelar sidang kode etik penyelenggara Pemilu dengan teradu Ketua Komisi Pemilihan Umum Jakarta Sumarno. Sidang digelar di Ruang Pustaka Loka, Gedung Nusantara IV, DPR, Jakarta, Kamis (30/3/2017).
Sumarno memberikan keterangan terkait aduan dari Perkumpulan Cinta Ahok (Cinhok) ke DKPP dengan nomor pengaduan 119/n-p/L-DKPP/2017.
Aduan itu berisi tentang dugaan ketidaknetralan karena Sumarno terlibat pembicaraan dengan calon gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Serta, dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan Sumarno karena memasang foto aksi 212 di layanan mengobrol telepon seluler, WhatsApp. Serta, perlakuan berbeda dari KPU DKI Jakarta saat rapat pleno KPU DKI Jakarta yang tidak menemui Ahok-Djarot namun malah makan malam dengan Anies-Sandi.
Sumarno memulai klarifikasinya terkait pertemuannya dengan Anies Baswedan di Tempat Pemungutan Suara 29 di Kalibata pada 19 Februari 2017. Dia bercerita, pertemuan itu tidak disengaja dan tidak bisa dihindarkan.
"Saat di sana (di TPS), ada yang menginformasikan bahwa Pak Anies juga hadir. Tetap karena situasi yang ada, saya bertemu. Sebab, di sebelah persis satu-satunya tempat untuk menghindar adalah ke sebelah kiri, yaitu kuburan. Tapi saya tidak elok untuk pergi ke situ untuk menghindar, maka pertemuan itu tidak bisa dihindarkan. Setelah Pak Anies dekat di TPS, dalam konteks relasi kemanusiaan saya menyalami beliau dan menyapa," kata Sumarno memberikan kesaksian.
Dia menegaskan, pertemuan dengan Anies ini tidak disengaja, dilakukan di tempat terbuka dan disaksikan banyak orang. Sumarno mengatakan pertemuan itu tidak lama, hanya sekitar 10 menit.
"Dia bertanya mengapa terjadi penghitungan suara ulang, dan berapa banyak PSU yang ada di DKI Jakarta," kata Sumarno menyontohkan pertanyaan Anies saat itu.
Sumarno kemudian menjelaskan kepada Anies. Dia menerangkan PSU terjadi karena adanya rekomendasi Badan Pengawas Pemilu karena adanya pemilih yang menggunakan formulir C6 tidak pada tempatnya. Kemudian, sambungnya, PSU terjadi di dua lokasi, yaitu di TPS 29 Kalibata, Jakarta Selatan dan TPS 01 Utan Panjang, Jakarta Pusat.
"Dia kemudian pamit untuk agenda lain, dan setelah itu wartawan yang ada di sana bertanya, apakah ini ada janjian? Saya katatakan, tidak. Saya tidak punya kontaknya, dia tidak punya kontak saya. Pertemuan ini dilakukan secara kebetulan dan dilakukan di tempat terbuka," kata Sumarno.
"Dan, pertemuan itu tidak mempengaruhi netralitas, keberpihakan dan independensi saya," kata dia.
Sumarno kemudian melanjutkan klarifikasinya soal memasang foto aksi 212 di layanan mengobrol telepon seluler, Whatsapp. Menurutnya, pemasangan foto ini tidak ada kaitanya dengan Pilkada Jakarta. Dia lebih melihat foto ini dari segi estetikanya.
"Itu semata-mata ketertarikan dari sisi estetika, tidak ada afiliasi politik. Jadi ini cukup Indah, karena Monas di foto dari udara dan di bawahnya terhampar lautan massa berbaju putih. Itu belum pernah terjadi. Dan foto itu sudah tersebar di media massa, media sosial. Saya dapat itu juga dari grup WA," kata dia.
Dia beranggapan, aksi 212 ini tidak ada kaitannya dengan politik tertentu karena merujuk dari pernyataan Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.
"Dan, pada waktu Jumat (212) saya beserta komisioner sedang melakukan rapat koordinasi persiapan logistik persiapan Pilkada. Kami berkesimpulan aksi 212 hanyua doa bersama," tuturnya.
Sumarno juga dilaporkan karena dianggap memberikan perlakuan berbeda saat rapat pleno rekapitulasi Pilkada DKI Jakarta pada 4 Maret 2017. KPU DKI Jakarta dianggap menelantarkan pasangan Ahok-Djarot dan malah makan malam bersama dengan Anies-Sandi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah Alternatif Redmi Note 15 5G, Spek Tinggi buat Multitasking
- 5 Mobil Toyota Dikenal Paling Jarang Rewel, Ideal untuk Mobil Pertama
- Denada Akhirnya Akui Ressa Anak Kandung, Bongkar Gaya Hidup Hedon di Banyuwangi
- 6 Moisturizer Pencerah Wajah Kusam di Indomaret, Harga di Bawah Rp50 Ribu
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
Pilihan
-
Pintu Langit Dibuka Malam Ini, Jangan Lewatkan 5 Amalan Kunci di Malam Nisfu Syaban
-
Siapa Jeffrey Hendrik yang Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI?
-
Harga Pertamax Turun Drastis per 1 Februari 2026, Tapi Hanya 6 Daerah Ini
-
Tragis! Bocah 6 Tahun Tewas Jadi Korban Perampokan di Boyolali, Ibunya dalam Kondisi Kritis
-
Pasar Modal Bergejolak, OJK Imbau Investor Rasional di Tengah Mundurnya Dirut BEI
Terkini
-
Babak Baru Kasus Korupsi Minyak Pertamina, Polri Terbitkan Red Notice Riza Chalid
-
Resmi! Bahar Bin Smith Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan Anggota Banser di Tangerang
-
Waspada Virus Nipah Mengintai! Kemenkes Ingatkan Jangan Konsumsi Nira Aren Segar dari Pohon
-
Epstein Files Sebut Donald Trump 'Dikooptasi' Israel, Singgung Dalang Proyek Gaza
-
Tak Berizin, KKP Musnahkan 796 Kg Kulit Hiu dan Pari Milik Perusahaan Asing di Banyuwangi
-
Registrasi Akun SNPMB Sekolah 2026 Diperpanjang, Cek Syarat-syaratnya!
-
Geger Penemuan Mayat Pria Tanpa Identitas di Tumpukan Sampah Kali Mookervart
-
Operasional RDF Rorotan Dilakukan Bertahap, Warga Diminta Tak Khawatir Bau
-
Profil Jeffrey Epstein: Kekayaan, Kasus Predator Seksual dan Hubungannya dengan Trump
-
Kemenag Klaim Kesejahteraan Guru Agama Prioritas Utama, Tunjangan Profesi Naik Jadi Rp2 Juta