Suara.com - Korban Banjir yang menerjang wilayah timur laut India Bertambah. Setelah tercatat 28 orang tewas pada 11 Juli lalu, saat ini jumlah korban tewas melonjak hingga 83 orang.
Selain itu, banjir juga menyebabkan matinya tiga ekor badak bercula satu di sebuah taman nasional yang memiliki konsentrasi spesies terbesar di dunia.
Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat di daerah perbukitan Assam, Arunachal Pradesh, Nagaland dan Manipur selama dua minggu terakhir itu, juga memicu tanah longsor. Di seluruh tempat itu lebih dari 2 juta orang telah mengungsi, pihak berwenang mengatakan.
"Assam adalah daerah yang paling parah dilanda banjir dan 53 nyawa hilang sejauh ini dalam banjir dan tanah longsor dengan sekitar 2 juta orang mengungsi," kata Menteri Kepala Assam Sarbananda Sonowal kepada Reuters.
"Operasi pertolongan dan penyelamatan akan dilakukan dalam pijakan perang." Perdana Menteri Narendra Modi telah mengirim sebuah tim pejabat pemerintah federal, yang dipimpin oleh menteri dalam negeri junior Kiren Rijiju, untuk menilai kerusakan tersebut.
Sungai Brahmaputra yang meluap juga telah benar-benar merusak suaka margasatwa Kaziranga di Assam, yang memaksa hewan untuk melarikan diri ke daerah yang lebih aman.
Badak bertanduk satu tenggelam pada Jumat, membuat jumlah korban hewan yang terancam punah dalam banjir menjadi tiga orang, kata Menteri Kehutanan Assam, Pramila Rani Brahma, kepada Reuters.
Taman Nasional Kaziranga, sebuah situs warisan dunia UNESCO, merupakan rumah bagi sekitar 2.500 badak dari sekitar 3.000 populasi dunia.
Hampir 60 hewan lainnya, kebanyakan rusa dan babi hutan, tewas dalam banjir, katanya.
Banjir di kawasan utara India itu memaksa 1,5 juta orang mengungsi. Air di sungai Brahmaputra, yang mengalir dari China menuju India dan Bangladesh, melewati batas ketinggian bibir sungai setelah hujan lebat.
Perdana Menteri Narendra Modi menyatakan duka cita terhadap keluarga korban, sementara ribuan orang mencari perlindungan di lebih dari 300 tempat penampungan darurat. Di sisi lain, pejabat setempat menyatakan "kewaspadaan tertinggi terhadap bahaya kesehatan" untuk menghentikan penyebaran penyakit.
Upaya besar juga dilakukan untuk menyelamatkan badak bercula satu dan hewan liar lain, yang berada dalam bahaya, saat banjir menggenangi Taman Nasional Kaziranga, kata badan PBB, UNESCO.
"Lebih dari 90 persen wilayah Taman Nasional Kaziranga kini terendam air," kata Menteri Kehutanan negara bagian Assam, Rani Brahma, kepada Reuters.
Taman seluas 430 km persegi itu adalah habitat bagi 2.500 badak bercula satu.
Hewan kini mengungsi di daratan tinggi, termasuk pegunungan di luar wilayah taman, kata dia.
Namun, saat hewan itu pindah ke daerah lebih tinggi untuk menghindari banjir, mereka rentan menjadi korban para pemburu binatang langka.
Mereka juga semakin berpotensi menjadi korban tabrakan oleh kendaraan jika hewan itu berlindung di jalanan.
"Barikade khusus telah dipasang di jalan-jalan utama dan para penjaga hutan sudah meminta pengendara untuk memacu kendaraan mereka di bawah kecepatan 40 km per jam," kata penjaga kawasan taman nasional.
Ketinggian air di sungai Brahmaputra diperkirakan terus naik hingga akhir pekan ini sebelum kembali ke tingkat normal, kata Komisi Pusat Perairan. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik
-
BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tak Saling Salahkan soal Asap Karhutla