Suara.com - PMA (15) merupakan anak dari tujuh bersaudara. PMA tak lain korban kasus persekusi pertama yang menimpa bocah.
Ibu dari PMA merupakan seorang janda. Anak-anaknya masih bersekolah, kecuali dua di antaranya yang masih balita.
Informasi ini diketahui setelah Menteri Sosial Khofifah Parawansa menjenguk PMA dan keluarga yang dilindungi di Rumah Perlindungan Sosial Anak Bambu Apus, Jakarta Timur. Mereka dilindungi karena trauma.
Khofifah dan Tahir Foundation berkomitmen untuk membantu meringankan beban keluarga PMA.
Khofifah mengimbau semua orangtua belajar dari kasus PMA dengan lebih memberikan bimbingan kepada anak di era digital.
"Mudah-mudahan revolusi digital menggerakkan ibu-ibu untuk dan membimbing anak-anak mereka agar jangan sharing sebelum disaring (di media sosial)," kata Khofifah.
Kasus yang dialami warga Cipinang, Jakarta Timur, tersebut mengemuka setelah video persekusi kepada PMA viral di media sosial. PMA dipersekusi usai dengan digeruduk massa dan dianiaya pada tengah malam gara-gara status Facebook yang menyinggung pendukung Habib Rizieq Shihab.
"Walau demikian persekusi, khususnya kepada anak di bawah umur, tidak bisa dibenarkan," katanya.
Menurut Khofifah hal tersebut seharusnya dapat dipahami, mengingat PMA masih di bawah umur dan belum mengerti pertimbangan dampak unggahannya di Facebook
"Kita doakan bersama agar keluarga korban segera pulih pasca pendampingan dan tidak ada lagi persekusi lain di Indonesia #StopPersekusi," katanya.
Southeast Asia Freedom of Expression Network (Safenet) mencatat sebanyak 59 orang menjadi target persekusi atau pemburuan akun yang dianggap telah menghina ulama dan agama di media sosial. Safenet merupakan jaringan relawan kebebasan ekspresi di Asia Tenggara.
"Sampai sekarang sudah 59 orang yang ditarget dengan tindakan persekusi ini. Kalau dilihat-lihat dari sebarannya sudah merata, nggak ada area yang tidak tercover dari persekusi ini," ujar Regional Coordinator Safenet Damar Juniarto dalam konferensi pers di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jalan Pangeran Diponegoro, nomor 74, Jakarta Pusat, Kamis (1/6/2017).
Data tersebut tercatat dari bulan Januari 2017 hingga Mei 2017.
Wilayah Jawa Barat merupakan wilayah yang paling banyak terdapat aksi persekusi. Hingga saat ini, Safenet masih menghimpun data dari daerah tersebut.
"Tapi memang kalau lihat intensitas Jawa Barat merupakan tempat yang paling banyak dilakukan persekusi," kata Damar.
"Besar kemungkinan karena data ini masih berkembang dan kita masih mengumpulkan, mungkin jumlahnya akan bertambah dan lebh luas," Damar menambahkan.
Damar mengatakan pelaku persekusi target utamanya orang-orang yang menulis status di di sosial media dan kontennya berbeda pendapat dengan mereka.
Contoh kasus yang baru saja terjadi dialami dokter RSUD Kota Solok, Sumatera Barat, Fiera Lovita. Dalam acara konferensi pers di YLBHI, Fiera turut hadir.
"Postingan miring ini sebuah triminologi yang bebas diartikan oleh para pelaku, bisa saja itu dianggap menghina ulama, agama dan intinya merka nggak suka dengan postingan oleh orang-orang ini," ujar Damar.
Korban persekusi menyasar semua kalangan, terutama mereka yang dianggap lemah atau tidak memiliki kekuatan.
"Jumlahnya merata, laki-laki atau permupan sama saja, yang paling muda 15 tahun korbannya," kata dia.
Safenet menyebut aksi persekusi sebagai Efek Ahok (The Ahok Effect).
Persekusi muncul sejak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dipidanakan dengan pasal penodaan agama, lalu tejradi kenaikan drastis pelaporan menggunakan Pasal 28 ayat 2 UU ITE.
Setelah Ahok divonis bersalah, muncul tindakan persekusi atau pemburuan atas akun-akun yang dianggap menghina agama atau ulama di media sosial.
Berita Terkait
-
Heboh Sepatu Rp 700 Ribu untuk Siswa Sekolah Rakyat, Gus Ipul Bongkar Faktanya!
-
Soroti Doxing dan Persekusi, Prof Ani: Rakyat Belum Bebas dari Rasa Takut
-
ASN Jawa Timur Resmi WFH Setiap Hari Rabu, Kenapa Pilih di Tengah Pekan Ya?
-
Khofifah Jadi Saksi Kasus Hibah Pokir DPRD Jatim
-
Klarifikasi Mekanisme Dana Hibah, KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Khofifah 12 Februari
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
Terkini
-
Niat Mulia Berujung Duka: Pria Berbaju Koko Tewas Dihantam KRL Saat Lerai Tawuran di Duren Sawit
-
Alibi Janggal Anggota BAIS Penyiram Air Keras Andrie Yunus saat Diinterogasi Atasan
-
Serangan Israel ke Lebanon Selatan Tewaskan 2.702 Orang, Lukai Ribuan Warga Sipil Sejak Maret
-
Mendagri: Penghargaan Daerah Jadi Instrumen Tampilkan Kinerja Nyata Kepala Daerah
-
Jadi Tersangka, Pengemudi Pajero Sport Penabrak Pedagang Buah di Kalimalang Tak Ditahan
-
Donald Trump akan Bahas Taiwan dengan Xi Jinping di Beijing
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
UU Guru dan Dosen Digugat ke MK, 'Pahlawan Tanpa Tanda Jasa' Digaji di Bawah UMR
-
DPR Sebut Aspirasi Publik soal Reformasi Polri Sudah Terangkum di KUHAP Baru
-
Viral Wisatawan Jatuh dari Ayunan Tebing, Korban Sempat Teriak: Tali Tidak Kencang!